• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


‘Comprehensive Partnership’ RI-Australia

Sabtu (17/3/2018) di Sydney (Australia), Menteri Luar Negeri Australia Julie Bishop dan Sekretaris Jenderal 10 negara anggota ASEAN (Association of South East Asian Nations) Lim Jock Hoi menandatangani ASEAN-Australia Memorandum of Understanding (MoU) on Cooperation to Counter International Terrorism bidang tukar-menukar intelijen, kerjasama penegakan hukum dan kontra-esktremisme melalui media sosial. Penandatanganan MoU disaksikan antara lain oleh Presiden RI Joko Widodo, Perdana Menteri Australia, Malcolm Turnbull; Perdana Menteri Malaysia, Najib Razak; Perdana Menteri Singapura, Lee Hsien Loong; Perdana Menteri Thailand, Prayut Chan-O-Cha (Alison Bevege/Reuters, 17/3/2018).

Perihal MoU kerja sama kontra-terorisme ASEAN-Australia, Presiden RI Joko Widodo mengakui upaya Australia dalam kerja sama kontra-teror Australia-ASEAN. “Saya ingin menyampaikan apresiasi kepada Australia atas upaya memajukan kerja sama counter-terrorism dengan ASEAN. Kerja sama di bidang counter-terrorism menjadi perhatian semua negara. Hal ini sangat dapat dipahami, mengingat sampai saat ini ancaman terorisme tidak berkurang, termasuk di kawasan kita,” papar Presiden RI Joko Widodo pada Outstanding Youth for The World di Exhibition Hall, International Convention Centre, Sydney, Sabtu 17 Maret 2018 (Setkab RI, 17/3/2018).

Menurut Mangadar Situmorang, Ph.D, Rektor Universitas Parahyangan, hubungan Australia-ASEAN memiliki nilai strategis di bidang budaya dan keamanan; sedangkan hubungan RI-Australia memiliki nilai strategis secara budaya, ekonomi dan keamanan; oleh karena itu, RI perlu mengelola hubungan RI-Australia pada level comprehensive-partnership.

“Dari sisi budaya, hubungan ASEAN-Australia memiliki nilai strategis. Misalnya, Australia memiliki Colombo Plan, program pembiayaan studi bagi mahasiswanya ke Asia seperti Negara RI, Vietnam, Malaysia, Kamboja, Thailand, selain India, Jepang, Eropa, dan Amerika Serikat. Dari Asia, selain Tiongkok, mahasiswa Malaysia dan Vietnam paling banyak studi di Australia saat ini. Ini dari sisi kultural. Dari sisi keamanan, Australia terlibat dalam Big Five (Australia, Singapura, Malaysia, Selandia Baru, dan Inggris) dalam pengaturan keamanan zona Asia Tenggara. Australia juga membuka wilayah Darwin (utara Australia) sebagai pangkalan (Coastal Guard, US Marine  dan US Navy) Amerika Serikat. Hubungan ekonomi Australia-ASEAN belum strategis, kecuali misalnya pasokan komoditi pertanian dari Vietnam dan Thailand ke pasar Australia,” ungkap  Mangadar Situmorang, Ph.D, alumnus S3 Flinders University (Adelaide, Australia) tahun 2003 dan  Curtin University (Perth, Australia) tahun 2007 kepada Staging-Point.Com, Selasa (3/7/2018) di Ruang Rektorat Universitas Parahyangan (Bandung).

Di sisi lain, Mangadar Situmorang, Ph.D melihat nilai strategis hubungan RI-Australia di bidang kultural, keamanan, dan ekonomi, selain RI-Australia memiliki kedekatan geografis dan historis selama ini. Oleh karena itu, hubungan RI-Australia perlu dikelola pada level comprehensive partnership (budaya, ekonomi, dan isu keamanan).

“Hubungan bilateral RI-Australia sangat strategis. Karena secara historis, Australia mendukung upaya perjuangan kemerdekaan Bangsa Indonesia tahun 1940-an dan kedekatan geografis kedua negara. Australia berinteraksi dengan Asia melalui RI. RI-Australia memiliki hubungan bilateral kuat di sektor agrikultur. Kita impor sapi, selain gipsum dan baja ringan, dari Australia. Saat ini sekitar 60 ribu mahasiswa RI studi di Australia; dulu Bahasa Indonesia menjadi second language di Australia; ada konsorsium perguruan tinggi Australia, ACICIS (Australian Consortium for ‘In-Country’ Indonesian Studies) untuk program mahasiswa Australia ke Negara RI; jurusan Hubungan Internasional di Universitas Parahyangan, misalnya, menerima banyak mahasiswa asal Australia. Karena itu, bidang ekonomi, kultural, dan keamanan perlu dirawat dan dikembangkan dalam comprehensive partnership antara RI-Australia,” papar Mangadar Situmorang, Ph.D.

Sedangkan di bidang keamanan non-tradisional, Australia berkepentingan bahwa Negara RI merupakan wilayah aman. “Australia sangat berkepentingan dengan keamanan Negara RI. Kalau Negara RI aman, Australia juga aman. Ini antara lain berkaitan dengan isu ancaman nuklir Korea Utara dan serangan teroris dalam Bom Bali I dan Bom Bali II di zona Negara RI. Maka ada latihan bersama dan kerja sama RI-Australia dalam merespons ancaman keamanan non-tradisional ini. Selain itu, isu human rights (Papua) dijadikan isu oleh kelompok tertentu di Australia, meskipun bukan menjadi sikap resmi Pemerintah Australia,” ungkap Mangadar Situmorang, Ph.D.

Oleh: Veronika Dani (Bandung)

Penerbit


Anticipatory Democracy & Pemilu Tahun 2019

Risiko bencana skala nasional dan global kini seakan tidak peduli dengan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) vs Tiongkok (Chris. Rugabuer/AP, 29/10/2018) dan pembunuhan Jamal Khashoggi, kolumnis Washington Post, saat penjualan senjata AS ke Arab Saudi senilai 110 miliar dollar AS yang mencipta 500.000 ribu lapangan kerja di AS (Reuters, 30/1/2018). Tragedi dan ancaman bencana alam seakan tidak peduli dengan pertumbuhan ekonomi RI kuartal ke-2 tahun 2018 mencapai 5,27% per tahun (Reuters, 6/8/2018) atau lonjakan ekspor minyak sawit dari Negara RI sebesar 4,25 juta ton pada September dari 4,01 juta ton pada Agustus 2018 (Bernadette Christina Munthe/Reuters 19/10.2018). Begitu pula inflasi Negara RI sekitar 2,88% pada Juni 2018 dan 3,23% pada Mei 2018 (Reuters, 29/6/2018) dan defisit perdagangan RI menurun karena ekspor bat ubara September 2018 (Reuters, 12/10/2018). ... Baca selanjutnya

img

Jurnal

Berita