• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Cetak Sociopreneur Melalui Sistem Service Learning

Selasa pagi (19/12/2017) pada acara Dies Natalis ke-68 Universitas Gadjah Mada (UGM) di Grha Sabha Pramana UGM (Yogyakarta), Presiden RI Joko Widodo merilis visi tentang peran perguruan tinggi mencetak sociopreneur yang dapat memecahkan masalah-masalah masyarakat dan lingkungannya di Negara RI sejak awal abad 21.

“Tatkala lanskap politik, lanskap ekonomi berubah, lanskap sosial budaya berubah, pasti agenda penelitian dan pengabdian masyarakat universitas juga perlu mengalami perubahan.... Di kalangan anak muda telah banyak yang menjadi sociopreneur, yaitu memecahkan masalah sosial melalui cara-cara kewirausahaan... Sungguh saya berharap pendidikan tinggi mampu meningkatkan perannya sebagai bagian penting dari ekosistem untuk mengembangkan kewirausahawan, mencetak sociopreneur,” papar Presiden RI Joko Widodo (Setkab RI, 19/12/2017).

Pada acara Dies Natalis UGM itu, antara lain dihadiri pula oleh Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki, Gubernur DI Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono X, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi M Nasir, Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Gubernur Lemhannas Agus Widjojo dan Sekjen Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Setkab RI, 19/12/2017).

Menurut Dr Listia Natadjaja, ST, MT, M.Des, Prodi Desain Komunikasi Verbal,  Fakultas Seni dan Desain  Universitas Kristen Petra (Surabaya), bahwa selama ini, pendidikan di perguruan tinggi tidak berjalan linier dengan prakteknya di masyarakat dan lingkungannya; akibatnya, perguruan tinggi menjadi ‘menara gading’ di tengah kebutuhan-kebutuhan dan masalah-masalah masyarakat dan lingkungannya.

“Masalah utama perguruan tinggi di Negara RI selama ini ialah pendidikan dan prakteknya tidak berjalan linier. Akibatnya, perguruan tinggi dan SDM (Sumber Daya Manusia) yang dihasilkan oleh perguruan tinggi ibarat ‘menara gading’ di tengah kebutuhan dan masalah-masalah masyarakat dan lingkungannya,” papar Dr. Listia Natadjaja, ST, MT, M.Des, alumnus S2 Desain Multimedia di Dongseo University (Korea Selatan) tahun 2004 dan S3 Kajian Budaya dan Media di Universitas Gadjah Mada (Yogyakarta) tahun  2015 kepada Staging-Point.Com, Jumat (6/7/2018) di Lantai 7 Kampus Universitas Kristen Krida Wacana (UKRIDA), Jakarta.

Dr. Listia Natadjaja melihat bahwa negara-negara maju sudah lama menerapkan sistem pembelajaran terpadu pengetahuan dan praktek guna menghasilkan sociopreneur, antara lain melalui sistem pembelajaran Service Learning (SL) guna menghasilkan inovasi, kreasi, solusi, dan insight baru terhadap masalah dan kebutuhan masyarakat dan lingkungannya.

“Di Amerika Serikat, metode pembelajaran yang memadukan pengetahuan dan praktek (Service Learning/ SL) dimulai sejak 1903 di Chicago. Metodenya ialah mahasiswa melakukan kuliah kerja nyata atau praktek pada kelompok masyarakat tertentu. Tahun 1938, filsuf Jhon Dewey mengembangkan metode SL berupa Experimental Learning. Sedangkan di Asia, metode ini sudah dikembangkan oleh Jepang dan Hong Kong. Sedangkan di Negara RI, metode SL antara lain sudah diterapkan ke dalam 11 mata kuliah oleh Kampus Kristen Petra di Surabaya sejak tahun 2013,” papar Dr. Listia Natadjaja.

Dr. Listia Natadjaja menambahkan bahwa metode SL dapat menghasilkan SDM yang dapat meneliti, menganalisa dan memberikan solusi terhadap masyarakat nyata dan lingkungannya (sociopreneur).

“Metode SL memadukan proses refleksi, perkembangan intelektualitas, dan karya nyata seorang mahasiswa sebagai pribadi, warga negara dan warga masyarakat. Mahasiswa misalnya ditempatkan oleh perguruan tinggi pada kelompok masyarakat yang membutuhkannya sesuai bakat dan jurusannya. Mahasiswa melayani kebutuhan nyata masyarakatnya sehingga tercipta kepedulian kepada masyarakat dan lingkungannya. Mahasiswa dapat mengembangkan peran pengabdiannya kepada masyarakat. Proses ini melahirkan kecerdasan emosional dan spiritual pada mahasiswa antara lain melalui proses understanding and applying knowledge; engagement, curiosity, and reflective practice; critical thinking; perspective transformation, and citizenship,” papar Dr. Listia Natadjaja. 

Oleh: Fens Alwino (Jakarta)

Penerbit


Anticipatory Democracy & Pemilu Tahun 2019

Risiko bencana skala nasional dan global kini seakan tidak peduli dengan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) vs Tiongkok (Chris. Rugabuer/AP, 29/10/2018) dan pembunuhan Jamal Khashoggi, kolumnis Washington Post, saat penjualan senjata AS ke Arab Saudi senilai 110 miliar dollar AS yang mencipta 500.000 ribu lapangan kerja di AS (Reuters, 30/1/2018). Tragedi dan ancaman bencana alam seakan tidak peduli dengan pertumbuhan ekonomi RI kuartal ke-2 tahun 2018 mencapai 5,27% per tahun (Reuters, 6/8/2018) atau lonjakan ekspor minyak sawit dari Negara RI sebesar 4,25 juta ton pada September dari 4,01 juta ton pada Agustus 2018 (Bernadette Christina Munthe/Reuters 19/10.2018). Begitu pula inflasi Negara RI sekitar 2,88% pada Juni 2018 dan 3,23% pada Mei 2018 (Reuters, 29/6/2018) dan defisit perdagangan RI menurun karena ekspor bat ubara September 2018 (Reuters, 12/10/2018). ... Baca selanjutnya

img

Jurnal

Berita