• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Belajar Dari Jepang Atasi Stunting

Kamis (5/4/2018) di Kantor Presiden (Jakarta), Presiden RI Joko Widodo yang didampingi oleh Wakil Presiden RI Jusuf Kalla, memimpin Rapat Terbatas (Ratas) tentang Penurunan Stunting. “Stunting atau gagal tumbuh merupakan ancaman utama terhadap kualitas manusia Indonesia, ancaman terhadap kemampuan daya saing Bangsa,” papar Presiden RI Joko Widodo (Setkab RI, 5/4/2018).

Menurut Dr. Pusparini, S.K.M., M.Sc., dosen Gizi, Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung, bahwa stunting memengaruhi kecerdasan (pendidikan), daya saing, dan produktivitas Sumber Daya Manusia (SDM) Negara RI; maka program penurunan angka stunting membutuhkan kerjasama berbagai pihak khususnya kementerian kesehatan, pendidikan, lingkungan, Perikanan, dan BKKBN dari Pusat hingga Daerah di Negara RI.

“Anak-anak lahir stunting (sejak masa janin) dan lahir normal berisiko menjadi stunting, jika saat golden period (usia emas) mulai dari ibu hamil sampai anak berusia 2 tahun tidak diberi gizi yang sehat. Rata-rata tingkat kecerdasan anak-anak stunting lebih rendah, jika dibanding anak-anak tidak stunting. Rendahnya tingkat kecerdasan berdampak sulit bersaing di bidang  pendidikan dan pekerjaan. Akibatnya, daya saing dan produktivitas SDM terganggu yang memengaruhi pendapatan Negara hingga prestasi olahraga kita di event dunia,” papar Dr. Pusparini, alumnus S2 Public Health (Kesehatan Masyarakat) di Griffith University (Australia).

Dr. Pusparini melihat bahwa akar masalah stunting ialah anak-anak gagal tumbuh sejak dari kandungan akibat status gizi buruk ibu hamil. “Akar masalah stunting ialah masalah intergenerasi, anak-anak itu gagal tumbuh sejak dari kandungan akibat status gizi ibu-ibu hamil seperti anemia atau kekurangan zat besi. Status gizi ibu juga dipengaruhi oleh gizi saat remaja putri. Intervensi tablet tambah darah kepada ibu hamil berisiko mual kecuali konsumsi tablet tambah darah pada remaja putri SMP dan SMA. Namun, program ini menghadapi kendala kurang sosialisasi persiapan status gizi sejak remaja putri. Jadi, status gizi pra hamil dan masa hamil, harus sehat,” ungkap Dr. Pusparini, alumnus S3 Gizi di Institut Pertanian Bogor (IPB).

Tahun 2013, World Health Organization (WHO) dan Bappenas RI merilis data stunting di Negara RI. Bahwa sekitar 35,6% anak usia di bawah 6 tahun dan 35,5% anak usia 6-12 tahun, mengalami stunting di Negara RI. Prosentase tertinggi stunting terdapat di Provinsi NTT (51,7%), Sulawesi Barat (48%), dan NTB (45,3%). Dalam laporan Penangan Stunting Terpadu Tahun 2018 dari Kementerian Keuangan, tercatat bahwa sekitar 9 juta anak usia di bawah 5 (lima) tahun menderita stunting di seluruh Negara RI. Provinsi NTT masih menempati jumlah stunting paling besar sebanyak 319.100 anak di bawah usai 5 (lima) tahun. 

Secara umum, Dr. Pusparini melihat bahwa program penurunan angka stunting Kementerian Kesehatan dapat menyentuh sekitar 30% masalah stunting, sedangkan 70% lainnya membutuhkan kerjasama berbagai pihak dari Pusat hingga Daerah di Negara RI.

“Program spesifik Kementerian Kesehatan RI dapat menyentuh 30% masalah stunting dengan target anak balita, ibu hamil, dan anak remaja. Namun, 70% lainnya membutuhkan kerjasama berbagai pihak seperti kementerian lingkungan, perikanan, Pekerjaan Umum (PU), seperti penyediaan sarana dan prasarana yang bersih untuk masyarakat, pasokan ikan untuk gizi Rakyat. Kita dapat belajar dari Jepang yang giat meningkatkan gizi Rakyatnya dengan konsumsi ikan. Jepang dapat bersaing dengan SDM negara Eropa. Kita memiliki ikan dan sumber pangan yang kaya gizi, dengan sosialisasi masyarakat konsumsi ikan. Ini tentu perlu kerjasama kementerian kesehatan dan kementerian perikanan dan kelautan. Kita juga butuh lingkungan sehat bebas rokok. Ini butuh kerjasama berbagai pihak,” papar Dr. Pusparini.

Menurut Presiden RI Joko Widodo, upaya menurunkan angka stunting harus terencana dari pola makan, pola asuh, hingga sanitasi keluarga khususnya pada 100 Kabupaten di Negara RI (Setkab RI, 6/4/2018).  “Upaya penurunan angka stunting adalah kerja bersama yang harus melibatkan semua elemen masyarakat, terutama ibu-ibu PKK dan juga perlu pengaktifan kembali secara maksimal fungsi-fungsi Posyandu di kampung, di desa-desa. Dan saya minta supaya untuk dibuat  rencana aksi yang lebih terpadu, lebih terintegrasi yang mempunyai dampak yang konkret di lapangan. Mulai dari intervensi pada pola makan, pada pola asuh, dan juga yang berkaitan dengan sanitasi,” papar Presiden RI Joko Widodo pada Ratas tentang Penurunan Stunting di Kantor Presiden (Jakarta), Kamis (5/4/2018), (Setkab RI, 5/4/2018).

Oleh: Yanty Damayanti (Bandung)

Penerbit


Dollar AS vs Xi-Diplomacy

Perang dollar AS vs Xi-Diplomacy belum memicu ke arah resesi global (lihat grafik). Bagi Rakyat dan Pemerintah Negara RI, pilihannya ialah kemitraan atau kerjasama melahirkan tata tertib dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, keadilan serta ramah lingkungan. Ini amanat Pembukaan UUD 1945. Ini pula peluang dan tantangan bagi Negara RI yang kini menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB hingga tahun 2021. ... Baca selanjutnya

img

Jurnal

Berita