• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Perlu Road-Map Sektor-Sektor Value-Creation Untuk Rakyat & Negara

Pada hari Kamis (5/4/2018) di Istana Merdeka (Jakarta), Presiden RI Joko Widodo, yang didampingi oleh Menko Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, dan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, menerima  Pengurus Pusat dan Daerah Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI).  “Negara kita ini membutuhkan entrepreneur yang harusnya tiap tahun meningkat. Hampir di semua negara maju memang standarnya memiliki entrepreneur di atas 14 persen. Kita sekarang ini angkanya masih 3,01 persen,” papar Presiden RI Joko Widodo usai menerima Pengurus Pusat dan Daerah Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Setkab RI, 5/4/2018).

Menurut Popy Rufaidah, SE,MBA, Ph.D, dosen pada Program Studi Magister Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran (MM FEB-Unpad), bahwa Rakyat dan Pemerintah RI dapat menciptakan wirausaha-wirausaha dan nilai (value creation) bagi masyarakat (Rakyat) dan Negara seperti penciptaan keahlian, pengetahuan, investasi SDM, investasi modal, dan lapangan kerja berbasis 4 klaster lansekap ekonomi Negara RI saat ini.

“Saat ini, ada 4 (empat) klaster penting dari lansekap ekonomi Negara RI yaitu (1) Industri Genetik, (2) Industri Ekstraktif, (3) Industri Manufaktur (pengolahan), dan (4) Industri Jasa. Misalnya, Negara RI memiliki potensi besar lansekap berbasis industri genetic seperti pertanian, kehutanan, perkebunan, perikanan, dan peternakan. Kita juga memiliki sejarah panjang industri ini dari era rempah-rempah, perkebunan teh dan kopi. Sektor perikanan, kita memiliki zona laut dan perikanan sangat kaya dan luas. Bahkan kini sekitar 110 Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memiliki basis pada lansekap industri genetik, ekstraktif, dan manufaktur kecuali industri peternakan,” papar Popy Rufaidah, SE,MBA, Ph.D kepada Staging-Point.Com, Selasa (8/5/2018) di lantai 2 Gedung Program MM-FEB Unpad, Jl. Dipati Ukur No. 46, Bandung (Jawa Barat).

Di sisi lain, Industri Ekstraktif seperti pertambangan gas dan industri pengolahan seperti industri makanan dan minuman,  menurut Popy Rufaidah, SE,MBA, Ph.D, menyediakan pula potensi bagi lahirnya dan berkembangnya wirausaha (muda) dan penciptaan nilai sosial, ekonomi, dan lingkungan bagi Negara RI kini dan ke depan.

“Empat klaster industri pada lansekap ekonomi Negara RI tersebut masih memiliki potensi sangat besar. Namun, pengelolaan potensi ini guna mencetak wirausaha dan nilai-nilai sosial, ekonomi dan lingkungan bagi Negara RI, membutuhkan kemitraan Pemerintah, sektor industri, dan penerapan IPTEK multidisiplin dari perguruan tinggi. Identifikasi peluangnya bagi penciptaan wirausaha muda dan nilai-nilai baru (value creation) bagi Negara. Ini juga berlaku bagi klaster Industri Jasa seperti industri telekomunikasi, broadcasting, transportasi, jasa arsitek, konsultan, salon, dan lain-lain,” ungkap Popy Rufaidah, SE,MBA, Ph.D.

Menurut laporan Bank Dunia (2008), jumlah wirausaha Negara RI hanya berkisar 1,56% dari total penduduk. Singapura mencapai 7,2% dari total penduduk. Thailand berkisar 4,1% dari total penduduk. Badan Pusat Statistik (BPS) merilis hasil survei Februari 2014 bahwa terdapat 20,32 juta orang Indonesia bekerja sendiri; 19,74 juta pengusaha dibantu buruh tidak tetap dan hanya 4,14 juta pengusaha dibantu oleh buruh tetap. Akibatnya, wirausaha (entrepreneur) belum banyak menciptakan nilai-nilai sosial ekonomi seperti penciptaan lapangan kerja, pengembangan karir, suplai modal, alokasi sumber, inovasi usaha dan produk di Negara RI.

Popy Rufaidah, SE,MBA, Ph.D melihat bahwa sektor-sektor pokok dari 4 klaster lansekap ekonomi Negara RI, harus diinventarisasi potensinya bagi penciptaan wirausaha muda dan penciptaan nilai sosial, ekonomi, dan lingkungan bagi Rakyat (masyarakat) dan Negara RI.

“Pemerintah (BUMN) dapat berkolaborasi dengan sektor industri dan perguruan tinggi bidang research and development guna menginventarisasi dan memetakan sektor-sektor yang menciptakan nilai (value creation) seperti penciptaan lapangan kerja, transfer of skill, tansfer of knowledge bagi SDM (nilai sosial-ekonomi), insentif pajak, dan sustainabel industri-industri genetik dan ekstraktif yang merawat nilai hutan, eco-tourism dan lain-lain (nilai lingkungan) bagi Negara. Pemerintah harus membuat road-map tata-kelola dan pengembangan sektor-sektor ini sekitar 30 tahun ke depan guna menciptakan wirausaha dan nilai-nilai sosial, ekonomi, dan lingkungan untuk Negara RI,” papar Popy Rufaidah, SE,MBA, Ph.D.

Oleh Gabriel (Bandung)

Penerbit


Anticipatory Democracy & Pemilu Tahun 2019

Risiko bencana skala nasional dan global kini seakan tidak peduli dengan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) vs Tiongkok (Chris. Rugabuer/AP, 29/10/2018) dan pembunuhan Jamal Khashoggi, kolumnis Washington Post, saat penjualan senjata AS ke Arab Saudi senilai 110 miliar dollar AS yang mencipta 500.000 ribu lapangan kerja di AS (Reuters, 30/1/2018). Tragedi dan ancaman bencana alam seakan tidak peduli dengan pertumbuhan ekonomi RI kuartal ke-2 tahun 2018 mencapai 5,27% per tahun (Reuters, 6/8/2018) atau lonjakan ekspor minyak sawit dari Negara RI sebesar 4,25 juta ton pada September dari 4,01 juta ton pada Agustus 2018 (Bernadette Christina Munthe/Reuters 19/10.2018). Begitu pula inflasi Negara RI sekitar 2,88% pada Juni 2018 dan 3,23% pada Mei 2018 (Reuters, 29/6/2018) dan defisit perdagangan RI menurun karena ekspor bat ubara September 2018 (Reuters, 12/10/2018). ... Baca selanjutnya

img

Jurnal

Berita