• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


5 Program Strategis Atasi Stunting Anak

Tahun 2013, World Health Organization (WHO) dan Bappenas RI merilis data stunting (gagal-tumbuh) di Negara RI : sekitar 35,6% anak usia di bawah 6 tahun dan 35,5% anak usia 6-12 tahun, mengalami stunting di Negara RI. Prosentase tertinggi stunting terdapat di Provinsi NTT (51,7%), Sulawesi Barat (48%), dan NTB (45,3%). Dalam laporan Penanganan Stunting Terpadu Tahun 2018 dari Kementerian Keuangan, tercatat bahwa sekitar 9 juta anak usia di bawah 5 (lima) tahun menderita stunting di seluruh Negara RI. Provinsi NTT masih menempati jumlah stunting paling besar sebanyak 319.100 anak di bawah usia 5 (lima) tahun. 

Kamis (5/4/2018) di Kantor Presiden (Jakarta), Presiden RI Joko Widodo yang didampingi oleh Wakil Presiden RI Jusuf Kalla, memimpin Rapat Terbatas (Ratas) tentang Penurunan Stunting. “Stunting atau gagal tumbuh merupakan ancaman utama terhadap kualitas manusia Indonesia, ancaman terhadap kemampuan daya saing Bangsa,” papar Presiden RI Joko Widodo (Setkab RI, 5/4/2018).

Rapat Terbatas itu dihadiri oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menko Perekonomian Darmin Nasution, Menko PMK Puan Maharani, Menko Kemaritiman Luhut B. Pandjaitan, Mensesneg Pratikno, Seskab Pramono Anung, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana S. Yembise, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, Menteri Desa dan PDDT Eko Sandjojo, Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro, Menteri BUMN Rini Soemarno, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, dan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya. (Setkab RI, 5/4/2018)

Menurut Dr. Erlanda Fikri S.K.M., M.Kes, dosen Kesehatan Lingkungan, Jurusan Kesehatan Lingkungan Politeknik Kesehatan Kemenkes (Bandung), selama ini di Negara RI, stunting (gagal-tumbuh) anak-anak merupakan suatu fenomena atau gejala gunung es (iceberg phenomenon) akibat gizi sehat tidak terpenuhi sejak pra kehamilan ibu dan selama kehamilan ibu khususnya; maka harus selalu ada pantauan dan evaluasi berkala terukur dan terarah.

“Akar masalah stunting ialah tidak terpenuhi gizi sehat pra kehamilan dan selama kehamilan seorang ibu. Selama ini, masalah ini di Negara RI merupakan suatu gejala atau fenomena gunung es, iceberg phenomenon, akibat kurangnya monitoring dan evaluasi berkala yang ketat, terukur dan terarah. Akibat, program-program Pemerintah mungkin hanya menyentuh puncak dari fenomena itu, bukan akar masalahnya, dan program-program mungkin tanpa monitoring dan evaluasi berkala dan ketat,” papar Dr. Erlanda Fikri S.K.M., M.Kes, alumnus  S2 Magister Kesehatan Lingkungan di Universitas Diponegoro (2012) dan S3 Doktor Ilmu Lingkungan di Universitas Diponegoro (2015) kepada Staging-Point.Com, Senin (9/7/2018) di Kampus Kesehatan Lingkungan, Politeknik Kesehatan Kemenkes  (Bandung).

Dr. Erlanda Fikri melihat bahwa ada 5 (lima) program efektif mengatasi masalah stunting anak-anak di Negara RI yakni pasokan gizi, foritifikasi makanan, posyandu antara lain mengatasi stunting, PHBS (Perilaku Hidup Bersih) berbasis keluarga (RT/RW), dan pelibatan seluruh stakholder per wilayah dalam program STBM (Sanitasi Total Berbasis Masyarakat).

“Ada 5 (lima) program efektif untuk mengatasi masalah stunting anak-anak di Negara RI saat ini dan ke depan yaitu (1) pelaksanaan Program STBM (Sanitasi Total Berbasis Masyarakat) secara lintas sektoral dan melibatkan stakeholders per wilayah Negara RI; (2) pelaksanaan program PHBS (Perilaku Hidup Bersih) berbasis keluarga; (3) program posyandu dengan fokusnya antara lain mengatasi masalah stunting; (4) fortifikasi makanan; dan (5) pemerataan pasokan makanan bergizi untuk anak-anak dan ibu hamil di seluruh Negara RI. Kelima program ini harus disertasi monitoring, evaluasi dan edukasi publik,” papar Dr. Erlanda Fikri.

Menurut Presiden RI Joko Widodo, upaya menurunkan angka stunting harus terencana dari pola makan, pola asuh, hingga sanitasi keluarga khususnya pada 100 Kabupaten di Negara RI (Setkab RI, 6/4/2018).  “Upaya penurunan angka stunting adalah kerja bersama yang harus melibatkan semua elemen masyarakat, terutama ibu-ibu PKK dan juga perlu pengaktifan kembali secara maksimal fungsi-fungsi Posyandu di kampung, di desa desa. Dan saya minta supaya untuk dibuat  rencana aksi yang lebih terpadu, lebih terintegrasi yang mempunyai dampak yang konkret di lapangan. Mulai dari intervensi pada pola makan, pada pola asuh, dan juga yang berkaitan dengan sanitasi,” papar Presiden RI Joko Widodo pada Ratas tentang Penurunan Stunting di Kantor Presiden (Jakarta), Kamis (5/4/2018), (Setkab RI, 5/4/2018).

Oleh: Yanty Damayanti (Bandung)

Penerbit


ECO-DEMOKRASI

Demokrasi yang terpimpin oleh hikmat kebijaksanaan dapat mengelola alam-alam ciptaan Tuhan Yang Maha Esa secara arif untuk kesejahteraan Rakyat dan sehat lestarinya ekosistem Negara, kecerdasan Bangsa, perlindungan segenap Bangsa dan seluruh tumpah darah dan ketertiban dunia berdasarkan keadilan, kemerdekaan, dan perdamaian. Rakyat tidak hanya berpartisipasi dalam Pemilu, tetapi juga berpartisipasi dalam antisipasi krisis dan tantangan masa datang. Dalam hal ini, upaya-upaya membangun Negara adalah setiap keputusan dan program kerja yang berkaitan dengan sesuatu yang benyawa yakni Rakyat, bumi, air, dan kekayaan alam. Maka sehat atau tidaknya suatu praktek demokrasi dapat diukur dari jejak-ekologisnya (ecological footprint) pada ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. ... Baca selanjutnya

img

Jurnal IPTEK

Berita