• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


NKRI : Model Negara Bhinneka Yang Rukun, Damai & Bersatu

Sabtu sore (10/2/2018) di Istana Kepresidenan Bogor (Jawa Barat), Presiden RI Joko Widodo bersilahturahmi dengan para Peserta Musyawarah Besar Pemuka Agama Untuk Kerukunan Bangsa.  “Setiap saya bertemu dengan Kepala Negara, Kepala Pemerintahan, baik itu Raja, Presiden, maupun Perdana Menteri dari negara-negara sahabat, saya merasa bangga dan saya kira, kita semuanya merasa bangga bahwa beliau-beliau selalu menyanjung, selalu menyanjung Indonesia dan selalu menyampaikan terima kasih kepada Negara kita Indonesia,” papar Presiden RI Joko Widodo di depan Peserta Musyawarah Besar Pemuka Agama Untuk Kerukunan Bangsa di Istana Kepresidenan Bogor, Sabtu (10/2/2018). (Setkab RI, 10/2/2018).

Negara-Bangsa RI selalu disanjung dan menjadi contoh negara dengan masyarakat sangat majemuk, damai, rukun, dan bersatu. “Mengapa Indonesia disanjung? Karena Indonesia-lah contoh masyarakat yang majemuk, masyarakat yang beragam, yang penuh toleransi dan kebersamaan...Karena Indonesia-lah contoh masyarakat muslim yang mengedepankan Islam moderat. Karena Indonesia-lah contoh keberhasilan menjaga Bhinneka Tunggal Ika... Karena para tokoh masyarakat dan pemuka-pemuka agama selalu mengedepankan dialog, mengedepankan musyawarah dengan penuh kesabaran. Karena Indonesia adalah rumah bersama bagi seluruh Rakyat yang begitu majemuk. Dan karena Indonesia mempunyai Pancasila yang menjadi rumah bersama kita,” (Setkab RI, 10/2/2018).

Menurut Prof. Dr. Azyumardi Azra, Negara RI menjadi satu-satunya model kehidupan Bangsa dan Negara mayoritas Islam yang damai, rukun, harmoni, dan bersatu, karena 3 (tiga) faktor pokok. Yakni pertama, corak Islam masyarakat Indonesia sudah mengalami vernakularisasi, indigenisasi, dan kontekstualisasi; kedua, Islam datang ke Nusantara, bertemu dengan budaya-budaya lokal, suku-suku, dan tradisi-tradisi sosial-budaya yang memberi ruang akomodasi, saling menerima, tenggang-rasa, dan saling tepo seliro; ketiga, kelima sila dalam dasar Negara RI, Pancasila, kompatibel dengan Islam.

“Saya kira, Negara RI merupakan satu-satunya model Negara berpenduduk mayoritas hampir 90% Islam, secara umum kehidupannya berlangsung damai, rukun, harmoni, bersatu. Sejak zaman Belanda dengan datangnya agama Kristen, tidak pernah ada perang antar-agama, antar-suku yang luas dan lama,” papar Prof. Dr. Azyumardi Azra kepada Staging-Point.Com, Sabtu (7/4/2018) di Rumah Kediaman Puri Lestari 2 Blok C No. 23, Kertamukti, Cirendeu, Jakarta.

Prof. Dr. Azyumardi Azra menambahkan bahwa ada tiga faktor utama terciptanya kehidupan Negara-Bangsa RI sebagai model negara bhinneka dengan mayoritas Islam yang damai, rukun, harmoni dan bersatu. “Pertama, Islam yang datang ke Indonesia pada awalnya mengalami vernakularisasi. Artinya, konsep Islam yang dijelaskan dengan bahasa lokal. Sehingga Islam lebih bisa terinternalisasi, mengalami indigenisasi, pribumisasi dengan adopsi budaya-budaya lokal yang beragam-ragam itu. Berikutnya, kontekstualisasi. Jadi Islam dikontekskan dengan realitas dan dinamika  masyarakat Indonesia. Itu saya sebut corak Islamnya sudah mengalami vernakularisasi, indigenisasi, dan kontekstualisasi,” ungkap Prof. Dr. Azyumardi Azra.

Faktor kedua kehidupan Negara-bangsa RI yang mayoritas 90% Islam, berlangsung damai, rukun, harmoni, dan bersatu karena ada ruang akomodasi, saling menerima, dan tepo seliro dengan suku dan budaya lokal yang beragam. “Kedua, Islam datang ke Indonesia bertemu dengan budaya lokal, suku, tradisi sosial budaya yang umumnya memberi ruang besar proses akomodasi, saling menerima, saling tepo seliro, saling tenggang rasa, meskipun suku-sukunya beragam. Ini dimungkinkan karena sebelum ada mobil, pesawat udara, suku-suku Bangsa di Indonesia berinteraksi melalui pelayaran. Kita beruntung karena kita tinggal di benua maritim, orang berlayar dari satu tempat ke tempat lain. Mereka bisa berinteraksi dan tercipta budaya saling menerima akomodasi antar berbagai suku itu,” papar Prof. Dr. Azyumardi Azra.

