• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Strategi Pertanian RI Abad 21: SDM, Hortikultura & Organik

Kamis (7/6/2018) di Kecamatan Sliyeg, Indramayu (Jawa Barat), Presiden RI Joko Widodo meresmikan program perdana Program Kewirausahaan dan Digitalisasi Pertanian. “Di masa yang akan datang, di masa depan, pangan akan menjadi salah satu komoditas yang menjadi rebutan Negara manapun...Negara-negara yang tidak memiliki Ketahanan Pangan, Kedaulatan Pangan akan bingung. Artinya apa? Peran petani akan menjadi semakin penting ke depan, menjadi semakin strategis di seluruh belahan dunia termasuk di Indonesia... sektor pertanian Indonesia mulai dari sekarang, mulai saat ini harus benar-benar memperbaiki diri dan berbenah diri,” papar Presiden RI Joko Widodo (Setkab RI, 7/6/2018).

Selasa (24/10/2018) pada Rapat Kerja Pemerintah (RKP) di Istana Negara (Jakarta), Presiden RI Joko Widodo merilis strategi sektor pertanian agar petani sejahtera di Negara RI.  “Oleh sebab itu, harus ada sebuah pola baru, desain baru. Yang namanya budidaya on-farm dari dulu sampai sekarang sudah kita kerjakan, ya petani akan seperti itu enggak akan mungkin naiknya sampai meloncat, enggak mungkin,” papar Presiden Joko Widodo. Menurut Presiden RI Joko Widodo, subsidi pupuk mencapai Rp 32 triliun tiap tahun; 10 tahun mencapai Rp 320 triliun dan subsidi pupuk selama 20 tahun mencapai Rp 640 triliun. (Setkab RI, 24/1/0/2018).

Menurut Prof. Dr. Is. A. Toekidjan, MP, dosen program studi Agroteknologi pada Institut Pertanian Yogyakarta dan alumnus S3 Ilmu Pertanian, Universitas Gadjah Mada (Yogyakarta), strategi sektor pertanian Negara RI perlu berbasis tiga unsur pokok yakni pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia (SDM) dengan dukungan sains-teknologi, riset dan pengembangan hortikultura, dan pengembangan pertanian organik.

“Etos kerja SDM sektor pertanian masih rapuh pada sejumlah kawasan Negara RI. SDM kita juga masih rapuh pengetahuan mengolah lahan. Misalnya, orang mencangkul dan mengubur tanah gambut, gembur warna hitam. Akibatnya, tanah di atasnya terkubur dan tanah bawah ke atas. Setelah ditanami, tidak ada tanaman yang hidup. Lahan gambut jangan dibalik, hanya potong gulmanya saja. Maka di Kalimantan Tengah dan di Kalimantan Selatan, bekas-bekas gulma atau tumbuhan liar itu ditimbun dan dibiarkan busuk, setelah itu dibalik; setelah busuk, ditebarkan merata. Jadi, pendidikan dan pelatihan SDM serta dukungan teknologi pertanian itu penting,” papar papar Prof. Dr. Is. A. Toekidjan, MP, juga, penulis disertasi Tumpangsari Tebu Lahan Kering dengan Beberapa Jenis Tanaman Palawija (Kaitannya dengan Pertumbuhan Gulma dari Hasil Tanaman) kepada Staging-Point.Com, Rabu pagi (4/7/2018) di ruang kerja Prof. Dr. Is. A. Toekidjan, MP, di Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Yogyakarta.

Prof. Dr. Is. A. Toekidjan, MP, juga melihat simpul strategis kedua dari sektor pertanian Negara RI ialah tanaman hortikultura. “Biaya pemeliharaan, teknologi pengelola hasil, dan pemasaran tanaman hortikultura itu murah. Negara RI sangat potensial sektor ini. Hanya tidak tahan lama. Misalnya, mangga ada musim kemarau 3 (tiga) bulan; jika tidak ada musim kemarau 3 (tiga) bulan, mangga tidak berbunga. Nah, Jawa dan Palu itu kan berbeda musim. Kalau di Jawa musim hujan, di Palu musim kemarau. Sehingga panen mangga dapat diatur tiap tahun. Kuncinya mengetahui siklus musim untuk buah-buahan, sayur, tanaman hias, dan lain-lain. Bisa juga kembangkan vertical-organic farming, jika lahan sempit di kota-kota. Pupuk untuk hortikultura harus organik, jangan pupuk anorganik, kompos hasil pembusukan daun dan kotoran (kandang) yang kaya sumber mineral. Itu bagus,” ungkap Prof. Dr. Is. A. Toekidjan.

Simpul strategis ketiga sektor pertanian RI, menurut Prof. Dr. Is. A. Toekidjan, ialah riset dan pengembangan pertanian organik. “Kita jangan mengulangi kekeliruan pembuat paket varietas tanaman seperti padi unggul dan penggunaan besar-besaran pupuk anorganik, pupuk pabrik. Kadar kandungan hara pupuk pabrik, tinggi sehingga hasilnya meningkat. Namun, tanah menjadi keras dan ruang-ruangnya tidak ada, sehingga tumbuhan tumbuh kurang baik dan rusak. Sedangkan pupuk organik, meskipun kandungan hara sedikit, namun berfungsi memperbaiki tanah kurang bagus. Tanah bagus itu remah, harus berimbang fraksi kasar (pasir) dan fraksi halus (lempung/liat). Ada ruang makro (tempat udara, akar tanaman bernafas) dan ruang mikro (simpan air). Misalnya, tanah Sumatera itu podsolik yang banyak kandungan lempung, maka harus  diberi pupuk kandang supaya nanti remah berimbang antara ruang-ruang makro dan mikro itu berimbang. Oleh karena itu, pilihan ke depan ialah pengembangan sektor pertanian organik dan penggunaan teknologi-teknologi ramah lingkungan, seperti pupuk-pupuk ramah lingkungan,” ujar Prof. Dr. Is. A. Toekidjan. 

Oleh: Christian Syukur (Yogyakarta)

Penerbit


Anticipatory Democracy & Pemilu Tahun 2019

Risiko bencana skala nasional dan global kini seakan tidak peduli dengan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) vs Tiongkok (Chris. Rugabuer/AP, 29/10/2018) dan pembunuhan Jamal Khashoggi, kolumnis Washington Post, saat penjualan senjata AS ke Arab Saudi senilai 110 miliar dollar AS yang mencipta 500.000 ribu lapangan kerja di AS (Reuters, 30/1/2018). Tragedi dan ancaman bencana alam seakan tidak peduli dengan pertumbuhan ekonomi RI kuartal ke-2 tahun 2018 mencapai 5,27% per tahun (Reuters, 6/8/2018) atau lonjakan ekspor minyak sawit dari Negara RI sebesar 4,25 juta ton pada September dari 4,01 juta ton pada Agustus 2018 (Bernadette Christina Munthe/Reuters 19/10.2018). Begitu pula inflasi Negara RI sekitar 2,88% pada Juni 2018 dan 3,23% pada Mei 2018 (Reuters, 29/6/2018) dan defisit perdagangan RI menurun karena ekspor bat ubara September 2018 (Reuters, 12/10/2018). ... Baca selanjutnya

img

Jurnal

Berita