• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


RI dan “10 Negara Terkuat Tahun 2030”

Sejak Jumat 25 September 2015, “Tahun 2030” seakan-akan menjadi angka magis (magic number) di berbagai negara, termasuk Negara RI. Di Lake Success, Long Island (Amerika Serikat), pada Sidang Tahunan ke-70 dari 193 negara anggota PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) menyepakati visi tata dunia baru : “A New World Order” yang hendak diraih melalui cetak-biru 17 Sustainable Development Goals (SGDs) dan 169 target agar tata dunia atau negara-negara bebas dari kelaparan, kemiskinan, ketimpangan, dan risiko-risiko perubahan iklim (Lynn Grayson/Reuters, 5/10/2015; Belinda Goldsmith, 26/9/2015).

Dari Gedung Sabuga, Bandung (Jawa Barat) pada Peringatan Hari Lahir ke-58 PMII, Presiden RI Joko Widodo merilis hitung-hitungan Bank Dunia, lembaga rating Mckenzie dan kalkulasi Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) bahwa pada tahun 2030, Negara RI bakal termasuk 10 negara ekonomi terkuat di dunia. Jika kalkulasi itu tepat, maka pada tahun 2045, Negara RI bakal termasuk 4 negara ekonomi terkuat di dunia (Setkab RI, 17/4/2018).

Bagaimana membaca tanda-tanda Tahun 2030? Penduduk planet bumi berkisar 8 miliar jiwa tahun 2030. Tahun 1927, penduduk di dunia hanya 2 miliar jiwa. Tahun 2025, separuh penduduk dunia kesulitan mendapat air bersih. Tahun 2030, sekitar 50% kenaikan kebutuhan pasokan air di negara Asia dan Afrika (Water Resources Management, 1998: 167-184). Negara RI mengalami lonjakan penduduk tahun 1998-2016. Penduduk Pulau Jawa sekitar 5 (lima) juta jiwa 1815 menjadi lebih dari 130 juta jiwa awal abad 21 (Encyclopedia Britanica, 2013:1).

Kontrol terhadap emisi karbon (greenhouse-gas emissions) 2020 – 2035 sangat memengaruhi kenaikan permukaan laut dengan perkiraan kenaikan sekitar 20 cm jika tiap 5 tahun ada kontrol emisi karbon di berbagai negara. Begitu hasil analisis Potsdam Institute for Climate Impact Research akhir Februari 2018 (Science Daily, 20/2/2018).

Juli 2017, Potsdam Institute for Climate Impact Research merilis hasil riset bahwa kualitas hidup dan pertumbuhan sosial-ekonomi negara-negara Asia dan Pasifik dipengaruhi oleh perubahan iklim. Riset itu menyebut Asia dan Pasifik zona berisiko : “A Region at Risk: The Human Dimensions of Climate Change in Asia and the Pacific” (Science Daily, 14/7/2017).

Sektor-sektor berisiko yakni perikanan, keragaman-hayati kelautan, lahan, keamanan, perdagangan, migrasi, kesehatan, dan tata-kota. Negara RI bakal berisiko akibat ‘coastal flooding’ (sekitar 5,9 juta warga berisiko tiap tahun). Kerugian ekonomi skala global bakal naik menjadi 52 miliar dollar AS per tahun hingga 2050 dari 6 miliar dollar pada 2005.

Sekitar 13 dari 20 kota besar Asia dan Pasifik akan berisiko ‘annual flood losses’ (kerugian setiap tahun) periode 2005-2050, yakni Guangzhou, Shenzhen, Tianjin, Zhanjiang, dan Xiamen (Tiongkok); Mumbai, Chennai-Madras, Surat, and Kolkata (India); Ho Chi Minh City (Viet Nam); Jakarta (Negara RI); Bangkok (Thailand); dan Nagoya (Japan).

Tahun 2012, ahli di Universitas Veterinary Medicine (Vienna) dan Aarhus University (Denmark) membuat simulasi risiko kehidupan akibat perubahan iklim dan pemanasan global pada 1200 pulau di Asia Tenggara dan Pasifik. Kira-kira permukaan laut naik satu meter abad 21. Pulau Bintan di Negara RI dijadikan model skenario kenaikan permukaan laut (sea-level rise / SLR) 3 (tiga) meter (Global Change Biology, 13/6/2012).

Jika proyeksi kecenderungan kenaikan permukaan laut masih berlanjut seperti awal abad 21 ini, sekitar 13.000 situs arkeologis, termasuk lebih dari 1.000 properti budaya  yang telah terdaftar dalam National Register of Historic Places di zona tenggara Amerika Serikat, bakal terendam air laut sekitar 1 (satu) meter. Begitu hasil riset dan analisis David Anderson dari University of Tennessee, Knoxville, USA, dan koleganya (PLOS ONE,  29/11/2017).

Pada tahun 2015, indeks “Fragile States” dari The Fund for Peace (2016) memasukan Negara RI ke level “warning”, seperti Thailand, India, Tiongkok, Meksiko, Arab Saudi dan Israel berdasarkan indikator keamanan dan keselamatan, penegakan hukum, perlindungan hak-hak dasar Rakyat, nilai kemanusiaan, dan pembangunan sosial-ekonomi-lingkungan berkelanjutan. Jadi, pilihan investasi mengatasi risiko perubahan iklim dan pemanasan global harus menjadi prioritas Negara RI sebagai negara maritim dan batas negara sebagian besar di laut. 

Oleh Komarudin Watubun

Penerbit


Anticipatory Democracy & Pemilu Tahun 2019

Risiko bencana skala nasional dan global kini seakan tidak peduli dengan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) vs Tiongkok (Chris. Rugabuer/AP, 29/10/2018) dan pembunuhan Jamal Khashoggi, kolumnis Washington Post, saat penjualan senjata AS ke Arab Saudi senilai 110 miliar dollar AS yang mencipta 500.000 ribu lapangan kerja di AS (Reuters, 30/1/2018). Tragedi dan ancaman bencana alam seakan tidak peduli dengan pertumbuhan ekonomi RI kuartal ke-2 tahun 2018 mencapai 5,27% per tahun (Reuters, 6/8/2018) atau lonjakan ekspor minyak sawit dari Negara RI sebesar 4,25 juta ton pada September dari 4,01 juta ton pada Agustus 2018 (Bernadette Christina Munthe/Reuters 19/10.2018). Begitu pula inflasi Negara RI sekitar 2,88% pada Juni 2018 dan 3,23% pada Mei 2018 (Reuters, 29/6/2018) dan defisit perdagangan RI menurun karena ekspor bat ubara September 2018 (Reuters, 12/10/2018). ... Baca selanjutnya

img

Jurnal

Berita