Kedua faktor tersebut di atas, menurut Prof. Dr. Azyumardi Azra, melahirkan model Islam dan budaya-budaya Indonesia yang menekankan keselarasan, keharmonisan, dan kedamaian. Berikutnya, pilihan dasar Negara RI, lima sila Pancasila, kompatibel dengan Islam. “Di Negara RI, kita memiliki Dasar Negara Pancasila. Kelima silanya kompatibel dengan Islam. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa sesuai dengan tauhid. Jadi, dasar negara Pancasila diyakini, dipandang cocok dengan Islam,” ungkap Prof. Dr. Azyumardi Azra.

Prof. Dr. Azyumardi Azra menyebut contoh-contoh, bagi NU (Nahdlatul 'Ulama) sejak 1955, NKRI adalah sebuah sistem politik yang sudah Islami; Presidennya sudah Waliyul ‘Amri; Kepala Negara sesuai dengan ketentuan Islam. “Sementara Muhammadiyah mengatakan NKRI sebagai Darul Ahdi wa Syahadah, rumah kesepakatan dan perjanjian kesepakatan, tempat masyarakat Indonesia yang beragam, Muslim dan Non-Muslim, membikin perjanjian yang disepakati. Jadi NKRI itu yang kita terima. Kalau bentuk negara Indonesia sudah Islami, sebagai bentuk negara perjanjian kesepakatan berbagai masyarakat Indonesia yang berbeda agama, meskipun mayoritas muslim dan dengan kesaksian Darul Ahdi wa Syahadah. Pokoknya NKRI dengan UUD 1945 yang diamandemen itulah bentuk yang final,” papar  Prof. Dr. Azyumardi Azra.

Sejak tragedi serangan teroris ke menara kembar World Trade Center (New York, Amerika Serikat), dan Pentagon, Arlington (Virginia, Amerika Serikat) 11 September 2001, Prof. Dr. Azyumardi Azra selalu diundang oleh lembaga pemerintah dan universitas ke Eropa, Amerika Serikat, Vatican, House of Lords (London, Inggris) dan Amerika Latin untuk mengembangkan Islam yang inklusif, aman, damai, dan toleran. “Ini tuntutan yang berkembang di masyarakat dunia untuk mengembangkan Islam Model Indonesia,” ujar Prof. Dr. Azyumardi Azra.

Maka ke depan, menurut Prof. Dr. Azyumardi Azra, perdamaian harus diperkuat oleh para ulama dan kepemimpinan masyarakat. “Perdamaian harus diperkuat secara terus menerus. Kepemimpinan masyarakat dan ulama dalam berbagai ormas Islam seperti MUI, Muhammadiyah, NU, ulama bebas yang tidak ikut ormas-ormas itu, memiliki peran penting. Jangan mengeluarkan pernyataan yang divisive, melenyapkan harapan masyarakat hidup lebih baik. Harus ada tanggung-jawab Kebangsaan. Jangan mementingkan kepentingannya sendiri. Kalau menjadi pejabat publik, jangan korupsi,” papar Prof. Dr. Azyumardi Azra.

Harapan dan visi tentang perlunya tetap memperkuat perdamaian juga disampaikan oleh Presiden RI Joko Widodo. Kepada Peserta Musyawarah Besar Pemuka Agama Untuk Kerukunan Bangsa di Istana Kepresidenan Bogor, Sabtu 10 Februari 2018, Presiden RI Joko Widodo merilis visi Bangsa Indonesia. “Visi kita, kita memang harus memperkokoh Pancasila, memperkokoh NKRI, memperkokoh Bhinneka Tunggal Ika kita. Tetapi visi kita juga ikut melaksanakan ketertiban dunia, memberikan kontribusi untuk perdamaian di negara-negara sahabat kita,” papar Presiden RI Joko Widodo, (Setkab RI, 10/2/2018).

Oleh Eko Budi Raharta

Penerbit


Dollar AS vs Xi-Diplomacy

Perang dollar AS vs Xi-Diplomacy belum memicu ke arah resesi global (lihat grafik). Bagi Rakyat dan Pemerintah Negara RI, pilihannya ialah kemitraan atau kerjasama melahirkan tata tertib dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, keadilan serta ramah lingkungan. Ini amanat Pembukaan UUD 1945. Ini pula peluang dan tantangan bagi Negara RI yang kini menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB hingga tahun 2021. ... Baca selanjutnya

img

Jurnal

Berita