• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Perlu Integrasi Program Kewirausahaan Negara RI

Kamis (5/4/2018) di Istana Merdeka (Jakarta), Presiden RI Joko Widodo, yang didampingi oleh Menko Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, dan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, menerima  Pengurus Pusat dan Daerah Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI).  “Negara kita ini membutuhkan entrepreneur yang harusnya tiap tahun meningkat. Hampir di semua negara maju memang standarnya memiliki entrepreneur di atas 14 persen. Kita sekarang ini angkanya masih 3,01 persen,” papar Presiden RI Joko Widodo usai menerima Pengurus Pusat dan Daerah Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Setkab RI, 5/4/2018)

Menurut Dr. Hempri Suyatna, dosen Jurusan Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan FISIPOL, Universitas Gadjah Mada (Yogyakarta), terdapat 15 sub sektor industri kreatif dewasa ini yang dapat ditekuni oleh wirausaha muda generasi milenial, selain potensi sektor pertanian, peternakan, dan perikanan. “Isu kewirausahaan saat ini bergeser dari dominasi isu agraris ke sekitar 15 sub sektor industri kreatif yang diminati dan digeluti oleh wirausaha generasi milenial saat ini. Meskipun, masih ada potensi lain lahirnya wirausaha muda sektor pertanian, peternakan, dan perikanan,” papar Dr. Hempri Suyatna kepada Staging-Point.Com, Sabtu (28/4/2018) di Auditorium Fakultas Ekonomi Universitas Negeri, Yogyakarta.

Secara nasional, menurut Dr. Hempri Suyatna, angka kewirausahaan Negara RI saat ini masih rendah, maka perlu integrasi program-program kewirausahaan Negara RI guna menciptakan nilai-nilai sosial, ekonomi, dan lingkungan seperti penciptaan lapangan kerja, inovasi usaha, pengembangan karir, dan pengentasan kemiskinan. “Angka kewirausaan negara kita masih rendah yakni 1,6 % dari total penduduk. Ini tantangan, karena kita sedang menghadapi isu kemiskinan, pengangguran, dan ketimpangan yang sebetulnya dapat diatasi, jika prosentasenya minimal 2 %,” ujar Dr. Hempri Suyatna.

Menurut laporan Bank Dunia (2008), jumlah wirausaha Negara RI hanya berkisar 1,56% dati total penduduk. Singapura mencapai 7,2% dari total penduduk. Thailand berkisar 4,1% dari total penduduk. Badan Pusat Statistik (BPS) merilis hasil survei Februari 2014 bahwa terdapat 20,32 juta orang Indonesia bekerja sendiri; 19,74 juta pengusaha dibantu buruh tidak tetap dan hanya 4,14 juta pengusaha dibantu oleh buruh tetap. Akibatnya, wirausaha (entrepreneur) belum banyak menciptakan nilai-nilai sosial ekonomi seperti penciptaan lapangan kerja, pengembangan karir, suplai modal, alokasi sumber, inovasi usaha dan produk di Negara RI.

Dari hasil observasinya selama ini, Dr. Hempri Suyatna, melihat bahwa sebagai strategi Negara, ada sejumlah program dapat melahirkan dan mengembangkan kewirausahaan yang sustainabel di Negara RI guna menciptakan nilai-nilai sosial, ekonomi, dan lingkungan. “Jika kita hendak menjadikan strategi kewirausahaan sebagai instrumen pengentasan kemiskinan, penciptaan kerja, pengembangan karir, alokasi sumber, inovasi, dan lain-lain di Negara RI, maka langkah pertama, integrasi program-program wirausaha muda atau kewirausahaan yang tumpang-tindih, tergesa-gesa, dan tidak terintegrasi dari Perbankan dan Kementerian; kedua, sejak masa inkubasi inovasi usaha, harus ada upaya agar usahanya berkelanjutan guna mencegah usaha berhenti, karena dana hibah berhenti,” Dr. Hempri Suyatna.

Di sisi lain, Presiden RI Joko Widodo melihat perubahan landscape ekonomi Negara RI akhir-akhir ini, yang membuka tiga peluang ekonomi bagi wirausaha pemula. Yakni usaha resto, kerajinan hand-made, dan start-up aplikasi IT. “Bila anak-anak muda ini mau menggeluti bisnis yang berkaitan dengan e-commerce, online, dan lain lain. Karena di sinilah sebetulnya ada sisi keuntungannya juga sangat besar dan yang kedua, juga membantu masyarakat dalam rangka lebih efisien lagi yaitu di socio-entrepreneur,” papar Presiden RI Joko Widodo pada Rapat Pimpinan HIPMI di Tangerang, Banten, Rabu (7/3/2018) (Setkab RI, 7/3/2018).

E-commerce menciptakan peluang baru bagi wirusaha muda. Namun, Dr. Hempri Suyatna melihat risikonya bagi UKM--usaha konvensional dan tradisional. Solusinya, Pemerintah juga merilis program lain guna membangun kewirausahaan yang berkelanjutan. “Pemerintah Pusat dan Daerah perlu merilis regulasi agar pelaku UKM lokal yang hanya berkisar 7% saat ini, tetap eksis di daerah-daerah; pemerintah melakukan edukasi standardisasi produk-produk lokal seperti Standar Nasional Indonesia (SNI), edukasi wirausaha karena kewirausahaan bermula dari mentalitas berani mengambil risiko, disiplin, inovasi, dan kreasi seperti eco-socio-preneurship di perguruan tinggi guna menciptakan wirausaha-wirausaha muda,” papar Dr. Hempri Suyatna, ahli Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dan Koperasi. 

Oleh : Heri Jani (Yogyakarta)

Penerbit


Dollar AS vs Xi-Diplomacy

Perang dollar AS vs Xi-Diplomacy belum memicu ke arah resesi global (lihat grafik). Bagi Rakyat dan Pemerintah Negara RI, pilihannya ialah kemitraan atau kerjasama melahirkan tata tertib dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, keadilan serta ramah lingkungan. Ini amanat Pembukaan UUD 1945. Ini pula peluang dan tantangan bagi Negara RI yang kini menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB hingga tahun 2021. ... Baca selanjutnya

img

Jurnal

Berita