• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Pendekatan Estetik dan Filosofis Pendidikan Pancasila

Sabtu (10/2/2018) pada acara Silaturahmi Peserta Musyawarah Besar Pemuka Agama Untuk Kerukunan Bangsa di Istana Kepresidenan Bogor (Jawa Barat), Presiden RI Joko Wido merilis visi Pancasila, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika. “Indonesia itu memiliki 714 suku, memiliki 17.000 pulau, memiliki 1.100 lebih bahasa daerah... Visi kita, kita memang harus memperkokoh Pancasila, memperkokoh NKRI, memperkokoh Bhinneka Tunggal Ika kita. Tetapi visi kita juga ikut melaksanakan ketertiban dunia, memberikan kontribusi untuk perdamaian di negara-negara sahabat kita,” papar Presiden RI Joko Widodo (Setkab RI, 10/2/2018).

Jumat pagi (1/6/2018) pada Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila di Halaman Gedung Pancasila Kementerian Luar Negeri (Jakarta), Jumat (1/6/2018), Presiden RI Joko Widodo menyampaikan nilai historis Pancasila. “Pancasila pertama kali diuraikan secara jelas oleh Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945, kemudian dituangkan dalam Piagam Jakarta pada tanggal 22 Juni 1945 dan dirumuskan secara final pada tanggal 18 Agustus 1945. Para pendiri Bangsa dari berbagai kelompok, golongan, dan latar belakang duduk bersama untuk menetapkan Pancasila sebagai pemersatu segala perbedaan,” papar Presiden RI Joko Widodo (Setkab RI, 1/6/2018).

Menurut Prof. Dr. Bambang Sugiharto, Guru Besar Filsafat Universitas Parahyangan (Bandung), bahwa Pancasila merupakan doktrin dan nilai ideal-universal yang dimaknai dan digarisbawahi secara satu kesatuan oleh para pendiri Negara-Bangsa RI sebagai dasar kehidupan berbangsa dan bernegara RI yang berkedaulatan Rakyat.

“Kelima sila Pancasila adalah cara khas pendiri Negara-Bangsa RI dan Bangsa Indonesia memaknai dan menggarisbawahi doktrin dan nilai-nilai dasar yang ideal dan universal sebagai satu kesatuan utuh dasar kehidupan berbangsa dan bernegara RI. Setiap sila dipahami dan diwujudkan dalam kaitannya dengan sila-sila lainnya secara keseluruhan. Bangsa lain mungkin memaknai dan menjabarkan nilai-nilai itu secara terpisah-pisah,” papar Prof. Dr. Bambang Sugiharto, alumnus Magister (S2) dan Doktoral (S3) di Facoltà Filosofia, Università San Tomaso, Roma (Italia) dengan disertasi The Primacy of Metaphor in Postmodern Philosophy tahun 1993 kepada Staging-Point.Com, Rabu (4/7/2018) melalui email (pos-el).

Saat ini, Prof. Dr. Bambang Sugiharto melihat tantangan kehidupan berbangsa dan bernegara berdasar Pancasila antara lain lalu lintas pendapat kaotis, kedangkalan berpikir, krisis identitas,dan kesenjangan sosial ekonomi pada masyarakat. “Tantangan dan kendala merawat persatuan-kesatuan berdasarkan Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini antara lain (1) berkembang lalu lintas pendapat kaotis dalam ruang publik kehidupan bangsa; misalnya tindakan kekerasan dianggap sebagai kepahlawanan, korupsi dianggap suci, dan kekonyolan dihayati sebagai kesalehan, sehingga timbul kedangkalan berpikir, kebodohan kolektif, ketidakpastian dan kontradiksi di masyarakat; (2) krisis identitas; dan (3) kesenjangan sosial ekonomi pada masyarakat,” ungkap Prof. Dr. Bambang Sugiharto.

Solusi dari tantangan dan kendala tersebut di atas, menurut Prof. Dr. Bambang Sugiharto, ialah pendidikan dan pelajaran estetika (Seni) dan filosofi dalam arti luas. “Kita membutuhkan pendidikan dan pelajaran berpikir kritis, mandiri, dan pelatihan kejiwaan (hati) guna mengimbangi tendensi dogmatisme dan pendidikan keterampilan teknis yang kini tampak diutamakan.  Untuk itu, pelajaran-pelajaran filosofis dalam arti luas dan seni--apresiasi seni yang mendalam, bukan hanya pelatihan keterampilan--sangatlah diperlukan. Karena kedua bidang ini  mendidik berpikir luas, mendalam, fleksibel, kritis,  kreatif, empatis, toleran terhadap perbedaan, dan mematangkan jiwa. The heart of education is education of the heart, not simply training of skills. Filsafat dan seni sangat penting untuk itu pelatihan jiwa dan hati,” ungkap Prof. Dr. Bambang Sugiharto.

Untuk merawat persatuan-kesatuan Bangsa dan Negara RI berdasarkan Pancasila, menurut Prof.Dr. Bambang Sugiharto, diperlukan pendidikan dan pelajaran estetika dan filsafat (logika) berbasis Pancasila. “Pendidikan Pancasila perlu menerapkan pendekatan estetik, misalnya melalui film, meme, teater, lukisan, puisi, musik, nove, dan lain-lain, dan perspektif filosofis dalam rangka sosialisasi identitas plural dan kontekstual Bangsa Indonesia yang merawat Bhinneka Tunggal Ika berdasarkan Pancasila,” papar Prof. Dr. Bambang Sugiharto. 

Oleh: Veronika Dina (Bandung)

Penerbit


Dollar AS vs Xi-Diplomacy

Perang dollar AS vs Xi-Diplomacy belum memicu ke arah resesi global (lihat grafik). Bagi Rakyat dan Pemerintah Negara RI, pilihannya ialah kemitraan atau kerjasama melahirkan tata tertib dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, keadilan serta ramah lingkungan. Ini amanat Pembukaan UUD 1945. Ini pula peluang dan tantangan bagi Negara RI yang kini menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB hingga tahun 2021. ... Baca selanjutnya

img

Jurnal

Berita