• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Bangun Habitus Wirausaha Melalui Perguruan Tinggi

Awal April 2018, Pemerintah merilis arah strategi industri nasional, khususnya menghadapi fase Revolusi Industri 4.0 yakni fokus sektor industri makanan dan minuman, elektronik, otomotif, tekstil, dan kimia serta ’10 Bali Baru’-- pekerjaan tangan, kerajinan tangan, industri kreatif dan wisata. “Arahnya sudah jelas seperti itu,” papar Presiden RI Joko Widodo pada Pembukaan Indonesia Industrial Summit Tahun 2018 dan Peluncuran “Making Indonesia 4.0” di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan, Jakarta Pusat, Rabu pagi (4/4/2018).

Revolusi industri berbasis sistem fisik-siber telah datang begitu cepat dan serentak di hampir setiap negara di dunia. Revolusi ini dilabel sebagai revolusi industri ke-4 tiga dimensi yakni digital, fisik, dan biologi. Begitu isi sambutan Presiden RI Joko Widodo pada Sarasehan Nasional DPD RI, Jumat 17 November 2017 di Gedung Nusantara IV MPR/DPR/DPD-RI, Jakarta (Setkab RI, 17/11/2017).

Artifisial intelijen, bio-engineering, Internet, mobile-net, bio-teknologi, dan e-commerce siap menggantikan manusia di bidang komunikasi, perbankan, pendidikan, dan lain-lain. Di negara-negara ASEAN, menurut organisasi pekerja dunia ILO (International Labor Organization) dari PBB, robot bakal menggantikan 56% tenaga manusia pada berbagai sektor ekonomi. 

Menurut Johanes Eka Priyatma, MSc., PhD, Rektor Universitas Sanata (Yogyakarta), S1Jurusan Matematika FMIPA–UGM (1982-1987), alumnus S3 S3 Management Information Systems, Graduate School of Management, University Putra Malaysia (2007 – 2011) bahwa dibutuhkan suatu iklim khusus kehidupan berBangsa dan berNegara guna mengelola peluang revolusi industri yang menghasilkan kesejahteraan Rakyat, mencerdaskan kehidupan Bangsa dan melindungi segenap Bangsa dan seluruh tumpah darah sesuai amanat alinea 4 Pembukaan UUD 1945.

“Peluang revolusi industri membutuhkan iklim khusus kehidupan berBangsa dan berNegara guna mewujudkan cita-cita pembentukan Pemerintah dan Negara RI, khususnya kesejahteraan Rakyat, kecerdasan kehidupan Bangsa dan perlindungan segenap Bangsa dan seluruh tumpah darah yaitu (1) ada kepastian hukum dan ketertiban umum, (2) ketersediaan infrastruktur, (3) reformasi birokrasi tanpa korupsi, (4) praktek demokrasi (kerakyatan) melalui musyawarah, mufakat dan perwakilan yang dituntun oleh hikmat dan bijaksana dan akuntabel bukan korupsi dan politisasi SARA dengan risiko terkikis rasionalitas dan menguatnya radikalisme,” papar Johanes Eka Priyatma, MSc.,PhD, alumnus S2 Computer Science, Ateneo de Manila Graduate School of Business (1991 – 1993) kepada Staging-Point.Com, Jumat (20/7/2018),  di  Ruang Rektorat Sanata Dharma.

Bagi Rakyat dan Pemerintah Negara RI, menurut Johanes Eka Priyatma, MSc.,PhD, ada tantangan mengelola peluang revolusi industri tersebut di atas. “Ada sejumlah tantangan bagi Bangsa Indonesia saat ini untuk mengelola peluang revolusi industri fase 3-4 khususnya. Pertama, Negara RI adalah negara agraris sehingga perguruan tinggi khususnya sulit meriset  industri-industri;  kedua, selama ini kita masih berada pada level konsumsi teknologi maju dari negara-negara lain,” ungkap Johanes Eka Priyatma, MSc.,PhD.

Johanes Eka Priyatma, MSc.,PhD melihat bahwa upaya mengelola peluang revolusi industri dan meningkatkan daya saing Bangsa kita di bidang industri dapat dimulai dari perguruan tinggi dengan membangun habitus wirausaha. “Rakyat dan Pemerintah Indonesia perlu membangun habitus wirausaha berbasis perguruan tinggi antara lain (1) melahirkan pola pikir kreatif dan inovatif di perguruan tinggi misalnya bidang seni, film, industri entertainment, desain, budaya dan lain-lain; (2) mengembangkan riset-riset dan praktek perawatan lingkungan, pemecahan masalah-masalah sosial-ekonomi dan lingkungan (ekologi) masyarakat; (3) pelatihan memanfaatkan sains dan teknologi untuk kesejahteraan Rakyat dan kecerdasan Bangsa, bukan hanya diri sendiri; misalnya insinyur mulai memikirkan dan memanfaatkan IPTEK agar masyarakat sejahtera dan cerdas; (4) pelatihan menciptakan sistem produksi yang tidak manipulatif, korup dan merusak lingkungan, tetapi merawat dan menyehatkan lingkungan; (5) pelatihan atau penciptaan wirausaha berbasis spirit nilai-nilai, tradisi, budaya, dan sejarah Bangsa khususnya nilai-nilai dasar Negara RI guna menciptakan lapangan-lapangan kerja baru,” ungkap Johanes Eka Priyatma, MSc.,PhD.

Oleh: Didimus E. Turuk/ Hilarian A. Hadur

Penerbit


Anticipatory Democracy & Pemilu Tahun 2019

Risiko bencana skala nasional dan global kini seakan tidak peduli dengan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) vs Tiongkok (Chris. Rugabuer/AP, 29/10/2018) dan pembunuhan Jamal Khashoggi, kolumnis Washington Post, saat penjualan senjata AS ke Arab Saudi senilai 110 miliar dollar AS yang mencipta 500.000 ribu lapangan kerja di AS (Reuters, 30/1/2018). Tragedi dan ancaman bencana alam seakan tidak peduli dengan pertumbuhan ekonomi RI kuartal ke-2 tahun 2018 mencapai 5,27% per tahun (Reuters, 6/8/2018) atau lonjakan ekspor minyak sawit dari Negara RI sebesar 4,25 juta ton pada September dari 4,01 juta ton pada Agustus 2018 (Bernadette Christina Munthe/Reuters 19/10.2018). Begitu pula inflasi Negara RI sekitar 2,88% pada Juni 2018 dan 3,23% pada Mei 2018 (Reuters, 29/6/2018) dan defisit perdagangan RI menurun karena ekspor bat ubara September 2018 (Reuters, 12/10/2018). ... Baca selanjutnya

img

Jurnal

Berita