• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Renungan 73 Tahun Indonesia Merdeka

Jumat 73 tahun silam, 17 Agustus tahun 1945, pukul 10.00 wib di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, Jakarta, Ir. Soekarno yang didampingi antara lain oleh Drs. Moh. Hatta, dokter KRT Radjiman Wedyodiningrat, Sam Ratulangi dan Teuku Moh. Hassan, membaca Teks Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia, yang disusun di rumah Laksamana Tadashi Maeda (Jl. Imam Bonjol No.1-Jakarta) Kamis 16 Agustus 1945 - dini hari 17 Agustus 1945.

Hari-hari jelang peringatan 73 Tahun Kemerdekaan Bangsa Indonesia, 4 (empat) isu dari Negara RI disorot oleh dunia internasional. Bangsa Indonesia berduka. Tragedi gempa sejak 29 Juli 2018 – 5 Agustus 2018, di Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), menelan korban jiwa 436 orang, kerugian material sekitar Rp 5 triliun, dan sekitar 350 ribu warga terpaksa mengungsi (AP, 13/8/2018).

Aktivis dan peneliti konservasi hutan dan lingkungan hidup dunia menyorot ulah sekelompok konglomerat di Negara RI yang membabat hutan alam seluas 32.000 ha, antara lain mengancam orang utan dan hutan tropis di Kalimantan Barat, sejak tahun 2013. Tanpa kejelasan upaya konservasi. (Stephen Wright/AP, 16/8/2018).

Masyarakat dunia juga menyorot persiapan Rakyat dan Pemerintah RI sebagai tuan rumah Asian Games ke-18 sejak 18 Agustus - 2 September 2018 di Jakarta dan Palembang (Sumatera Selatan). Event ini dihadiri oleh 12.000 atlet, staf dan offcials serta 5.000 wartawan dari dalam dan luar negeri. Pemerintah RI melibatkan 100.000 personil Polri dan TNI serta 100.000 personil lainnya siaga. Sekitar Rp 2 triliun dana digunakan untuk renovasi stadion, venues dan infrastruktur lainnya. (Stephen Wright/AP, 14/8/2018).

Berikutnya, media dunia menyorot pendaftaran pasangan calon Presiden Joko Widodo dan calon wakil Presiden Ma'ruf Amin; pasangan calon Presiden Prabowo Subianto dan calon Wakil Presiden Sandiaga S. Uno untuk Pemilu Presiden tahun 2019 (Xinhua/Veri Sanovri, 20/8/2018; Reuters/Tom Allard, Gayatri Suroyo, 10/8/2018).

Di sisi lain, hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS) menemukan bahwa Maret 2017, jumlah penduduk miskin Negara RI mencapai 27,77 juta orang (10,64%) atau naik 6.900 orang dibanding September 2016 yang sebanyak 27,76 juta orang miskin (Setkab RI, 24/7/018). Pada tahun 2018, rata-rata pertumbuhan ekonomi tahunan berkisar 5% (Reuters, 10/8/2018).

Di sisi lain, pada Sidang Kabinet Papurna Senin (9/4/2018) di Istana Negara (Jakarta), Pemerintah merilis data bahwa  APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) Tahun 2019 hanya memberi kontribusi 15% PDB (Produk Domestik Bruto) Negara RI.

Jumlah koperasi mencapai 209.488 unit dan anggota 36.443.953 orang tahun 2016 dengan Pancasila sebagai filsafat dan dasar negara serta jiwa Bangsa Indonesia. Organisasi sosial ekonomi berdasar Pancasila hanya Koperasi (UU No. 25/1992 Perkoperasian). Namun, Koperasi hanya memberi kontribusi 3,9% PDB Negara RI. Artinya, lebih dari 80% struktur ekonomi Negara RI kini dikuasai oleh swasta (privat).

Hal-hal tersebut di atas harus menjadi renungan dan PR bagi Pemerintah RI dalam menjabarkan khususnya Pasal 27, 33 dan 34  UUD 1945 dan alinea IV Pembukaan UUD 1945. Alasannya, rapuhnya tanggung jawab sosial-ekonomi dan lingkungan dari Negara kepada Rakyat dapat mengubah Negara—khususnya risiko disfungsionalnya Negara karena rapuh melakukan tugas-tugas konstitusional atau Negara menjadi impoten (state-impotence).

Kita juga perlu mendengar pesan Proklamator Kemerdekaan Bangsa Indonesia, Drs. Moh. Hatta tentang axiomata kapitalisme yakni risiko konflik antara kepentingan per orangan (individualisme) vs kepentingan umum (Republik), persaingan bebas dalam perekonomian atau laissez-faire yang tidak sesuai dengan corak sejarah, karakter, budaya, dan nilai kekeluargaan Bangsa Indonesia (I. Wangsa Widjaja et al, 2002:132, 229).

Risiko lainnya, seluruh unsur tata ekonomi seperti lahan, tenaga kerja, dan modal menjadi komoditi yang dapat dijual-beli dan demokrasi diubah ke dalam pola-pola hubungan pasar.  Dampaknya sangat hebat untuk pertama kalinya dalam sejarah peradaban manusia di dunia. Karena sistem negara demokratis akhirnya terpaut erat ke dalam sistem kapitalisme. Bukan sebaliknya (Polanyi, 2001: 78; Macpherson, 2006: 9-10). Ini pula renungan bagi Bangsa Indonesia pada Peringatan Kemerdekaan ke-73 hari ini, Jumat 17 Agustus 2018. 

Oleh Komarudin Watubun

Penerbit


Anticipatory Democracy & Pemilu Tahun 2019

Risiko bencana skala nasional dan global kini seakan tidak peduli dengan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) vs Tiongkok (Chris. Rugabuer/AP, 29/10/2018) dan pembunuhan Jamal Khashoggi, kolumnis Washington Post, saat penjualan senjata AS ke Arab Saudi senilai 110 miliar dollar AS yang mencipta 500.000 ribu lapangan kerja di AS (Reuters, 30/1/2018). Tragedi dan ancaman bencana alam seakan tidak peduli dengan pertumbuhan ekonomi RI kuartal ke-2 tahun 2018 mencapai 5,27% per tahun (Reuters, 6/8/2018) atau lonjakan ekspor minyak sawit dari Negara RI sebesar 4,25 juta ton pada September dari 4,01 juta ton pada Agustus 2018 (Bernadette Christina Munthe/Reuters 19/10.2018). Begitu pula inflasi Negara RI sekitar 2,88% pada Juni 2018 dan 3,23% pada Mei 2018 (Reuters, 29/6/2018) dan defisit perdagangan RI menurun karena ekspor bat ubara September 2018 (Reuters, 12/10/2018). ... Baca selanjutnya

img

Jurnal

Berita