• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Musik Tradisi Bangsa Indonesia: Peran Pemerintah & Pendidikan

Kamis siang (9/3/2017), pada Peringatan Hari Musik Nasional Tahun 2017 di Istana Negara (Jakarta), Presiden RI Joko Widodo merilis harapan Pemerintah agar Musik Indonesia mendominasi ruang dan kalangan di Negara RI serta meraih pengakuan internasional sejak awal abad 21. “Bukan musik-musik dari Barat, bukan musik-musik dari negara yang lain. Inilah yang terus kita upayakan agar betul-betul menjadi tuan rumah yang mendominasi di negara sendiri, Indonesia,” papar Presiden RI Joko Widodo pada Pembukaan Musyawarah Nasional VII Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta Lagu dan Pemusik Republik Indonesia dan Peringatan Hari Musik Nasional Tahun 2017 di Istana Negara, Jakarta, Kamis siang (9/3) (Setkab RI, 2017).

Pada tanggal 9 Maret 2013 di Jakarta, Presiden RI Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono menetapkan Keputusan Presiden Republik Indonesia (Keppres) No. 10 Tahun 2013 tentang Hari Musik Nasional. Dasar hukum Keppres ini ialah Pasal 4 ayat (1) UUD 1945 bahwa “Presiden Republik Indonesia memegang kekuasaan pemerintahan menurut Undang-Undang Dasar.” Dasar pemikiran Keppres ini antara lain bahwa “ekspresi budaya yang bersifat universal dan multi dimensional yang merepresentasikan nilai-nilai  luhur kemanusiaan serta memiliki peran strategis dalam pembangunan nasional.”

Menurut Prof. Dr. Djohan, M.Si, ahli psikologi musik dan dosen Institut Seni Indonesia (ISI), Yogyakarta, bahwa dewasa ini secara nasional, yang berkembang adalah musik Barat, sedangkan musik-musik lokal (musik tradisi) tidak berkembang. “Yang berkembang 100% dalam kehidupan musik di Indonesia saat ini adalah musik Barat yang diatonis, meskipun kita sering mengatakan bahwa Indonesia kaya musik-musik tradisi. Misalnya, Sasando di NTT, nada-nadanya musik Barat; begitu pula, angklung Mang Udjo juga musik Barat, hanya alatnya bambu; karena nada aslinya pelog-slendro bukan do, re, mi, fa, sol, la, si, do,” papar Prof. Dr. Djohan kepada Staging-Point.Com, Senin (30/4/2018) di Ruang Direktur Pascasarjana ISI, Yogyakarta.

Prof. Dr. Djohan, M.Si melihat bahwa ada sejumlah alasan musik Barat lebih dominan dalam ruang kehidupan musik di Indonesia selama ini. “Kita tidak dapat menyalahkan orang muda, jika tidak menyukai musik tradisi. Karena, setiap hari saja kita mendengar musik Barat, di radio, televisi, Internet, dan lain-lain. Sejak kecil, telinga kita sangat terbiasa dengan nada diatonis musik Barat. Dari sisi karya musik, segmen industri musik dan musik serius yang minoritas, tetap musik Barat. Meskipun, ada musik hibrida, perkawinan musik tradisi dan musik Barat, tapi musiknya tetap kalah, karena alat musiknya bambu, misalnya, tapi nada musik Barat. Misalnya, gamelan distem piano, bunyi dari logam, tetapi nada Barat. Ini kondisi yang terjadi,” ungkap Prof. Dr. Djohan, M.Si, yang meraih S-3 Psikologi Musik pada Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Menurut Prof. Dr. Djohan, dalam konteks musik nasional, mengangkat identitas nasional, sangat berat melawan musik Barat. Solusinya ialah tanggung jawab Pemerintah dan peran pendidikan musik. “Untuk merawat musik tradisi Bangsa Indonesia, perlu tanggung jawab Pemerintah dan pendidikan musik. Karena saat ini, kurikulum musik kita di IKIP Seni, misalnya, meskipun ada kata ‘tradisi’, namun pelajarannya bukan musik lokal, tetapi musik Barat nada diatonis. Jadi, di bawah sadar, kultur kita diorientasikan ke musik Barat dan kita akhirnya melihat musik tradisional sebagai barang antik, barang eksotis, sesuatu yang kelihatannya asing. Padahal itu punya kita, aslinya seperti itu, dan sangat natural,” ungkap Prof. Dr. Djohan.

Pasal 32 ayat (1) UUD 1945 berbunyi : “Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya.” Prof. Dr. Djohan melihat Pemerintah perlu lebih serius merawat tradisi Bangsa Indonesia. “Pemerintah harus lebih serius merawat, mengarsipkan, dan mengelola seni budaya, bukan hanya sebagai paket turis wisata. Kementerian P&K perlu mengelola seni, budaya, musik, museum,  galeri seni, pertunjukan dan lain-lain. Ratusan sarjana seni dan budaya tiap tahun siap mengelolanya,” ujar Prof. Dr. Djohan yang ikut merintis dan mengembangkan Maskarjo (Masyarakat Karawitan Jawa) bidang riset dan penerbitan.

Musik Bangsa Indonesia, menurut Prof. Dr. Djohan, berpeluang sangat luas karena dekat dengan alam. “Musik tradisi Bangsa Indonesia sejenis pra-Phytagoras dan merupakan musik masyarakat agraris yang sangat dekat dengan alam. Misalnya, Jawa memiliki sistem nada dengan konsep resonansi dari alam. Tangga nada dibuat Phytagoras dengan frekuensi fisika bunyi. Jadi, musik tradisi kita masih berpeluang sangat luas untuk dieksplor dan dikembangkan sebagai hiburan atau klangenan, pelajaran dan pengetahuan. Tentu saja upaya seperti ini dilakukan untuk alat-alat musik tradisional lainnya, selain Gamelan Jawa,” papar Prof. Dr. Djohan. 

Oleh : Heri Jani (Yogyakarta)

Penerbit


Anticipatory Democracy & Pemilu Tahun 2019

Risiko bencana skala nasional dan global kini seakan tidak peduli dengan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) vs Tiongkok (Chris. Rugabuer/AP, 29/10/2018) dan pembunuhan Jamal Khashoggi, kolumnis Washington Post, saat penjualan senjata AS ke Arab Saudi senilai 110 miliar dollar AS yang mencipta 500.000 ribu lapangan kerja di AS (Reuters, 30/1/2018). Tragedi dan ancaman bencana alam seakan tidak peduli dengan pertumbuhan ekonomi RI kuartal ke-2 tahun 2018 mencapai 5,27% per tahun (Reuters, 6/8/2018) atau lonjakan ekspor minyak sawit dari Negara RI sebesar 4,25 juta ton pada September dari 4,01 juta ton pada Agustus 2018 (Bernadette Christina Munthe/Reuters 19/10.2018). Begitu pula inflasi Negara RI sekitar 2,88% pada Juni 2018 dan 3,23% pada Mei 2018 (Reuters, 29/6/2018) dan defisit perdagangan RI menurun karena ekspor bat ubara September 2018 (Reuters, 12/10/2018). ... Baca selanjutnya

img

Jurnal

Berita