• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Perkuat Riset-Riset Pengembangan Hortikultura

Kamis (7/6/2018) di Kabupaten Indramayu (Jawa Barat), Presiden RI Joko Widodo meresmikan program kewirausahaan dan digitalisasi sistem pertanian yang akan berisi antara lain data tunggal petani, data lahan, dan data transaksi, sehingga penyaluran-penyaluran program pertanian dari pemerintah tersalurkan dengan efektif ke para petani (PresidenRI.go.id, 7/6/2018).

Selasa pagi (4/4/2017) di Istana Negara (Jakarta), Presiden RI Joko Widodo yang didampingi oleh Wakil Presiden RI Jusuf Kalla, memimpin Sidang Kabinet Paripurna Pagu Indikatif RAPBN 2018. “...untuk belanja pertanian agar lebih diarahkan untuk mengembangkan tanaman hortikultura, Pak Mentan, untuk mengembangkan tanaman holtikultura bukan padi... Pertanian diarahkan mengembangkan tanaman hortikultura,” papar Presiden RI Joko Widodo (Setkab RI, 4/4/2017).

Sidang Kabinet Paripurna itu dihadiri oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menko Polhukam Wiranto, Menko Perekonomian Darmin Nasution, Menko Kemaritiman Luhut B. Pandjaitan, Mensesneg Pratikno, Seskab Pramono Anung, Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Mendagri Tjahjo Kumolo, Menlu Retno Marsudi, Menhan Rymizard Ryacudu, Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro, Menteri BUMN Rini Soemarno, Mendag Enggartiasto Lukita, Menperin Airlangga Hartarto, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, Menag Lukman Hakim Saifuddin, Menkominfo Rudiantara, Menteri LHK Siti Nurbaya, Menaker Hanif Dhakiri, Menteri PANRB Asman Abnur, Menhub Budi K. Sumadi, Jaksa Agung Prasetyo, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, dan Kapolri Jenderal Tito Karnavian (Setkab RI, 4/4/2017).

Menurut Prof. Dr. Ir. Benny Joy, M.S., dosen dan Kepala Pusat Studi Pupuk dan Kebijakan Pupuk Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran (Bandung), Negara RI memiliki potensi sangat besar di sektor hortikultura, yang perlu didukung oleh riset-riset dan penelitian pengembangannya.

“Negara kita menyimpan potensi sangat besar di bidang hortikultura. Namun, investasi dan ekspor berbasis sektor hortikultura perlu didukung oleh riset-riset atau penelitian pengembangan hortikultura. Apalagi masyarakat Bangsa dan Negara RI selama ini memiliki sejarah dan tradisi agraris, maka Pemerintah perlu benar-benar serius, jika mengembangkan pertanian berbasis sektor hortikultura. Selama ini dukungan dana penelitian sektor hortikultura terlalu kecil,” papar Prof. Dr. Ir. Benny Joy, M.S., kepada Staging-Point.Com, Senin (9/7/2018) di Lantai 2 Gedung Departemen Ilmu Tanah Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran (Bandung).

Prof. Dr. Ir. Benny Joy, M.S. menyebut contoh varietas pisang asal Indonesia yang diekspor oleh Filipina ke Arab Saudi. “Ada peluang atau potensi ekspor sangat besar dari sektor hortikultura. Sewaktu saya pergi naik haji, di sana varietas pisang yang saya makan itu varietas kita, hanya asalnya dari Filipina. Cuma karena kendala riset dan pengembangan tadi, hal-hal seperti itu jadi sulit untuk dijalankan di Negara kita. Karena itu, solusinya riset dan penelitian pengembangan hortikultura menyimpan potensi sangat besar, terlebih Negara kita memiliki sejarah dan tradisi agraris. Jika Pemerintah benar-benar serius, kita bisa saja membuat apapun dari pertanian hortikultura,” ungkap Prof. Dr. Ir. Benny Joy, M.S., penulis disertasi Adsopsi-Desorpsi dan Serapan Fosfat, Hasil Kedelai Serta Beberapa Sifat Kimia Tanah Sebagai Pengaruh Amelioran dan Pupuk Fosfat Pada Tanah Typic Kanhapludults dan Typic Eutrudepts.

Model ideal triple bottom line hortikultura, menurut Prof. Dr. Ir. Benny Joy, M.S., ialah sistem pertanian masyarakat adat seperti sistem pertanian masyarakat Baduy, Kampung Naga, secara berkelanjutan, yang merawat tradisi, nilai, sejarah, lingkungan, dan manfaat ekonominya, tanpa pupuk kimia dan pestisida yang lama-lama merusak tanah, air, udara, dan berbahaya bagi petani.

Selain itu, Prof. Dr. Ir. Benny Joy, M.S. melihat bahwa mata-rantai niaga pertanian perlu dipangkas. “Problem pengembangan hortikultura di Negara RI yaitu mata rantai niaga pertanian terlalu panjang.  Anda membeli cabai rawit di petani, bisa saja harganya hanya Rp. 10.000/kg; tetapi kenapa saat sudah sampai di supermarket, harganya bisa mencapai Rp.100.000/kg? Rp. 90.000 itu adalah uang yang digunakan untuk berbagai macam hal, yang menurut saya, terlalu besar. Matar antai niaga produk-produk pertanian ini harus dipotong guna mencegah pembengkakan harga sebesar itu,” papar Prof. Dr. Ir. Benny Joy, M.S. 

Oleh Fitra Darmawan (Bandung)

Penerbit


Anticipatory Democracy & Pemilu Tahun 2019

Risiko bencana skala nasional dan global kini seakan tidak peduli dengan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) vs Tiongkok (Chris. Rugabuer/AP, 29/10/2018) dan pembunuhan Jamal Khashoggi, kolumnis Washington Post, saat penjualan senjata AS ke Arab Saudi senilai 110 miliar dollar AS yang mencipta 500.000 ribu lapangan kerja di AS (Reuters, 30/1/2018). Tragedi dan ancaman bencana alam seakan tidak peduli dengan pertumbuhan ekonomi RI kuartal ke-2 tahun 2018 mencapai 5,27% per tahun (Reuters, 6/8/2018) atau lonjakan ekspor minyak sawit dari Negara RI sebesar 4,25 juta ton pada September dari 4,01 juta ton pada Agustus 2018 (Bernadette Christina Munthe/Reuters 19/10.2018). Begitu pula inflasi Negara RI sekitar 2,88% pada Juni 2018 dan 3,23% pada Mei 2018 (Reuters, 29/6/2018) dan defisit perdagangan RI menurun karena ekspor bat ubara September 2018 (Reuters, 12/10/2018). ... Baca selanjutnya

img

Jurnal

Berita