• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Perkuat Peran Koperasi Dan Pemda Untuk Stabilitas Harga

Pada Rapat Terbatas (Ratas), Kamis sore (5/4/2018) di Kantor Presiden (Jakarta),  Presiden RI Joko Widodo merilis arah kebijakan tentang ketersediaan, pasokan, dan stabilitas harga bahan-bahan kebutuhan pokok Rakyat, khususnya saat bulan Ramadan dan Hari Raya Idulfitri 1439 Hijriah. “Mana yang harus mulai disiapkan mulai saat ini maupun nanti mendekati di bulan Ramadan, baik yang berkaitan dengan bahan-bahan pokok, kemudian Menteri ESDM (dan) Pertamina yang berkaitan dengan ketersediaan Bahan Bakar Minyak,” papar Presiden RI Joko Widodo pada Ratas, Kamis (5/4/2018) di Istana Presiden, Jakarta, (Setkab RI, 5/4/2018).

Rapat Terbatas, Kamis sore (5/4/2018) di Istana Presiden (Jakarta) itu, dihadiri oleh Wakil Presiden RI Jusuf Kalla, Menko Polhukam Wiranto, Menko Perekonomian Darmin Nasution, Menko PMK Puan Maharani, Menko Kemaritiman Luhut B. Pandjaitan, Mensesneg Pratikno, Seskab Pramono Anung, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, Menteri Perhubungan Budi K. Sumadi, Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri, Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro, Menteri BUMN Rini Soemarno, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, Menkominfo Rudiantara, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Menteri PANRB Asman Abnur, dan Kapolri Jenderal Tito Karnavian (Setkab RI, 5/4/2018).

Menurut Dr. Paulina Yuritha Amtiran, SE, MM, dosen pada Universitas Nusa Cendana (UNDANA), Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), siklus kenaikan harga jelang atau selama Hari Raya selama ini di Negara RI, selalu terjadi. Karena siklus kenaikan harga itu bergantung pada pasokan, ketersediaan bahan-bahan pokok, inflasi musiman, dan kontrol Pemerintah terhadap fluktuasi harga-harga, agak terbatas.

“Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa kenaikan harga bahan pokok itu selalu terjadi menjelang Hari Raya, khususnya Hari Raya umat Muslim, dan juga Hari Raya umat non-Muslim di Negara RI. Selama ini, hal itu sulit dicegah oleh Pemerintah. Karena harga-harga bahan-bahan pokok khususnya selalu naik secara musiman, seperti inflasi, inflasi musiman, pasokan, ketersediaan, dan distribusi bahan-bahan pokok. Pemerintah hanya bisa menerapkan kebijakan makro bahwa harga itu tidak melebihi kemampuan atau daya beli masyarakat. Maka perlu ada sistem dan cara kerja agar kenaikan harga-harga bahan pokok seperti beras, minyak goreng, gula, telur, daging, bawang, cabe, dan lain-lain, tidak terlalu tinggi yang berisiko merugikan Rakyat, khususnya masyarakat berpendapatan rendah,” papar Dr. Paulina Yuritha Amtiran, SE, MM, yang meraih S-3 bidang Manajemen Keuangan dari Universitas Padjajaran (Bandung) kepada Staging-Point.Com, 20 April  2018, di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, UNDANA, Kupang, NTT.   

Untuk stabilitas harga bahan pokok kini dan masa datang di Negara RI, menurut Dr. Paulina Yuritha Amtiran, Pemerintah perlu melibatkan koperasi dan peran Pemerintah Daerah (Pemda). “Kenaikan harga bahan pokok Rakyat tentunya berisiko bagi masyarakat ekonomi lemah. Karena daya-belinya rendah sehingga sulit memenuhi kebutuhan pokok. Misalnya, di kota Kupang, NTT, pekan lalu, harga cabe naik hingga Rp 50.000 per kg; harga di Kabupaten Rote dan Sabu mencapai kisaran Rp 55.000-60.000,-. Pemerintah Daerah perlu membuat inovasi program kebijakan, seperti koperasi Rakyat menanam bibit cabe untuk memasok kebutuhan pokok Rakyat,” ujar Dr. Paulina Yuritha Amtiran, penulis disertasi Pengaruh Faktor Makro Ekonomi, Ritme Pasar dan Resiko Politik Terhadap Ritme Saham di Bursa Efek Indonesia.

Apalagi kebutuhan pokok dikendalikan oleh pasar global, menurut Dr. Paulina Yuritha Amtiran, Pemerintah harus melibatkan koperasi-koperasi. “Secara global, kenaikan harga bahan pokok sulit dikontrol oleh Pemerintah berbagai negara. Solusinya ialah program makro Pemerintah guna meningkatkan daya-beli masyarakat melalui alokasi dana daerah dan desa secara tepat guna dan tepat sasar untuk peningkatan daya-beli Rakyat dan penetapan harga eceran tertinggi dengan pihak terkait, seperti pedagang tradisional, distributor, dan lain-lain. Koperasi menyediakan pasokan kebutuhan pokok, seperti koperasi cabe, koperasi beras, koperasi bawang, yang berbasis desa-desa atau daerah,” ungkap Dr. Paulina Yuritha Amtiran.

Dr. Paulina Yuritha Amtiran  menyarankan bahwa peran rentenir, tengkulak, dan calo dalam mata-rantai produksi hingga distribusi, harus diganti oleh koperasi-koperasi. “Dulu ada KUD (Koperasi Unit Desa) yang berbasis petani dan produsen. Kini petani dan produsen sulit berkembang karena permainan tengkulak, rentenir, dan calo yang kendalikan harga-harga. Menurut saya, Pemerintah harus libatkan koperasi-koperasi di level desa-desa agar tercapai stabilitas harga bahan pokok dan lebih penting lagi, peningkatan daya-beli Rakyat berbasis koperasi-koperasi,” papar Dr. Paulina Yuritha Amtiran. 

Oleh: Raf

Penerbit


Dollar AS vs Xi-Diplomacy

Perang dollar AS vs Xi-Diplomacy belum memicu ke arah resesi global (lihat grafik). Bagi Rakyat dan Pemerintah Negara RI, pilihannya ialah kemitraan atau kerjasama melahirkan tata tertib dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, keadilan serta ramah lingkungan. Ini amanat Pembukaan UUD 1945. Ini pula peluang dan tantangan bagi Negara RI yang kini menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB hingga tahun 2021. ... Baca selanjutnya

img

Jurnal

Berita