• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Manfaat Teknologi Baru Reaktor Thorium

Ilmuwan Rusia pada School of Nuclear Science & Engineering, Tomsk Polytechnic University (TPU) sedang mengembangkan satu teknologi yang dapat menghasilkan reaktor-reaktor yang ‘high-temperature” dan “gas-cool low-power’, berbahan bakar thorium. Ilmuwan TPU memakai bahan bakar hasil perbauran (mixture) thorium dan plutonium dengan kualitas untuk persenjataan (weapons-grade plutonium) pada unit-unit reaktor guna mengubahnya ke energi panas (thermal energy) dan listrik (power) (Nuclear Engineering International, 29/1/2018).

Energi panas yang dihasilkan reaktor-reaktor thorium, dapat digunakan dalam produksi industri hidrogen. Teknologi ini membuka peluang desalinasi air. Hasil riset ahli TPU itu dirilis oleh Annals of Nuclear Energy (I.V. Shamanin et al, “Neutronic properties of high-temperature gas-cooled reactors with thorium fuel”, Annals of Nuclear Energy, 2017).

Reaktor thorium dapat digunakan di daerah tanpa air besar dan sungai, syarat utama bahkan keharusan jika membangun reaktor klasik. Misalnya, reaktor throrium dapat digunakan di daerah kering, atau di daerah terpencil seperti Siberia (Rusia) dan Arktik. “As a rule, a nuclear power plant is constructed on the riverside. Water is taken from the river and used in the active zone of the reactor for cooling. In thorium reactors, helium is used, as well as carbon dioxide (CO2) or hydrogen, instead of water. Thus, water is not required,” papar Associate Professor Sergey Bedenko dari School of Nuclear Science & Engineering, TPU (Tomsk Polytechnic University/TPU, 16/1/2018).

Menurut Bedenko, teknologi-teknologi daur-ulang dan pemrosesan-ulang saat ini masih menghasilkan limbah radio-aktif mengandung plutonium. Selama ini, plutonium kualitas senjata, sudah terakumulasi di era silam Soviet.  “Our technology tackles this problem as it allows 97% of weapons-grade plutonium to be burned. The main advantage of such plants is their multifunctionality,” papar Bedenko (Tomsk Polytechnic University/TPU, 16/1/2018).

Beberapa sisi keunggulan rancangan teknologi baru itu antara lain pabriknya dapat beroperasi pada kapasitas rendah (dari 60 MW). Reaktor thorium inti membutuhkan sedikit bahan bakar dan prosentase pembakarannya lebih tinggi, jika dibanding dengan reaktor-reaktor lain saat ini. Sisa pemrosesan plutonium kualitas senjata sebesar 3% tidak lagi memicu bahaya nuklir. Hasilnya, perbauran grafit, plutonium dan produk-produk yang membusuk, terbentuk, yang tidak bermanfaat. Limbah-limbah ini hanya dapat dikubur.

“The cost for storing this fuel is enormous, and it needs to be disposed of. In the US, it is chemically processed and burned, and in Russia, it is burned in the reactors. However, some amount of plutonium still remains, and it needs to be disposed of in radioactive waste landfills. Our technology improves this drawback since it allows burning 97% of weapons-grade plutonium. When all weapons-grade plutonium is disposed of, it will be possible to use uranium-235 or uranium-233 in thorium reactors,” papar Bedenko (TPU, 16/1/2018).

Teknologi baru itu ampuh membuang satu dari bahan-bahan radioaktif berbahaya; teknologi itu juga menghasilkan panas dan pembangkit listrik; serta membantu produksi hidrogen; air dapat didesalinasi pada reaktor-reaktor thorium. Para peneliti TPU itu menyatakan bahwa keunggulan reaktor-reaktor thorium ialah tingkat keamanannya tinggi, jika dibanding desain reaktor tradisional, efisiensi berkisar 40-50%, tanpa transisi fase pendingin, dan daya-tahan terhadap korosi meningkat. Reaktor thorium juga dapat menggunakan bahan bakar berbeda dan menyederhanakan manajemen penggunaan bahan bakar nuklir.

Reaktor nuklir mengkonsumsi isotope-isotope fisil khusus untuk menghasilkan energi, seperti uranium-235, plutonium-239, dan uranium-233. Reaktor nuklir berbasis thorium berbahan bakar fisil uranium-233 isotope. Sejak 2008, ahli energi nuklir tertarik menggunakan thorium sebagai bahan bakar nuklir, pengganti uranium. Ahli nuklir pada Georgia Institute of Technology (AS) meyakini, thorium dapat melahirkan generasi baru pembangkit nuklir yang lebih aman dan lebih bersih (Cooper, Nicolas/ Environmental Science, 2011: 6237–6238).

Thorium (nuklida radioaktif) pertama kali ditemukan tahun 1829 oleh Jons Jakob Berzelius, ilmuwan Swedia. Sekitar 90% bahan bakar thorium dapat bereaksi menghasilkan listrik. Sedangkan uranium hanya 3%-5%, sehingga limbah radioaktif dari reaktor thorium jauh lebih kecil. Data Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) tahun 2016 menyebutkan bahwa negara RI memiliki cadangan nuklir jenis thorium sekitar 280.000 ton. Perkiraan cadangan thorium dunia tahun 2007 berkisar 2.610.000 ton (Nuclear Energy Agency, June 2008). 

Oleh Illo Djeer

Penerbit


Anticipatory Democracy & Pemilu Tahun 2019

Risiko bencana skala nasional dan global kini seakan tidak peduli dengan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) vs Tiongkok (Chris. Rugabuer/AP, 29/10/2018) dan pembunuhan Jamal Khashoggi, kolumnis Washington Post, saat penjualan senjata AS ke Arab Saudi senilai 110 miliar dollar AS yang mencipta 500.000 ribu lapangan kerja di AS (Reuters, 30/1/2018). Tragedi dan ancaman bencana alam seakan tidak peduli dengan pertumbuhan ekonomi RI kuartal ke-2 tahun 2018 mencapai 5,27% per tahun (Reuters, 6/8/2018) atau lonjakan ekspor minyak sawit dari Negara RI sebesar 4,25 juta ton pada September dari 4,01 juta ton pada Agustus 2018 (Bernadette Christina Munthe/Reuters 19/10.2018). Begitu pula inflasi Negara RI sekitar 2,88% pada Juni 2018 dan 3,23% pada Mei 2018 (Reuters, 29/6/2018) dan defisit perdagangan RI menurun karena ekspor bat ubara September 2018 (Reuters, 12/10/2018). ... Baca selanjutnya

img

Jurnal

Berita