• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Menciptakan Wirausaha Di Era Revolusi Digital

Kamis (5/4/2018) di Istana Merdeka (Jakarta), Presiden RI Joko Widodo menerima  Pengurus Pusat dan Daerah Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI).  “Negara kita ini membutuhkan entrepreneur yang harusnya tiap tahun meningkat. Hampir di semua negara maju memang standarnya memiliki entrepreneur di atas 14 persen. Kita sekarang ini angkanya masih 3,01 persen,” papar Presiden RI Joko Widodo usai menerima Pengurus Pusat dan Daerah Himpunan Pengusaha Muda Indonesia. Hadir pada acara itu antara lain Menko Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, dan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto (Setkab RI, 5/4/2018).

Presiden RI Joko Widodo melihat perubahan landscape ekonomi Negara RI akhir-akhir ini dapat membuka tiga peluang bagi wirausaha pemula di bidang usaha resto, kerajinan hand-made, dan start-up aplikasi IT. “Bila anak-anak muda ini mau menggeluti bisnis yang berkaitan dengan e-commerce, online, dan lain lain. Karena di sinilah sebetulnya ada sisi keuntungannya juga sangat besar dan yang kedua, juga membantu masyarakat dalam rangka lebih efisien lagi yaitu di socio-entrepreneur,” papar Presiden RI Joko Widodo pada Rapat Pimpinan HIPMI di Tangerang, Banten, Rabu (7/3/2018) (Setkab RI, 7/3/2018).

Dari hasil risetnya tentang usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) sejak tahun 1980, Prof. Dr. H. Yuyus Suryana S. SE., M.S., dosen Program Magister Manajemen Pascasarjana, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Padjadjaran(Bandung), terdapat 4 (empat) tantangan dan kendala melahirkan wirausaha-wirausaha (muda) di Negara RI selama ini.

“Lansekap ekonomi Negara RI saat ini memang membuka peluang usaha bagi wirausaha baru, khususnya wirausaha muda. Namun, dari hasil penelitian saya tentang usaha mikro,  kecil dan menengah (UMKM) sejak tahun 1980, terdapat 4 (empat) kendala utama melahirkan wirausaha-wirausaha muda (baru) di Negara RI yakni (1) kita lebih banyak memiliki pedagang, bukan wirausaha, dengan ciri pola pikir serba instan, jangka pendek, keuntungan pribadi (egois dan tanpa berpikir jangka panjang seperti wirausaha umumnya; (2) pelaku usaha kita sangat bergantung pada dukungan Pemerintah atau pihak berwenang; wirausaha sejati selalu independen dan mandiri; (3) kreativitas dan inovasi kurang; ciri khas wirausaha ialah memiliki kreativitas dan inovasi guna menemukan solusi berbagai masalah dan mengelola peluang serta siap menghadapi risiko; dan (4) wirausaha berupaya taat aturan; kultur ini masih kurang di kalangan pelaku usaha UMKM kita,” papar Prof. Dr. H. Yuyus Suryana S. SE., M.S., alumnus S3 Ilmu Ekonomi Manajemen di Universitas Padjadjaran (Bandung) tahun 2000 kepada Staging-Point.Com, Jumat (10/7/2018) di Aula Masjid Pusat Dakwah Islam, Bandung.

Ada 6 (enam) kiat, menurut Prof. Dr. H. Yuyus Suryana, sebagai solusi atas 4 tantangan dan kendala menciptakan wirausaha muda atau kultur wirausaha di Negara RI. “Revolusi digital sebagai pilar utama revolusi industri generasi 4.0 saat ini membuka peluang lahirnya wirausaha baru. Dari hasil observasi saya selama ini, ada 6 (enam) kiat melahirkan wirausaha yaitu (1) perkuat jaringan (network) antara lain berbasis teknologi digital; (2) bina relasi yang menciptakan nilai baru dari mata-rantai produksi hingga pemasaran; misalnya, ada wirausaha hanya dengan bermodalkan komunikasi atau bina relasi e-commerce dengan pabrik suatu produk, menerima pesanan atau pembeli dari negara-negara lain dengan dengan harga dan kualitas sama; Nike, misalnya, hanya miliki brand; (3) skill desain berbasis inovasi dan kreativitas; (4) kepercayaan (trust); jika bohong, dicoret dari pasar; (5) kontrol kualitas produk atau jasa (quality control); dan (6) keunikan produk dan jasa; keunikan selalu menjadi monopolistik pasar; misalnya, mie instan selalu memiliki varian unik; di Jepang, setiap desa memiliki keunikan dan kearifan lokal,” papar Prof. Dr. H. Yuyus Suryana, Ketua Dewan Penasehat Asosiasi Pemandu Wirausaha Indonesia (APWI) sejak 2011.

Bank Dunia (2008) merilis laporan bahwa, jumlah wirausaha Negara RI hanya berkisar 1,56% dari total penduduk. Singapura mencapai 7,2% dari total penduduk. Thailand berkisar 4,1% dari total penduduk. Badan Pusat Statistik (BPS) merilis hasil survei Februari 2014 bahwa terdapat 20,32 juta orang Indonesia bekerja sendiri; 19,74 juta pengusaha dibantu buruh tidak tetap dan hanya 4,14 juta pengusaha dibantu oleh buruh tetap. Akibatnya, wirausaha (entrepreneur) belum banyak menciptakan nilai-nilai sosial ekonomi seperti penciptaan lapangan kerja, pengembangan karir, suplai modal, alokasi sumber, inovasi usaha dan produk di Negara RI. 

Oleh: Ismail Hagi (Bandung)

Penerbit


Anticipatory Democracy & Pemilu Tahun 2019

Risiko bencana skala nasional dan global kini seakan tidak peduli dengan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) vs Tiongkok (Chris. Rugabuer/AP, 29/10/2018) dan pembunuhan Jamal Khashoggi, kolumnis Washington Post, saat penjualan senjata AS ke Arab Saudi senilai 110 miliar dollar AS yang mencipta 500.000 ribu lapangan kerja di AS (Reuters, 30/1/2018). Tragedi dan ancaman bencana alam seakan tidak peduli dengan pertumbuhan ekonomi RI kuartal ke-2 tahun 2018 mencapai 5,27% per tahun (Reuters, 6/8/2018) atau lonjakan ekspor minyak sawit dari Negara RI sebesar 4,25 juta ton pada September dari 4,01 juta ton pada Agustus 2018 (Bernadette Christina Munthe/Reuters 19/10.2018). Begitu pula inflasi Negara RI sekitar 2,88% pada Juni 2018 dan 3,23% pada Mei 2018 (Reuters, 29/6/2018) dan defisit perdagangan RI menurun karena ekspor bat ubara September 2018 (Reuters, 12/10/2018). ... Baca selanjutnya

img

Jurnal

Berita