• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Hotspot Turun 2016-2017: Faktor Alam dan Kinerja Satgas Karhutla

Hotspot (titik panas) turun drastis di zona Negara RI tahun 2016-2017. Tahun 2015, terdapat 21.929 hotspot kebakaran hutan di Negara RI. Tahun 2016, ada 3.915 hotspot kebakaran hutan di Negara RI dan tahun 2017, terdapat 2.567 hotspot di Negara RI. Menurut Presiden RI Joko Widodo, penurunan hotspot kebakaran hutan yang sangat signifikan merupakan keberhasilan penanganan kebakaran hutan dan lahan dari seluruh pihak dalam Satuan Tugas Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) tahun 2016-2017 (Setkab RI, 6/2/2018).

Menurut Prof. Dr. Ir. Bambang Hero Saharjo, M.Agr , dosen Institut Pertanian Bogor (IPB), penurunan jumlah hotspot (titik panas) tahun 2016-2017 di Negara RI karena adanya faktor alam dan kinerja tim penanganan kebakaran hutan mulai membaik. “Hotspot  itu titik panas dan bukan titik api. Saya mengapresiasi turunnya hotspot periode 2016-2017, bila dibandingkan dengan  tahun 2015. Harus diakui bahwa salah satu alasan mengapa hotspot (titik panas) tahun 2016-2017 secara signifikan adalah karena pada periode tersebut banyak turun hujan akibat La-Nina dan didukung sudah mulai membaiknya kinerja tim di lapangan,” papar Prof. Dr. Ir. Bambang Hero Saharjo, M.Agr kepada Staging-Point.Com, Sabtu (14/4/2018), melalui email.

Prof. Bambang Hero Saharjo menambahkan bahwa ada faktor manusia sebagai penyebab kebakaran hutan di Negara RI, maka upaya pencegahan kebakaran hutan perlu melibatkan masyarakat, pemerintah daerah, ahli kompeten, koperasi dan perusahan serta penegakan hukum sebenarnya terhadap pelaku pembakaran hutan dan lahan di Negara RI.

“Semua pihak sepakat bahwa hotspot harus dihentikan tanpa alasan apapun. Kegiatan pencegahan (kebakaran, red) harusnya benar-benar nyata dilakukan dan bukan cuma jargon belaka. Lakukan tindakan pencegahan yang sesungguhnya dan penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran hutan dan lahan dengan sebenarnya,” papar Prof. Dr. Ir. Bambang Hero Saharjo, M.Agr, yang meraih Master bidang Divisi Pertanian Tropis (Division of Tropical Agriculture) Kyoto University pada tahun 1996, tentang upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan serta penegakan hukum dalam kasus kebakaran hutan dan lahan di Negara RI.

Deteksi dini, menurut Presiden RI Joko Widodo, merupakan unsur penting dan upaya-upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan di Negara RI kini dan ke depan. “Deteksi dini harus terus dilakukan, dari pencegahan, ini yang paling penting... Kesiapan ketersediaan SDM dan peralatan harus terus dicek, diperhatikan, termasuk dalam pengaktifan satgas. Satgas ini sangat penting sekali, di tingkat provinsi, di tingkat kabupaten/kota, kecamatan, dan desa...Ini dicek lapangan, libatkan masyarakat dalam tindakan-tindakan pencegahan. Sekali lagi, pencegahan lebih penting. Kemudian penegakan hukum terhadap para pelaku pembakaran hutan dan lahan harus dilakukan secara tegas, tanpa pandang bulu, baik secara perdata maupun pidana,” papar Presiden RI Joko Widodo pada Rapat Koordinasi Nasional Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Tahun 2018, di Istana Negara (Jakarta), Selasa pagi (6/2/2018) (Setkab RI, 6/2/2018).

Secara umum, menurut Prof. Dr. Ir. Bambang Hero Saharjo, M.Agr, upaya penegakan hukum terhadap kasus dan pelaku kebakaran hutan dan lahan sudah membaik, namun belum maksimal. “Proses hukum terhadap pelaku kebakaran hutan dan lahan di Negara RI saat ini sudah membaik. Hanya saja belum maksimal. Karena berbagai tindakan yang  tidak lazim mulai digunakan, seperti melakukan gugatan perlidungan hukum, mengkriminalisasi ahli, dan menghadirkan ahli yang tidak berkompeten,” papar Prof. Dr. Ir. Bambang Hero Saharjo, M.Agr yang meraih S3 Tropical Forest Resources and Environment pada Division of Forest and Biomaterial Science, Kyoto University, tahun 1999. Prof. Dr. Ir. Bambang Hero Saharjo, M.Agr, menerima anugerah Tanda Kehormatan Satyalancana Karya Satya 10 tahun 2001 dan Canadian Forest Service Merit Award tahun 2004.

Kerjasama berbagai pihak, menurut Presiden RI Joko Widodo, menghasilkan efektivitas penanangan kebakaran hutan tahun 2016-2017 di Negara RI.  “Ini (kebakaran hutan, red) bisa kita cegah kalau kita bergerak bersama-sama. Jika kita bekerjasama, jika kita bekerja tidak rutinitas, jika kita bekerja menerapkan kecerdasan lapangan, banyak hal yang bisa kita capai. Saya kira ini akan efektif, kalau itu digunakan untuk organisasi yang ada, digunakan untuk menggerakkan masyarakat, menggerakkan perusahaan,” papar Presiden RI Joko Widodo pada Rapat Koordinasi Nasional Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Tahun 2018, di Istana Negara (Jakarta), Selasa pagi (6/2/2018) (Setkab RI, 6/2/2018). 

Oleh Fens Alwino

Penerbit


Anticipatory Democracy & Pemilu Tahun 2019

Risiko bencana skala nasional dan global kini seakan tidak peduli dengan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) vs Tiongkok (Chris. Rugabuer/AP, 29/10/2018) dan pembunuhan Jamal Khashoggi, kolumnis Washington Post, saat penjualan senjata AS ke Arab Saudi senilai 110 miliar dollar AS yang mencipta 500.000 ribu lapangan kerja di AS (Reuters, 30/1/2018). Tragedi dan ancaman bencana alam seakan tidak peduli dengan pertumbuhan ekonomi RI kuartal ke-2 tahun 2018 mencapai 5,27% per tahun (Reuters, 6/8/2018) atau lonjakan ekspor minyak sawit dari Negara RI sebesar 4,25 juta ton pada September dari 4,01 juta ton pada Agustus 2018 (Bernadette Christina Munthe/Reuters 19/10.2018). Begitu pula inflasi Negara RI sekitar 2,88% pada Juni 2018 dan 3,23% pada Mei 2018 (Reuters, 29/6/2018) dan defisit perdagangan RI menurun karena ekspor bat ubara September 2018 (Reuters, 12/10/2018). ... Baca selanjutnya

img

Jurnal

Berita