• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Bangun Peradaban Indonesia Raya

Viae Romanae (jamak), Via Romana (tunggal) atau “Roman way” merupakan infrastruktur fisik yang sangat vital bagi pertahanan dan pengembangan Kekaiseran Romawi sejak abad 3 pra-Masehi (SM) di Italia. Infrastruktur adalah titik kunci strategi konsolidasi kekuasaan, militer dan ekonomi dari Republik Roma hingga Kekaiseran Romawi (Robert James Forbes, 1993). Karena infrastruktur menjadi sarana efisien bagi gerakan pasukan, pejabat, warga sipil, kereta kuda, arus barang, jasa, manusia, dan uang pemerintah dan perdagangan (W Kaszynski, 2000).

Romawi membangun jalan daerah, jalan raya, penghubung antara kota-kota dan pangkalan militer. Jalan-jalan ini dilapisi logam dan berbahan batu untuk drainase, selokan, parit, fondasi rakit, tiang, jembatan, dan jalan setapak yang melintasi sungai, memotong bukit, melingkari gunung dan melewati rawa-rawa (Bailey, L. H., et al, 1900; Corbishley, Mike, 1986).

Romawi menyebut Laut Tengah : mare nostrum (laut kita) (Greene, Kevin, 1990: 17). Kapal-kapal layar Romawi melintasi Laut Tengah, sungai Ebro, Rhône, Rhine, Tiber dan Nil (Boardman, John, ed., 2000: 713-714; Ulrich, Roger Bradley, 2007: 1-2). Jalan darat melayani operasi militer Romawi (Van Tilburg, Cornelis, 2007:33) dan perdagangan. Pajak dan komoditi (hewan) disediakan oleh masyarakat untuk pembayaran layanan transportasi, surat-surat Negara, dan kepentingan umum. Setiap jarak 7-10 km, Romawi membangun pos perdagangan, desa, dan stasiun relai  yang mempekerjakan tukang-tukang, pembuat bendera, dokter hewan, polisi, tentara, pegawai sipil, hingga kurir-kurir (Stambaugh, J E., 1988: 253).

Romawi membangun 29 jalan raya dari pusat pemerintahan ke 113 provinsi dan 372 jalan besar (Bailey, L. H., et al, 1900; Corbishley, Mike, 1986). Panjang jalan itu mencapai 400 ribu km; sepanjang 80.500 km adalah jalan batu-aspal. Romawi membangun dan memperbaiki jalan sepanjang 4.000 km di Inggris dan 21 ribu km di Perancis. Melalui mata-rantai infrastruktur pemerintahan dan perdagangan itu, Romawi membangun “Pax Romana”-–stabilitas pemerintahan dan ekonomi Kekaiseran Romawi sejak abad 1 SM hingga abad 4 M.

Peradaban Pax Romana berbasis unsur-unsur peradaban seperti sistem hukum, sistem pajak, nilai tukar, perbankan, pertambangan, metalurgi, transportasi, komunikasi, perdagangan, komoditi, teknologi, arsitektur, engineering, menu masakan, rekreasi, gladiator, pacuan kuda, feisyen, drama, teater, seni, lukis, ukiran, mosaik, dekorasi, literasi, buku-buku, filosofi, bahasa, pendidikan dasar, pendidikan perempuan, literatur, religi, dan status perempuan.

Hingga hari ini, Pax Romana masih menyisakan warisan seperti sistem hukum hingga sistem pemerintahan presidensil yang diadopsi oleh konstitusi Amerika Serikat tahun 1787. Viae Romanae juga menjadi pilar dasar seluruh sistem infrastruktur transportasi dan komunikasi hingga awal abad 21 di Eropa, Afrika, Mediteranian, dan Timur-Tengah (Asia). Sedangkan Negara dan Kekaiseran Romawi redup karena korupsi abad 4 M.

Di Negara RI, Sabtu pagi (23/6/2018) dari Denpasar (Bali), Presiden RI Joko Widodo merilis strategi pembangunan infrastruktur fisik sebagai bagian penting dari pembangunan infrstruktur budaya. Pembangunan infrstruktur fisik dibayangkan sebagai rute membangun peradaban bagi Bangsa Indonesia ke depan dan mempersatukan lebih dari 714 suku di Negara RI sejak awal abad 21 (Setkab RI, 23/6/2018).

Strategi infrastruktur membangun peradaban perlu melindungi dan mengembangkan nilai-nilai dasar seperti oikos, etos, ethnos, dan teknos. Teknologi (teknos) cuma satu dari unsur pokok peradaban. Programnya antara lain membangun instruktur sains dan teknologi. Komoditi-komoditi Rakyat seperti kedelai, cengkeh, vanili, jagung, ikan, kerajinan  seni, ukiran, lukisan, kelapa, kemiri, cendana, jati, dan lain-lain membutuhkan budi daya dan lab-lab Rakyat.

Fase berikutnya ialah membangun koperasi-koperasi Rakyat guna merawat nilai-nilai kekeluargaan (oikos), nilai kerja keras, disiplin, kreasi, inovasi, disiplin, dan tanggung jawab (etos). Kearifan-kearifan lokal perlu dilindungi oleh regulasi Pemerintah melalui Perda atau lainnya. Kearifan lokal bernilai komersial dapat menjadi produk-produk unggulan per daerah yang berbasis sejarah, budaya, dan daya dukung lingkungan hidup per daerah. Dari sini dapat lahir suatu Peradaban Indonesia Raya Abad 21.

Oleh: Komarudin Watubun

Penerbit


Anticipatory Democracy & Pemilu Tahun 2019

Risiko bencana skala nasional dan global kini seakan tidak peduli dengan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) vs Tiongkok (Chris. Rugabuer/AP, 29/10/2018) dan pembunuhan Jamal Khashoggi, kolumnis Washington Post, saat penjualan senjata AS ke Arab Saudi senilai 110 miliar dollar AS yang mencipta 500.000 ribu lapangan kerja di AS (Reuters, 30/1/2018). Tragedi dan ancaman bencana alam seakan tidak peduli dengan pertumbuhan ekonomi RI kuartal ke-2 tahun 2018 mencapai 5,27% per tahun (Reuters, 6/8/2018) atau lonjakan ekspor minyak sawit dari Negara RI sebesar 4,25 juta ton pada September dari 4,01 juta ton pada Agustus 2018 (Bernadette Christina Munthe/Reuters 19/10.2018). Begitu pula inflasi Negara RI sekitar 2,88% pada Juni 2018 dan 3,23% pada Mei 2018 (Reuters, 29/6/2018) dan defisit perdagangan RI menurun karena ekspor bat ubara September 2018 (Reuters, 12/10/2018). ... Baca selanjutnya

img

Jurnal

Berita