• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Indonesia Raya & Perang Dagang AS vs Tiongkok

Death by China (2011), buku karya Profesor emeritus Peter Kent Navarro (68) dan Greg Autry, menggugat paradigma ‘Keajaiban Tiongkok’ awal abad 21 sebagai model pertumbuhan ekonomi skala global. Sebaliknya, menurut Navarro dkk model Tiongkok adalah ancaman besar terhadap kesehatan, kemakmuran, dan perdamaian dunia sejak era Nazi Jerman paruhan abad 20 (The Economist, 12/3/2017; Aljazeera, 12/3/2017; Bloomberg, 6/3/2017

Penerbit Death by China, Pearson Education Inc., tidak menyebut Negara RI, kecuali Jepang, Korea Selatan dan Taiwan. Model Tiongkok melanggar ‘fair-trade’ melalui subsidi-subsidi ekspor ilegal dan manipulasi nilai tukar serta sangat efektif melumpuhkan daya saing perusahan-perusahan Amerika Serikat (AS) (Ronnie Scheib, 2012). Karena perusahan AS tidak bersaing dengan perusahan, tetapi Pemerintah Tiongkok (Neil Genzlinger, 2012).

Hingga Juli 2017, pengaruh Navarro relatif lemah terhadap kebijakan Gedung Putih (Politico, 28/9/2017). Namun, sejak Februari 2018, pengaruh Navarro menguat dalam pemerintahan Presiden Trump (Ana Swanson/The New York Times, 25/2/2018). Tahun 2006, Navaro merilis buku The Coming China Wars : Where They Will Be Fought, How They Can Be Won.

Untuk menghadapi Model Tiongkok, Navarro merekomendasi tarif 43%, penolakan pakta-pakta perdagangan dengan Tiongkok, memperkuat hubungan militer AS-Taiwan, dan meningkatkan belanja militer AS (Foreign Policy, 20/3/2017). Keunggulan daya saing Tiongkok terhadap AS lebih banyak akibat praktek dagang tidak fair. Akibatnya, sekitar 57 ribu pabrik AS menderita rugi dan 25 juta penganggur (Aljazeera, 12/3/2017).

Tapi, U.S. Treasury dan banyak ekonom tidak percaya Navarro (Business Insider, 12/3/2017). Misalnya, The Economist edisi Maret 2017 melukiskan pandangan Navarro tentang defisit dagang sebagai “dodgy economics’ dan ‘fantasy’ dan Financial Times (2017) melukiskannya sebagai “poor economics”.

Defisit perdagangan AS tahun 2017 mencapai 800 miliar dollar AS. Dari jumlah itu, defisit perdagangan AS dengan Tiongkok mencapai 375 miliar dollar AS. Menurut Peter Navarro, surplus perdagangannya dengan AS memberi Tiongkok sumber dana sangat besar membeli perusahan-perusahan AS, bahkan pada sektor-sektor teknologi sangat sensitif bagi pertahanan dan keamanan AS (Ana Swanson / The New York Times, 12/7/2018).

Pada 6 Juli 2018, Pemerintah AS menerapkan tarif 25% terhadap impor asal Tiongkok senilai 34 miliar dollar AS (Andrew Walker/BBC, 12/7/2018). Target AS ialah melindungi keamanan AS dan properti intelektual dari bisnis AS serta mengurangi defisit dagang AS-Tiongkok (White House, 7/4/2018; Jeremy Diamond/CNN, 22/3/2018) Misalnya, pencurian hak cipta bisnis AS memicu kerugian sekitar 600 miliar dollar AS per tahun (Denis Blair et al/The New York Times, 15/8/2017). Perang Dagang AS vs Tiongkok memicu risiko ekonomi global khususnya pasar uang dan investasi skala global.

Pemerintah Tiongkok juga menerapkan kebijakan serupa dengan nilai sama terhadap produk AS. Sehingga terjadi perang dagang terbesar dalam sejarah ekonomi selama ini. Bahkan Presiden AS, Donald Trump, merilis sinyal bakal menerapkan tarif serupa terhadap impor asal Tiongkok senilai 550 miliar dollar AS (Paul Wiseman & Josk Boak, 2018).

Sejak awal abad 21 untuk membangun Indonesia Raya, pilihan Rakyat dan Pemerintah Negara-Bangsa RI ialah memanfaatkan peluang pergeseran pusat gravitasi ekonomi dunia dari zona Atlantik menuju zona Tiongkok dan India sejak tahun 1980-an dan mencapai puncaknya tahun 2050. Pilihan strategis Negara-Bangsa RI ialah mengembangkan kemitraan bidang ekonomi ke Asia Selatan melalui India dan ke Asia Timur melalui Jepang dan Tiongkok.

Sasaran strategisnya ialah mengelola peluang ekonomi, tanpa mengganggu perimbangan kekuatan (balance of power) Asia Pasifik yang telah dibangun oleh jaringan Sekutu, pemenang Perang Dunia II (khususnya Amerika Serikat dan Australia) di Asia Pasifik. Strategi ini perlu dibangun tanpa mengganggu sistem dan jaringan yang dibangun oleh Amerika Serikat dan sekutunya sejak era Perang Dingin tahun 1960-an di Asia Tenggara. 

 

Oleh: Komarudin Watubun

Penerbit


Anticipatory Democracy & Pemilu Tahun 2019

Risiko bencana skala nasional dan global kini seakan tidak peduli dengan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) vs Tiongkok (Chris. Rugabuer/AP, 29/10/2018) dan pembunuhan Jamal Khashoggi, kolumnis Washington Post, saat penjualan senjata AS ke Arab Saudi senilai 110 miliar dollar AS yang mencipta 500.000 ribu lapangan kerja di AS (Reuters, 30/1/2018). Tragedi dan ancaman bencana alam seakan tidak peduli dengan pertumbuhan ekonomi RI kuartal ke-2 tahun 2018 mencapai 5,27% per tahun (Reuters, 6/8/2018) atau lonjakan ekspor minyak sawit dari Negara RI sebesar 4,25 juta ton pada September dari 4,01 juta ton pada Agustus 2018 (Bernadette Christina Munthe/Reuters 19/10.2018). Begitu pula inflasi Negara RI sekitar 2,88% pada Juni 2018 dan 3,23% pada Mei 2018 (Reuters, 29/6/2018) dan defisit perdagangan RI menurun karena ekspor bat ubara September 2018 (Reuters, 12/10/2018). ... Baca selanjutnya

img

Jurnal

Berita