• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Restorasi Desa Untuk Petani, Bangsa dan Negara

Kamis (28/6/2018) di Istana Negara, Presiden RI Joko Widodo membuka  Asian Agriculture & Food Forum (ASAFF) Tahun 2018. “Profesi petani akan turut menentukan masa depan sebuah Negara, menentukan kelangsungan sebuah Bangsa. Karena itu, Pemerintah menaruh perhatian yang besar pada kehidupan dan kesejahteraan petani. Sebab apabila petani sejahtera, insya Allah ketenteraman Bangsa akan terus terjaga...Harus ada korporasi Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani, red), harus ada korporasi Poktan (Kelompok Tani, red), harus ada korporasi petani dalam jumlah besar sehingga ada skala ekonomisnya,” papar Presiden RI Joko Widodo (PresidenRI.go.id, 29/6/2018).

Selasa (24/10/2017) di Istana Negara, Presiden RI Joko Widodo memimpin Rapat Kerja Pemerintah (RKP) tentang Pertanian. Subsidi pupuk mencapai Rp 32 triliun per tahun atau Rp 320 triliun per 10 tahun. “Artinya, yang kita urus itu bukan di situnya (subsidi pupuk, red) lagi harusnya. Kita sudah bergerak ke pasca panennya. Oleh sebab itu, saya mengajak Gubernur, Bupati, terutama kita ajak petani untuk mau membangun sebuah grup besar, kelompok besar, sehingga akan seperti korporasi, korporasi petani,” papar Presiden Jokowi (Setkab RI, 24/10/2017).

Menurut Drs. Bambang Ismawan, Ph.D Candidate di Universitas Leiden (Belanda), perlu ada gerakan Restorasi Desa untuk menyelesaikan masalah-masalah besar berbasis desa-desa dengan sektor pertanian dan petani sebagai simpul sentralnya yang mencerdaskan dan mensejahterakan petani, bermanfaat bagi masyarakat desa dan Bangsa, serta merawat kesehatan ekologis desa-desa di Negara RI sejak awal abad 21. 

Drs. Bambang Ismawan, Ph.D Candidate menyebut 6 (enam) masalah besar sektor pertanian di desa-desa Negara RI saat ini. “Ada enam masalah besar sektor pertanian di desa-desa Negara RI saat ini, yaitu pertama, kepemilikan lahan yang dimiliki petani dan keluarganya berkisar 0,2%, sangat  sempit; lahan pertanian didominasi oleh kuasa perusahan-perusahan besar; kedua, petani dan sektor pertanian belum didukung oleh sistem pembiayaan pertanian atau lembaga keuangan; Sekitar 50 tahun lalu, kita memiliki Bank Tani Nelayan. Namun Bank itu berubah menjadi Bank Rakyat Indonesia atau bank umum; ketiga, mata rantai pasar bergerak dengan biaya sangat mahal dan cenderung tidak adil bagi petani; misalnya, harga bawang merah di Brebes sebagai lokasi produksi adalah Rp 15 ribu per kilogram. Harga ini bergerak sangat drastis ketika dijual di  Cirebon, yang notabene hanya berjarak 40 km, menjadi Rp 50 ribu per kilogram; keempat, masalah ekologis akibat masifnya penebangan hutan dan pengalihan lahan yang semena-mena oleh Negara dan perusahaan; kelima, rapuhnya kelembagaan dan nilai-nilai seperti gotong-royong, koperasi rapuh, dan BUMDes belum hidup; keenam, sistem pendidikan, sains, dan teknologi belum melayani kebutuhan desa dan mengatasi masalah desa-desa. Akibatnya, desa-desa, sektor pertanian dan petani termarginalisasi secara sistemik dari waktu ke waktu di Negara RI, tidak seperti di Negara lain khususnya Jepang,” papar Bambang Ismawan, alumnus S-2 IPB (Bogor) tahun 1983 dan Pendiri/Chairman Bina Swadaya Foundation, kepada Staging-Point.Com, Rabu (27/6/2018) Sekertariat HKTI (Himpunan Kerukunan Tani Indonesia), Menteng, Jakarta Pusat.

Drs. Bambang Ismawan, Ph.D Candidate melihat bahwa pilihan strategis sejak awal abad 21 antara lain program-program Restorasi Desa pada level kelembagaan, pendidikan, teknologi, ekologi, tata-niaga, dan lembaga keuangan berbasis 74.957 desa pada 34 Provinsi Negara RI. “Kita sudah memiliki UU Desa, UU Lingkungan, UU Koperasi, dan UU terkait lainnya; land-reform bukan perkara jangka pendek. Maka pilihannya ialah Gerakan Restorasi Desa, yakni (a) fokusnya, bukan lagi pertanian, tetapi  Desa dengan simpul sentral petani melalui diversifikasi usaha seperti pertanian, wisata, kuliner, budaya, kerajinan, dan lain-lain; (b) kelembagaan melalui koperasi Rakyat dan BUMDes yang merawat nilai kekeluargaan dan gotong-royong Rakyat desa; (c) lembaga keuangan tingkat desa agar petani tidak mengakses kredit usaha dari pengijon dan tengkulak dengan bunga puluhan persen per bulan; (d) pendidikan vokasional praktis bagi petani; (e) pengembangan riset, teknologi dan sains yang melayani kebutuhan desa dan memecahkan masalah pedesaan; (f) perawatan ekologi sehat desa-desa; (g) pengembangan holtikultura yang tidak membutuhkan lahan luas; (h) pembenahan mata-rantai tata niaga produk dari desa khususnya pertanian ke pasar, misalnya berbasis teknologi online. Hasil yang dapat dicapai ialah petani sejahtera dan cerdas, ekologi desa sehat lestari, petani dan Rakyat desa mandiri, swadaya, tata niaga adil tanpa biaya mahal, dan usaha-usaha Rakyat Desa di berbagai sektor berkelanjutan. Sejumlah program ini telah kami lakukan melalui Bina Swadaya Desa selama 50 tahun terakhir,” ungkap Drs. Bambang Ismawan, Ph.D Candidate.

Oleh : Hilarian Arischi Hadur

Penerbit


Dollar AS vs Xi-Diplomacy

Perang dollar AS vs Xi-Diplomacy belum memicu ke arah resesi global (lihat grafik). Bagi Rakyat dan Pemerintah Negara RI, pilihannya ialah kemitraan atau kerjasama melahirkan tata tertib dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, keadilan serta ramah lingkungan. Ini amanat Pembukaan UUD 1945. Ini pula peluang dan tantangan bagi Negara RI yang kini menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB hingga tahun 2021. ... Baca selanjutnya

img

Jurnal

Berita