• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Solusi Pencemaran DAS & Tata Kelola Sumber Daya Air

Setelah 14 kali melakukan Rapat tentang Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum, Senin malam (16/1/2018) di Grha Wiksa Praniti, Puslitbang Perumahan dan Pemukiman Kementerian PUPR, Bandung (Jawa Barat), Presiden RI Joko Widodo menerima 20 tokoh pemerhati lingkungan Jawa Barat.  “Telah 14 kali kami melakukan rapat mengenai Citarum ini dan pada malam hari ini kami mohon masukan dan saran dari bapak-ibu sekalian,” papar Presiden RI Joko Widodo yang merilis rencana tata kelola DAS Citarum selama tujuh tahun sejak 2018 (Setkab RI, 16/1/2018)

Selama ini, kebanyakan limbah sekitar 3 (tiga) ribu industri dibuang ke Sungai Citarum. Ada sekitar 2.400 petani kentang, petani wortel, dan perambah hutan lainnya hidup di sekitar Sungai Citarum. Kamis (22/2/2018) di hulu Sungai Citarum, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung (Jawa Barat), Presiden RI Joko Widodo merilis arah kebijakan Revitalisasi DAS Citarum sebagai contoh tatak elola DAS-DAS lainnya di Negara RI. “Ini (Revitalisasi DAS Citarum, red) nantinya akan kita pakai untuk contoh bagi DAS-DAS yang lain yang menyangkut hajat hidup masyarakat banyak. Akan kita mulai penanganannya mulai dari hulu, tengah sampai dengan hilir...Kuncinya ada di integrasi semua kementerian, semua lembaga, pemerintah pusat, pemerintah daerah, provinsi, kabupaten, maupun kota (Setkab RI, 22/2/2018).

Menurut Prof. Robertus Wahyudi Triweko, Ph.D, guru besar Teknik Sumber Daya Air, Jurusan Teknik Sipil, Universitas Parahyangan (Unpar), Bandung, bahwa pencemaran air DAS Citarum berasal dari banyak sumber. “Sumber pencemaran air DAS Citarum  berasal dari  rumah tangga, perkotaan, industri, pertanian, peternakan, dan perikanan. Sebagian besar air limbah perkotaan, industri, dan peternakan yang tidak diolah, dibuang ke dalam air. Penggunaan pupuk buatan yang berlebihan pada pertanian mencemarkan air. Air sungai berwarna hitam dan berbau di wilayah Bandung Raya, serta merebaknya enceng gondok di Waduk Saguling, misalnya, memperlihatkan parahnya pencemaran di Citarum Hulu. Budidaya ikan dengan keramba jaring apung (KJA) pada tiga waduk semakin memperparah pencemaran pada badan air di Sungai Citarum,” papar Prof. Robertus Wahyudi Triweko, Ph.D, alumnus S-3 Doctor of Philosophy (Ph.D.), bidang Water Resources Planning and Management dari Colorado State University, Fort Collins, Colorado (Amerika Serikat), kepada Staging-Point.Com, Selasa (3/7/2018) di Unpar, Bandung.

Model tata kelola sumber daya air dan solusi pencemaran DAS Citarum, menurut Prof. Robertus Wahyudi Triweko, Ph.D, harus merujuk pada amanat UUD 1945 dengan mengelola fungsi sosial, fungsi ekonomi dan fungsi lingkungan dari sumber daya air secara selaras dan berkelanjutan. “Model pengelolaan air di Negara RI yang terdiri dari lebih 17.000 pulau besar dan kecil, harus dapat menyeleraskan tiga fungsi utama sumber daya air yakni fungsi sosial, fungsi ekonomi dan fungsi lingkungan sebagai satuan wilayah pengelolaan secara selaras dan berkelanjutan. Dasarnya ialah amanat Pasal 33 ayat 3 UUD 1945 : “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran Rakyat”. DAS adalah suatu wilayah daratan sebagai satu kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungainya, yang menampung,  menyimpan, dan mengalirkan air dari curah hujan ke danau atau ke laut secara alamiah,” ungkap Prof. Robertus Wahyudi Triweko, Ph.D.

Solusi pencemaran DAS, pemanfaatan sumber daya air, pengendalian banjir, pengelolaan sampah, menurut Prof. Robertus Wahyudi Triweko, Ph.D, dapat dilakukan melalui sejumlah tahapan. “Pengelolaan sumber daya air mencakup konservasi, pendayagunaan, dan pengendalian daya rusak air, serta meliputi satu sistem wilayah pengelolaan yang mencakup perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi. Misalnya, tahapan solusi pencemasan air DAS Citarum ialah (1) Evaluasi karakteristik, besaran, dan distribusi sumber pencemaran air; (2) riset dan pengembangan teknologi pengolahan air limbah sesuai karakteristik dan volume air limbah dari sumber pencemar; (3) Pembangunan IPAL sesuai karakteristik air limbah; (4) Pemantauan, evaluasi, dan pengembangan IPAL secara berkelanjutan; (5) keterpaduan antar sektor dan wilayah guna mengatasi air limbah : (a) kerja sama (pemerintah, industri dan perguruan tinggi) riset dan pengembangan teknologi IPAL; (b) kerja sama industri satu klaster membangun dan mengoperasikan IPAL industri komunal; (c) insentif pembiayaan dari Pemerintah Pusat untuk pengembangan IPAL komunal pada suatu kawasan, misalnya program PAMSIMAS; (d) pengawasan dari masyarakat, wakil Rakyat, dan LSM terhadap pencemaran suatu daerah; dan (e) penegakan hukum terhadap pelanggaran hukum lingkungan,” ungkap Prof. R. W. Triweko, Ph.D.

Oleh: Edward Wirawan

Penerbit


Anticipatory Democracy & Pemilu Tahun 2019

Risiko bencana skala nasional dan global kini seakan tidak peduli dengan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) vs Tiongkok (Chris. Rugabuer/AP, 29/10/2018) dan pembunuhan Jamal Khashoggi, kolumnis Washington Post, saat penjualan senjata AS ke Arab Saudi senilai 110 miliar dollar AS yang mencipta 500.000 ribu lapangan kerja di AS (Reuters, 30/1/2018). Tragedi dan ancaman bencana alam seakan tidak peduli dengan pertumbuhan ekonomi RI kuartal ke-2 tahun 2018 mencapai 5,27% per tahun (Reuters, 6/8/2018) atau lonjakan ekspor minyak sawit dari Negara RI sebesar 4,25 juta ton pada September dari 4,01 juta ton pada Agustus 2018 (Bernadette Christina Munthe/Reuters 19/10.2018). Begitu pula inflasi Negara RI sekitar 2,88% pada Juni 2018 dan 3,23% pada Mei 2018 (Reuters, 29/6/2018) dan defisit perdagangan RI menurun karena ekspor bat ubara September 2018 (Reuters, 12/10/2018). ... Baca selanjutnya

img

Jurnal

Berita