• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Strategi Migas: Antisipasi ‘Second-Life’ Pasca Era Migas

Pada Konvensi dan Pameran Tahunan ke-42 Indonesia Petroleum Association (IPA), Rabu (2/5/2018) di Jakarta Convention Center, Senayan (Jakarta), Presiden RI Joko Widodo merilis arah regulasi sektor minyak dan gas (migas) di Negara RI. “Saya perintahkan setahun yang lalu untuk Menteri ESDM memangkas sebanyak-banyaknya regulasi, peraturan yang ada di Kementerian ESDM. Sudah dipangkas seratus delapan puluh enam peraturan yang membuat ruwet, yang membuat kita bertele-tele kalau mau investasi di bidang ini... Perizinan, bahwa prosedur di sektor migas nasional kita harus dipangkas, harus disederhanakan, jangan lagi berbelit-belit,” papar Presiden RI Joko Widodo (Setkab RI, 2/5/2018).

Awal Februari 2018, sesuai arahan Presiden RI Joko Widodo guna mendukung pertumbuhan investasi sektor migas, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencabut 32 regulasi yang tersebar pada sub sektor minyak dan gas bumi (migas), mineral dan batu bara (minerba), ketenagalistrikan, energi baru terbarukan dan konservasi energi (EBTKE), dan juga regulasi pada Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) (Setkab, 6/2/2018).

Menurut Prof.Ir. Tutuka Ariadji M.Sc.,Ph.D, dosen pada Fakultas Pertambangan dan Perminyakan, Institut Teknologi Bandung (ITB), bahwa kebijakan deregulasi sektor migas sudah betul; ke depan pilihan dan fokusnya ialah regulasi sektor gas, karena era minyak sudah berakhir, kecuali peningkatan produksi minyak dan eksplorasi dengan teknologi enhanced oil recovery (EOR) yang bisa menghasilkan multiplier-effect sosial, ekonomi, dan ramah lingkungan.

“Saya kira, arah kebijakan deregulasi Pemerintah sudah betul dan sangat penting untuk dapat menumbuhkan investasi sektor migas. Saya sepakat, jika regulasi semakin pendek. Di sisi lain, kondisi migas Negara kita saat ini ada dua yakni pertama, era minyak sudah lewat, dan kita memasuki era gas; kedua, saat ini, kondisi kita kritis, jika kita tidak melakukan persiapan second-life pasca era minyak dan era gas dengan cadangan misalnya Blok Masela atau Tangguh 20 tahun. Kita bisa berisiko kehabisan resources jangka panjang,” papar Prof. Ir. Tutuka Ariadji M.Sc.,Ph.D, alumnus S-3 Petroleum Engineering, Texas A&M University (AS) tahun 1996, kepada Staging-Point.Com, Selasa (22/5/2018) di lantai 3 Gedung Teknik Metalurgi (TM), ITB.

Prof. Ir. Tutuka Ariadji menyebut contoh. “Sejak 1971, kita menjadikan Arun (Lhokseumawe, utara Aceh) ladang gas. Tahun 1990-an, ladang gas alam cair (LNG) Arun adalah penghasil LNG terbesar dunia. Saat ini cadangan menipis dan hanya dua unit beroperasi. Exxon pergi. Kita hanya melayani kebutuhan ekspor dan tidak membangun industri pendukung; tidak menjadikan ladang LNG sebagai economic-driver yang menghasilkan multiplier effect sosial dan ekonomi seperti kemandirian nasional, kemajuan teknologi, SDM, dan lain-lain untuk second-life pasca era gas Arun. Begitu pula risiko Natuna, Tangguh, dan lain-lain,” ungkap Prof. Ir. Tutuka Ariadji, Ph.D, alumnus Petroleum Engineering, Texas A&M University, tahun 1994.

Era gas saat ini, menurut Prof. Ir. Tutuka Ariadji, Ph.D, merupakan momentum ladang gas sebagai economic-driver atau mesin pertumbuhan ekonomi dengan manfaat sosial, ekonomi dan lingkungan (socio-economic multiplier effect). “Kategori peraturan di sektor migas umumnya lex specialis. Ini peluang bagi Pemerintah menjadikan industri gas sebagai basis kemandirian nasional, melayani kebutuhan gas dalam negeri, penciptaan industri-industri lainnya, mesin pertumbuhan ekonomi (economic-engine) daerah-daerah yang dapat mengatasi ketimpangan pertumbuhan antar daerah, pengembangan sumber daya manusia (SDM), kemajuan teknologi, efisiensi, ongkos murah dan pilihan teknologi ramah lingkungan; era minyak sudah lewat, pilihannya ialah teknologi EOR untuk eksplorasi minyak dan peningkatan produksi minyak,” papar Prof. Ir. Tutuka Ariadji, Ph.D, penerima Satyalancana Karya Satya XX Tahun dari Presiden Republik Indonesia pada tahun 2013.

Presiden RI Joko Widodo juga melihat peluang sektor migas dapat menjadi lokomotif kemajuan sektor-sektor lain di Negara RI. “Kira-kira tahun 1870 sampai tahun 1914, di mana ada sosok seorang Amerika yang namanya John Davison Rockefeller yang berhasil mengubah komoditas yang tidak berarti, yaitu minyak tanah menjadi basis sebuah era perindustrian yang baru. Muncullah kemudian industri-industri berdasarkan minyak, dari otomotif, kapal-kapal layar, dan akhirnya juga pesawat terbang yang menggunakan bahan bakar minyak sampai pembangkit listrik berbasis diesel. Kita sering lupa mengenai ini,” papar Presiden RI Joko Widodo pada  Konvensi dan Pameran Tahunan ke-42 IPA, Rabu (2/5/2018) di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta.

Oleh: Gabriel (Bandung)

Penerbit


Dollar AS vs Xi-Diplomacy

Perang dollar AS vs Xi-Diplomacy belum memicu ke arah resesi global (lihat grafik). Bagi Rakyat dan Pemerintah Negara RI, pilihannya ialah kemitraan atau kerjasama melahirkan tata tertib dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, keadilan serta ramah lingkungan. Ini amanat Pembukaan UUD 1945. Ini pula peluang dan tantangan bagi Negara RI yang kini menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB hingga tahun 2021. ... Baca selanjutnya

img

Jurnal

Berita