• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Nilai Strategis Konektivitas Area-Area Lindung Dari Negara

Konektivitas area-area yang terlindungi (Protected Areas/PAs) di setiap negara sangat bermanfaat dan krusial agar sasaran-sasaran pelestarian keragaman-hayatinya dapat tercapai. Area-area yang terlindungi dan terkoneksi dengan baik selalu membawa manfaat langsung bagi margasatwa. Misalnya, beruang coklat di pegunungan Cantabrian Range (Cordillera Cantábrica), utara Spanyol, yang nyaris punah dan terancam punah, akhirnya dapat lestari karena PAs. Dengan sistem PAs daerah itu, Pemerintah dan mitra negara lain membantu pelestarian beruang coklat dan mendukung konektivitas (pertukaran gen) antara dua populasi yang sebelumnya saling-terisolasi (Biological Conservation, 2018).

Begitu hasil riset dan kajian Saura, Santiago., Bertzky, B., Bastin, L. Battistella, Mandrici, A., Dubois, G.  yang merilis evaluasi global pertama guna meraih Aichi Target 11 dari Convention on Biological Diversity (CBD), perjanjian multilateral tentang sekurang-kurangnya 17% lahan yang merupakan area PAs pada tahun 2020 (CBD, 2018).

Para ahli dari Joint Research Centre (JRC) Komisi Eropa itu mengkaji seberapa baik sistem PAs berbagai negara di dunia guna mempromosi konektivitas yang menggunakan indikator Protected Connected (ProtConn). Fokus ProtConn ialah konektivitas PAs yang berada di wilayah kedaulatan atau yurisdiksi hukum suatu Negara.

Hasil riset ahli JRC menemukan bahwa secara global, hanya 7,5% area dari negara-negara di dunia yang tercakup dan tertutup oleh lahan-lahan yang terlindungi dan terkoneksi (ProtConn) atau separuh dari rata-rata lahan PAs global sebesar 14,7% dan hanya 30% negara memenuhi unsur konektivitas Aichi Target 11. Hasil riset para ahli JRC dirilis oleh Biological Conservation edisi Januari 2018.

Awal abad 21, sepertiga dari total 197 negara (termasuk Taiwan) dan separuh 28 negara anggota Uni Eropa, memenuhi target global PAs. Jumlah ini jauh di bawah target Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tahun 2020 yakni 17% lahan PAs merupakan ProtConn). Pengukuran ini merupakan perhitungan skala global pertama kali terhadap konektivitas sistem PAs terestrial pada level negara yang dilakukan oleh para ahli JRC (European Commission Joint Research Centre, 2018).

Area-area PAs seperti situs-situs Natura 2000 atau National Parks merupakan zona yang sangat penting atau kritis bagi pelestarian atau konservasi keragaman-hayati dan mendukung ‘human-wellbeing’ jangka panjang. Namun, jika PAs terisolasi satu sama lain, maka tidak mungkin atau sulit dapat meraih target dan sasaran pelestariannya.

Riset dan kajian para ahli JRC itu mengajukan sejumlah rekomendasi khusus kepada Pemerintah berbagai Negara di dunia guna meningkatkan PAs khususnya pada lokasi-lokasi strategis bagi konektivitas area-area yang terlindungi di negara masing-masing. Rekomendasi ahli JRC antara lain (a) meningkatkan cakupan PAs umumnya; (b) fokus pada lokasi-lokasi strategis konektivitas PAs; (c) menjamin permeabilitas lansekap tidak terlindungi antara PAs; (d) koordinasi tata-kelola lingkungan PAs dalam suatu negara; (e) koordinasi dengan PAs negara lain (EC JRC, 2018).

Kajian ahli-ahli JRC Komisi Eropa itu merupakan evaluasi perkembangan upaya mencapai target-target konektivitas PAs skala global dan menganalisis kekuatan dan kelemahan desain sistem PAs bagi konektivitas skala global dan nasional dari berbagai negara di dunia (Biological Conservation, 2018).

Khusus zona Uni Eropa, para ahli JRC itu menemukan bahwa jaringan kerja efektif dan fungsional dari sistem PAs dapat dilaksanakan di seluruh negara Uni Eropa dengan tiga prioritas strategi yakni pertama, melestarikan atau memulihkan alur-alur atau jalur-jalur arah perubahan alam (koridor-koridor alamiah) yang vital. Manfaatnya yakni spesies-spesies langka dan margasatwa dapat hidup dan survive dan proses-proses ekologis lainnya dapat terus mengalir melalui lahan-lahan tidak terlindungi yang memisahkan PAs-nya. Tentu saja ini membutuhkan perencanaan kebijakan sejumlah area dan sektor seperti agrikultur dan transportasi.

Kedua, koordinasi perencanaan konektivitas PAs antara negara-negara Uni Eropa merupakan hal esensial. Karena area-area penting dan strategis PAs lazimnya terletak di atau dekat perbatasan negara-negara; negara-negara itu bekerja sendiri-sendiri, beberapa negara Uni Eropa akhirnya hanya menjaga dan merawat konektivitas PAs skala kecil dan bukan skala wilayah luas yang justeru sangat dibutuhkan oleh pergerakan banyak spesies atau margasatwa dan aliran ekologis lainnya.

Ketiga, koordinasi tata-kelola konektivitas PAs berdekatan dalam negara-negara Uni Eropa. Manfaatnya ialah tercapainya efektivitas alur-alur pergerakan spesies dan margasatwa ke lahan lebih luas melalui area gabungan PAs yang berdekatan daripada hanya satu PAs. 

Oleh Illo Djeer

Penerbit


Anticipatory Democracy & Pemilu Tahun 2019

Risiko bencana skala nasional dan global kini seakan tidak peduli dengan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) vs Tiongkok (Chris. Rugabuer/AP, 29/10/2018) dan pembunuhan Jamal Khashoggi, kolumnis Washington Post, saat penjualan senjata AS ke Arab Saudi senilai 110 miliar dollar AS yang mencipta 500.000 ribu lapangan kerja di AS (Reuters, 30/1/2018). Tragedi dan ancaman bencana alam seakan tidak peduli dengan pertumbuhan ekonomi RI kuartal ke-2 tahun 2018 mencapai 5,27% per tahun (Reuters, 6/8/2018) atau lonjakan ekspor minyak sawit dari Negara RI sebesar 4,25 juta ton pada September dari 4,01 juta ton pada Agustus 2018 (Bernadette Christina Munthe/Reuters 19/10.2018). Begitu pula inflasi Negara RI sekitar 2,88% pada Juni 2018 dan 3,23% pada Mei 2018 (Reuters, 29/6/2018) dan defisit perdagangan RI menurun karena ekspor bat ubara September 2018 (Reuters, 12/10/2018). ... Baca selanjutnya

img

Jurnal

Berita