• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Atasi Banjir & Kekeringan : Tampung & Panen Air Hujan

Rabu (13/9/2017) pukul 15.00 wib di Kantor Presiden (Jakarta), Presiden RI Joko Widodo memimpin Rapat Terbatas Penanggulangan Bencana Kekeringan. “Di dalam 2 tahun terakhir ini kita sudah banyak membangun bendungan, waduk, dan embung-embung di desa-desa untuk mengantisipasi ini (kekeringan, red). Saya harapkan ini juga bisa membantu,” papar Presiden RI Joko Widodo (Setkab RI, 13/9/2017).

Rabu (11/2/2015) di Kantor Presiden Jakarta, Presiden RI Joko Widodo memimpin Rapat Terbatas tentang Penanganan Banjir. “Yang terjadi baik di Aceh, di Bandung, dan terakhir kemarin di Jakarta, perlu diseriusi dan kita fokusi. Sehingga masalah yang sudah bertahun-tahun ini (banjir, red), betul betul bisa kita selesaikan. Kalau tidak bisa dihilangkan, kalau bisa dikurangi sebanyak-banyaknya... Hanya kita mempercepat, Gubernur tugasnya apa, Pemerintah Pusat tugasnya apa, Bupati tugasnya apa, tinggal pembagian itu,” papar Presiden RI Joko Widodo (Setkab RI, 11/2/2015). 

Rapat Terbatas itu dihadiri oleh Menko Perekonomian Sofyan Djalil, Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani, Mendagri Tjahjo Kumolo, Mensesneg Pratikno, Sekretaris Kabinet Andi Widjajanto, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono, Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup Siti Nurbaya, Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, Plt. Gubernur Banten Rano Karno, Walikota Bogor Bima Arya, dan Plt. Bupati Bogor. (Setkab RI, 11/2/2015)

Menurut Menurut Asc. Prof Dr. Ing. Ir. Agus Maryono, dosen sumber daya air di Universitas Gadjah Mada (UGM), bahwa bencana banjir dan kekeringan merupakan saudara kembar; sehingga solusi bencana banjir harus sejalan dengan solusi kekeringan yakni menampung air (hujan) sebanyak-banyaknya di daerah hulu sungai agar tidak terjadi bencana kekeringan dan bencana banjir serta tersedia air bersih bagi Rakyat di Negara RI kini dan masa depan.

“Banjir dan kekeringan adalah saudara kembar. Banjir adalah hilangnya air dari satu kawasan menuju satu titik tertentu. Misalnya, apabila sering terjadi banjir di Jakarta, maka Bogor akan mengalami kekeringan. Bogor menjadi kering, karena airnya sudah dibanjirkan ke Jakarta dan airnya hilang.  Karena itu, penyelesaian banjir  harus sejalan dengan penyelesaian kekeringan.

Konsepnya adalah kita harus menampung air hujan sebanyak-banyaknya di daerah hulu agar tidak terjadi kekeringan dan tidak terjadi banjir. Air harus diresapkan sebanyak mungkin di daerah hulu agar tidak terjadi kekeringan atau kebanjiran,,” papar Asc. Prof. Dr. Ing. Ir. Agus Maryono, alumnus Aufbau Stadium (S2) di Fakultaet fuer Bauingenieur und Vermessungs-wesen (Fakultas Teknik Sipil dan Pengukuran), University of Karlsruhe (Jerman) dan S3 (Dr.Ing)  dari Institute fuer Wasserwirtschaft, Hydarulik und Rural Engineering (JManajemen Sumber Daya Air, Hidraulika dan Irigasi) University of Karlsruhe, Jerman, tahun 1995-1996, kepada Staging-Point.Com, Rabu (11/7/2018) di Sekolah Vokasi Teknik UGM, Yogyakarta.

Asc. Prof. Dr. Ing. Ir. Agus Maryono bahwa Rakyat dan Pemerintah Negara RI harus mulai berpikir dan bertindak untuk mengelola atau mengolah air hujan untuk mengatasi bencana banjir dan kekeringan serta menyediakan air bersih.  “Kita harus mulai berpikir dan bertindak mengelola air hujan untuk mengatasi kekeringan dan banjir serta menyediakan air bersih untuk Rakyat. Caranya, pada musim hujan, kita harus menampung air hujan agar sampai pada musim kemarau. Air hujan harus dipanen sebanyak-banyaknya melalui danau, embung, alat  pemanen hujan, perluasan wilayah-wilayah resapan air, dan sebagainya agar kita terhindar dari kekeringan di musim kemarau dan terhindar dari bahaya kebanjiran di musim hujan. Jadi, penanganan banjir dan kekeringan harus dilakukan secara sistemik dan komprensif antara musim kemarau dan musim hujan,” ungkap Asc. Prof. Dr. Ing. Ir. Agus Maryono.

Di sisi lain, Asc. Prof. Dr. Ing. Ir. Agus Maryono juga menyarankan agar Rakyat diedukasi tentang metode tampung dan panen (pemanfaatan) air hujan untuk pengadaan air bersih dan mengatasi kekeringan. “Hal paling penting ialah Rakyat didorong dan diedukasi tentang metode pemanfaatan air hujan. Air hujan adalah sumber air bersih kini dan masa depan. Ini harus menjadi prioritas mengatasi bencana banir, kekeringan dan kelangkaan air bersih. Air hujan dianggap asam, hanya mitos. Hujan asam memang ada, tetapi Negara RI adalah negara kepulauan, sehingga air hujan berasal dari awan laut, bakteri Escherichia coli (E.coli)-nya lebih rendah dan tanpa kandungan deterjen; berbeda dengan air sumur yang banyak kandungan  deterjen dan bakteri E-Coli,” ungkap Asc. Prof. Dr. Ing. Ir. Agus Maryono. 

Oleh: Hilarian A. Hadur

Penerbit


ECO-DEMOKRASI

Demokrasi yang terpimpin oleh hikmat kebijaksanaan dapat mengelola alam-alam ciptaan Tuhan Yang Maha Esa secara arif untuk kesejahteraan Rakyat dan sehat lestarinya ekosistem Negara, kecerdasan Bangsa, perlindungan segenap Bangsa dan seluruh tumpah darah dan ketertiban dunia berdasarkan keadilan, kemerdekaan, dan perdamaian. Rakyat tidak hanya berpartisipasi dalam Pemilu, tetapi juga berpartisipasi dalam antisipasi krisis dan tantangan masa datang. Dalam hal ini, upaya-upaya membangun Negara adalah setiap keputusan dan program kerja yang berkaitan dengan sesuatu yang benyawa yakni Rakyat, bumi, air, dan kekayaan alam. Maka sehat atau tidaknya suatu praktek demokrasi dapat diukur dari jejak-ekologisnya (ecological footprint) pada ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. ... Baca selanjutnya

img

Jurnal IPTEK

Berita