• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Tata Kelola Hutan-Lestari: ‘Bottom Up’, Bukan ‘Top Down’

Rabu pagi (2/8/2017) di Manggala Wana Bhakti Kementerian LHK (Jakarta), Presiden RI Joko Widodo dan para Kepala Daerah menghadiri acara Peringatan Hari Lingkungan Hidup Tahun 2017. “Tapi saya ingin konkret, hasil yang besar dan menjaga hutan-hutan primer kita, jangan sampai hutan itu tidak memberikan apa-apa terhadap Rakyat... Hutan jati kita, Perhutani kita, memberi manfaat pada lingkungan?... Di lingkungan hutan-hutan jati justru yang banyak kemiskinan. Berikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat lingkungan itu... Banyak hal-hal yang baru yang bisa kita kerjakan dalam mengelola hutan ini,” papar Presiden Joko Widodo pada Peringatan Hari Lingkungan Hidup Tahun 2017 di Manggala Wana Bhakti Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Jakarta, Rabu pagi (2/8/2017).

Menurut Dr. Inosensius Sutam, alumnus S-2 dan S-3 pada Institute Catolique de Lilie dan Institute Catolique de Lilie (Perancis), bahwa visi dan arah kebijakan Presiden RI Joko Widodo tentang tata kelola hutan lestari khususnya hutan-hutan primer, hutan lindung, dan hutan pemelihara air, serta manfaat hutan sebesarnya bagi masyarakat lingkungannya, perlu dipertahankan dan dijabarkan dalam program-program kebijakan buttom up, bukan top down.

“Tata-kelola hutan dan lingkungan harus bottom up, bukan top down agar bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungannya. Alasannya, antara lain, model integral atau holistik kehidupan manusia dan alam lingkungan selama ini merupakan tradisi masyarakat-masyarakat lokal di Negara RI; nilai-nilai dasar dan filosofi manusia, alam, dan Pencipta juga telah disarikan ke dalam Pancasila, yang berasal dari bumi Nusantara,” papar Dr. Insensius Sutam kepada Staging-Point.Com, Senin (30/4/2018) di kampus STKIP Santo Paulus, Ruteng (NTT).

Dr. Inosensius Sutam menyebut contoh kearifan lokal berupa pola pikir integral dan holistik pada masyarakat Manggarai di Provinsi NTT.  Masyarakat Manggarai memiliki tradisi, mitologi, dan praktek hidup berupa kearifan lokal yang memperlakukan alam sebagai saudaranya dan sumber hidupnya. “Tradisi dan mitologi masyarakat Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) memandang dan memerlakukan alam sebagai saudara dan sumber kehidupan di planet bumi. Misalnya, tradisi tata kelola sawah sistem Lodok, mirip jaring laba-laba, atau spider rice field dan banyak hutan lindung Pong (sacred-forest) di Manggarai untuk sumber mata air, yang tidak boleh dirusak oleh manusia. Di Manggarai juga ada pelestarian lingkungan dan adat seperti Rumah Adat Niang Wae Rebo,” papar Dr. Insensius Sutam kepada Staging-Point.Com, Senin (30/4/2018) di kampus STKIP Santo Paulus, Ruteng (NTT).

Secara global dan universal dewasa ini, menurut Dr. Inosensius Sutam, berkembang pola pikir dan model integral dan holistik tentang alam-lingkungan dengan unsur pokok tanah, air, api, udara, dan langit, dan manusia sebagai rumah bersama dan sumber hidup manusia di planet bumi. “Pola pikir dan model integral dan holistik manusia dan alam-lingkungannya ini sudah universal dengan unsur pokok alam seperti tanah, air, api, udara, dan langit sebagai rumah bersama, saudara kita dan sumber hidup kita di planet bumi,” ujar Dr. Inosensius Sutam.

Penjabaran pendekatan bottom up dalam tata kelola hutan lestari dan lingkungan, menurut Dr. Inosensius Sutam, dapat dilaksanakan melalui tiga fase pokok yakni pembentukan jiwa, pola pikir, dan semangat dasar; pembentukan kegiatan aksi masyarakat; dan penjabaran dan pemanfaatan melalui ide, teori, konsep, dan manajemen. “Tata-kelola hutan dan lingkungan secara bottom-up dapat dilakukan melalui tiga tahap yaitu pertama, pembentukan pola pikir dan semangat dasar bahwa dari sudut pandang kapital, hutan dan lingkungan memiliki nilai-nilai cultural capital, social capital, dan ecological-capital untuk persatuan dan kesatuan, selain economic-capital; kedua, rencana aksi masyarakat yang konkrit; ketiga, penjabaran dan pemanfaatan konsep, teori, rekrut SDM, dan manajemen tata-kelola hutan lestari yang bermanfaat bagi masyarakat,” ungkap Dr. Inosensius Sutam.

Dewasa ini, penjabaran pendekatan bottom up dalam tata kelola hutan lestari untuk Rakyat dan lingkungannya menghadapi sejumlah tantangan. “Ada sejumlah tantangan melaksanakan pendekatan tata kelola hutan lestari secara bottom up, antara lain, secara global ekspansi kapitalisme fosil (gas, batu-bara, dan minyak) telah memasuki ruang kehidupan masyarakat hingga daerah-daerah seperti lonjakan emisi karbon (CO2); perilaku masyarakat antara lain membangun rumah dan industri di Daerah Aliran Sungai (DAS); lunturnya adat-istiadat merawat hutan; semakin tergerusnya zona hutan kita dari tahun ke tahun, yang diukur oleh makin merosotnya debet air, akses air bersih dan mata-air,” papar Dr. Inosensius Sutam.

 

Oleh: Silvester Nabar (Ruteng, NTT)

Penerbit


Dollar AS vs Xi-Diplomacy

Perang dollar AS vs Xi-Diplomacy belum memicu ke arah resesi global (lihat grafik). Bagi Rakyat dan Pemerintah Negara RI, pilihannya ialah kemitraan atau kerjasama melahirkan tata tertib dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, keadilan serta ramah lingkungan. Ini amanat Pembukaan UUD 1945. Ini pula peluang dan tantangan bagi Negara RI yang kini menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB hingga tahun 2021. ... Baca selanjutnya

img

Jurnal

Berita