• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Koperasi dan Edukasi ‘Positive Deviance’ Atasi Stunting

Pada Kamis (5/4/2018) di Kantor Presiden (Jakarta), Presiden RI Joko Widodo yang didampingi oleh Wakil Presiden RI Jusuf Kalla, memimpin Rapat Terbatas (Ratas) tentang Penurunan Stunting. “Stunting atau gagal tumbuh merupakan ancaman utama terhadap kualitas manusia Indonesia, ancaman terhadap kemampuan daya saing Bangsa,” papar Presiden RI Joko Widodo (Setkab RI, 5/4/2018).

Menurut Dr. Intje Picauly, S.Pi,.M.Si, dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM), Universitas Nusa Cendana (Undana), Kupang (NTT), hasil riset dan kajian FMK-Undana (Kupang) menemukan faktor pendidikan, ekonomi, dan budaya makan sebagai penyebab anak-anak stunting di NTT selama ini.

“Dari riset selama ini, kami menemukan penyebab stunting di Provinsi NTT yaitu pertama, budaya makan; ada beberapa pantangan makanan dari masyarakat, seperti tidak makan ikan, telur, buah dan sayur, yang justru terjadi pada balita dan ibu hamil. Akibatnya, asupan gizinya rendah; kedua, faktor ekonomi; ada 21% penduduk NTT hidup di bawah garis kemiskinan; kemiskinan selalu identik dengan terbatasnya daya beli masyarakat dan konsumsi makanan bergizi; ketiga, faktor pendidikan; rapuhnya pengetahuan gizi memicu risiko gizi buruk,” papar Dr. Intje Picauly, S.Pi,.M.Si, yang meraih S-3 bidang Gizi Kesehatan Masyarakat dari Institut Pertanian Bogor (IPB) kepada Staging-Point.Com, Selasa (24/4/2018) di FKM-Undana, Kupang.

Dari pengalaman bekerjasama dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Dr. Intje Picauly, S.Pi,.M.Si melihat, bahwa pendekatan positive deviance dapat mengatasi masalah gizi buruk masyarakat melalui koperasi dan edukasi farming berbasis keluarga level RT (Rukun Tangga).

“Kami pernah mendampingi LSM dalam program pemberdayaan masyarakat model positive deviance gizi. Dasar programnya ialah masyarakat mendapat pasokan pangan secara bersama-sama. Misalnya, dalam satu RT, ada pemilik lahan yang belum ditanam. LSM bekerjasama dengan dinas pertanian dan perkebunan dari Pemda untuk pengadaan bibit seperti bibit sawi, bawang, sayur, dan cabe. Dari situ, masyarakat belajar menanam dan belajar hidup sehat bergizi. Berikutnya, mereka dapat belajar menanam padi dan merawat ayam. Begitu pula pada RT lainnya atau kebutuhan gizi satu RT dipasok oleh RT lainnya dengan target balita dan ibu hamil,” papar Dr. Intje Picauly, S.Pi,.M.Si, penulis disertasi Peranan Zat Goyterogenik terhadap Kejadian Masalah Gangguan Akibat Kekurangan Yodium di Wilayah Endemik Yodium.

Menurut Presiden RI Joko Widodo, upaya menurunkan angka stunting di Negara RI harus terencana dari pola makan, pola asuh, hingga sanitasi pada level keluarga khususnya pada 100 Kabupaten di Negara RI (Setkab RI, 6/4/2018).  “Saya juga ingin menekankan bahwa upaya penurunan angka stunting adalah kerja bersama yang harus melibatkan semua elemen masyarakat, terutama ibu-ibu PKK dan juga perlu pengaktifan kembali secara maksimal fungsi-fungsi Posyandu di kampung, di desa desa. Dan saya minta supaya untuk dibuat  rencana aksi yang lebih terpadu, lebih terintegrasi yang mempunyai dampak yang konkret di lapangan. Mulai dari intervensi pada pola makan, pada pola asuh, dan juga yang berkaitan dengan sanitasi,” papar Presiden RI Joko Widodo pada Ratas tentang Penurunan Stunting di Kantor Presiden (Jakarta), Kamis (5/4/2018), (Setkab RI, 5/4/2018).

Ratas tentang Penurunan Stunting itu dihadari oleh Menko Perekonomian Darmin Nasution, Menko PMK Puan Maharani, Menko Kemaritiman Luhut B. Pandjaitan, Mensesneg Pratikno, Seskab Pramono Anung, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana S. Yembise, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, Menteri Desa dan PDDT Eko Sandjojo, Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro, Menteri BUMN Rini Soemarno, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, dan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya (Setkab RI, 5/4/2018).

Tahun 2013, World Health Organization (WHO) dan Bappenas RI merilis data stunting di Negara RI. Bahwa sekitar 35,6% anak usia di bawah 6 tahun dan 35,5% anak usia 6-12 tahun, mengalami stunting di Negara RI. Prosentase tertinggi stunting terdapat di Provinsi NTT (51,7%), Sulawesi Barat (48%), dan NTB (45,3%). Dalam laporan Penangan Stunting Terpadu Tahun 2018 dari Kementerian Keuangan, tercatat bahwa sekitar 9 juta anak usia di bawah 5 (lima) tahun menderita stunting di seluruh Negara RI. Provinsi NTT masih menempati jumlah stunting paling besar sebanyak 319.100 anak di bawah usai 5 (lima) tahun. 

 

Oleh: Raf (Kupang)

Penerbit


Anticipatory Democracy & Pemilu Tahun 2019

Risiko bencana skala nasional dan global kini seakan tidak peduli dengan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) vs Tiongkok (Chris. Rugabuer/AP, 29/10/2018) dan pembunuhan Jamal Khashoggi, kolumnis Washington Post, saat penjualan senjata AS ke Arab Saudi senilai 110 miliar dollar AS yang mencipta 500.000 ribu lapangan kerja di AS (Reuters, 30/1/2018). Tragedi dan ancaman bencana alam seakan tidak peduli dengan pertumbuhan ekonomi RI kuartal ke-2 tahun 2018 mencapai 5,27% per tahun (Reuters, 6/8/2018) atau lonjakan ekspor minyak sawit dari Negara RI sebesar 4,25 juta ton pada September dari 4,01 juta ton pada Agustus 2018 (Bernadette Christina Munthe/Reuters 19/10.2018). Begitu pula inflasi Negara RI sekitar 2,88% pada Juni 2018 dan 3,23% pada Mei 2018 (Reuters, 29/6/2018) dan defisit perdagangan RI menurun karena ekspor bat ubara September 2018 (Reuters, 12/10/2018). ... Baca selanjutnya

img

Jurnal

Berita