• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Algoritme Tingkatkan Peluang-Kerja

Profesor Dominik Hangartner, ahli kebijakan publik di Federal Institute of Technology Zurich (ETHZ Zurich, Swiss, Profesor Jeremy Weinstein dari Universitas Stanford (Amerika Serikat), dan kolaborasi tim riset pada Public Policy Group ETH Zurich (Swiss), berhasil membuat satu algoritme  baru untuk menentukan lapangan kerja per wilayah suatu Negara yang sesuai kemampuan dan karakter pencari kerja –usia, gender, asal-usul, dan bahasa.

Algoritme merupakan metode efektif untuk perhitungan, pemrosesan data, dan penalaran logis guna memecahkan satu kelompok masalah (a class of problem) (Rogers 1987:1-2). Uji-coba algoritme baru hasil karya Profesor Jeremy Weinstein dan Profesor Dominik Hangartner dilakukan terhadap para pengungsi-pencari kerja di Swiss tahun 1999-2013.

Jadi, sejak krisis pengungsi-pencari lapangan kerja pasca Perang Dunia II, untuk pertama kalinya satu model algoritme baru dapat membantu negara-negara Uni Eropa menempatkan pengungsi yang mencari lapangan kerja per wilayah sesuai dengan karakter pengungsi-pencari lapangan kerja. Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tahun 2016, 65,6 juta pengungsi-pencari kerja di seluruh dunia (Alex Shashkevich / Forbes, 22/1/2018).

Pendekatan algoritme baru berbasis data itu mampu meningkatkan penyerapan lapangan kerja bagi pengungsi di Swiss dari 15% ke 26% tahun 2015. Algoritme baru ini memberi rekomendasi konkrit tentang wilayah kerja mana saja di Swiss yang sangat mungkin diperoleh seorang pengungsi-pencari kerja di Swiss.

Awal abad 21, pengungsi dan pencari kerja tidak terintegrasi dalam pasar kerja di Swiss. Pengungsi dibolehkan bekerja di Swiss, hanya sesuai dengan pengisian form pengungsinya yang lebih banyak berdasarkan kebijakan Pemerintah. Para ahli dari ETHZ dan Universitas Stanford itu menemukan bahwa jika alokasi pengungsi-pencari kerja per wilayah terkelola dengan baik dengan integrasi pasar kerja, maka penyerapannya dapat meningkat dari 15% menjadi 26% di Swiss (Science, Vol. 359, 2018)

Para peneliti menggunakan satu metode dan mesin algoritme guna menganalisis data historis tentang penempatan pengungsi di Amerika Serikat dan Swiss. Hasilnya, penyerapan kerja bagi para pengungsi bergantung pada paduan karakter individualnya, seperti tingkat pendidikan dan kemampuan/pengetahuan berbahasa Inggris, dan wilayah penempatannya di Amerika Serikat dan Swiss. Pengungsi dengan latar-belakang khusus atau keahlian/pengalaman khusus selalu meraih penghasilan ekonomi lebih baik dari pengungsi lainnya.

Algoritme baru itu menempatkan para pengungsi-pencari kerja dengan proyeksi peluangnya mendapat kerja lebih meningkat sekitar 40-70% jika dibandingkan dengan tanpa penerapan algoritme baru itu. Hasil riset Profesor Jeremy Weinstein dan Profesor Dominik Hangartner dirilis oleh majalah Science edisi Januari 2018.

 “As one looks at the refugee crisis globally, it’s clear that it’s not going away anytime soon and that we need research-based policies to navigate through it. Our hope is to generate a policy conversation about the processes governing the resettlement of refugees, not just on the national level in the United States but internationally as well,” papar Jeremy Weinstein, ahli ilmu politik pada Stanford University (Alex Shashkevich / Forbes, 22/1/2018).

Tim ahli itu mengembangkan algoritme baru berbasis data sosial-ekonomi seperti status pekerjaan dan penempatannya dari 30 ribu pengungsi usia 18-64 tahun tahun 2011-2016 di Amerika Serikat. Tim peneliti itu juga memproses data pencari-suaka-kerja di Swiss periode 1999-2013. Hasilnya, peluang kerjanya mencapai 73% lebih tinggi bagi pencari-suaka-kerja tahun 2013 di Swiss, jika diarahkan penempatan wilayahnya berdasarkan algoritme baru itu.

“In a next step, the algorithm could be put into practice; it would be fairly straightforward to integrate it into the existing allocation process. Our goal is to use data and social sciences to propose solutions that improve the asylum process and refugees’ labour market integration. After all, having more refugees employed can also ease the financial burden on the Swiss government, cantons, and municipalities,” papar ketua tim riset, Profesor Dominik Hangartner, ahli kebijakan publik di ETH Zurich (Swiss) (ETH Zurich, 2018). 

Oleh Illo Djeer

Penerbit


Anticipatory Democracy & Pemilu Tahun 2019

Risiko bencana skala nasional dan global kini seakan tidak peduli dengan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) vs Tiongkok (Chris. Rugabuer/AP, 29/10/2018) dan pembunuhan Jamal Khashoggi, kolumnis Washington Post, saat penjualan senjata AS ke Arab Saudi senilai 110 miliar dollar AS yang mencipta 500.000 ribu lapangan kerja di AS (Reuters, 30/1/2018). Tragedi dan ancaman bencana alam seakan tidak peduli dengan pertumbuhan ekonomi RI kuartal ke-2 tahun 2018 mencapai 5,27% per tahun (Reuters, 6/8/2018) atau lonjakan ekspor minyak sawit dari Negara RI sebesar 4,25 juta ton pada September dari 4,01 juta ton pada Agustus 2018 (Bernadette Christina Munthe/Reuters 19/10.2018). Begitu pula inflasi Negara RI sekitar 2,88% pada Juni 2018 dan 3,23% pada Mei 2018 (Reuters, 29/6/2018) dan defisit perdagangan RI menurun karena ekspor bat ubara September 2018 (Reuters, 12/10/2018). ... Baca selanjutnya

img

Jurnal

Berita