• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Inovasi Triple Bottom Line Sektor Pertanian Negara RI

Kamis pagi (7/6/2018), Presiden Joko Widodo (Jokowi) meresmikan Program Kewirausahaan Pertanian dan Digitalisasi Sistem Pertanian serta meninjau PT. Mitra Bumdes Bersama (MBB) dengan 49% saham milik Kelompok Tani (Poktan), Gabungan Kelompok Petani (Gapoktan), dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), serta 51% milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di Kecamatan Sliyeg, Kabupaten Indramayu (Jawa Barat).

Acara itu dihadiri pula oleh Menteri BUMN Rini Soemarno, Menteri Pertanian Amran Sulaiman, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, anggota Wantimpes Agum Gumelar, Koordinator Staf Khusus Presiden Teten Masduki, dan Gubernur Jabar Ahmad Heryawan. “Ini adalah sebuah contoh pertama, yang akan saya ikuti, saya lihat selama 6 bulan ke depan. Kalau ini berjalan dengan baik, kita akan lakukan di seluruh Tanah Air ini dalam mengorganisasi petani,” papar Presiden RI Joko Widodo. Sekitar 80% keuntungan PT. MBB diberikan kepada petani dan sisanya 20% untuk biaya operasional dan lain-lain dari BUMN. (Setkab RI, 7/6/2018).

Pada Rapat Kerja Pemerintah (RKP), Selasa (24/10/2017) di Istana Negara (Jakarta), Presiden RI Joko Widodo merilis arah kebijakan kesejahteraan petani. “Yang namanya budidaya on-farm dari dulu sampai sekarang sudah kita kerjakan, ya petani akan seperti itu, enggak akan mungkin naiknya sampai meloncat... Artinya, yang kita urus itu bukan di situnya lagi harusnya. Kita sudah bergerak ke pasca panennya. Oleh sebab itu, saya mengajak Gubernur, Bupati, terutama kita ajak petani ini untuk mau membangun sebuah grup besar, kelompok besar, sehingga akan seperti korporasi, korporasi petani... Sehingga saya titip, pembangunan Sumber Daya Manusia terutama yang berkaitan dengan vocational school, vocational training, politeknik itu betul-betul disesuaikan dengan kebutuhan yang ada di daerah,” papar Presiden RI Joko Widodo (Setkab RI, 24/2017).

Menurut Dr. Dra. Maria Theresia Darini, M.P., dosen Fakultas Pertanian, Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (Yogyakarta), alumnus S3 Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan judul disertasi Peningkatan Kuantitas dan kualitas Tanaman Lidah Buaya (Aloe vera L.) Melalui Metode Eliditasi Di Lahan Pasir Pantai, bahwa sektor pertanian Negara RI membutuhkan Sumber Daya Manusia berbasis pendidikan vokasional Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), D1-D4 pertanian.

“Sektor pertanian Negara RI membutuhkan Sumber Daya Manusia (SDM) lulusan pendidikan vokasional SMK, D1, D2, D3, dan D4 bidang pertanian. Tantangannya, persaingan bisnis usaha dan industri pertanian di daerah-daerah, nasional dan internasional semakin ketat serta etos kerja dan keahlian (skill) SDM sektor pertanian masih rendah. Solusinya ialah (1) pendidikan karakter dan profesional (soft skill, knowledge, atitude/etos) berbasis kearifan lokal; (2) pengadaan sarana dan prasarana pendidikan pertanian yang melibatkan Pemerintah, KADIN, asosiasi profesi, APINDO, usaha dan industri pertanian; (3) kemitraan pendidikan vokasional, Pemerintah dan industri atau usaha pertanian (triple helix nexus),” papar Dr. Dra. Maria Theresia Darini, M.P., alumnus S2 Agronomi UGM, kepada Staging-Point.Com, Jumat (27/7/2018) melalui email.

Untuk merespons persaingan bisnis usaha dan industri pertanian serta mensejahterakan petani dan merawat lingkungan, Dr. Dra. Maria Theresia Darini, M.P melihat pilihannya ialah pengembangan hortikultura berbasis karakter per daerah melalui tatak elola triple bottom line (bermanfaat lingkungan, bernilai sosial, dan bermanfaat ekonomis bagi para pemangku kepentingan). “Fokus program Triple Bottom Line untuk keberlanjutan dan kesimbangan antara nilai sosial (Rakyat), planet (Lingkungan) dan ekonomi (Profit) dan menghadapi persaingan bisnis pertanian ialah 1) pengembangan hortikultura sesuai karakter (sejarah, tradisi, potensi)  per daerah yang ramah lingkungan, misalnya budi daya pupuk biofertilizer (pupuk hayati) untuk meraih keamanan pangan untuk Rakyat dan mensejahterakan Rakyat; 2) peningkatan usaha pasca panen; 3) pengembangan hortikultura desa melibatkan BUMDes, koperasi petani, dan Pemda atau kordinasi instansi terkait, dan akademisi,” ungkap Dr. Maria Theresia Darini.

Penerapan model triple-bottom-line, menurut Dr. Maria Theresia Darini, menjamin keberlanjutan nilai sosial, ekonomis dan manfaat lingkungan dari tata kelola pertanian serta merespons masalah pertanian di Negara RI. “Penerapan model triple bottom line pertanian membawa dua manfaat yaitu pertama, menjamin keberlanjutan nilai dan manfaat sosial ekonomi dan lingkungan dari tata kelola pertanian; kedua, mengatasi masalah pertanian yakni (a) kualitas dan kuantitas sumber daya lahan menurun; (b) infrastruktur penunjang terbatas, misalnya sumber air terbatas; (c) alih-teknologi lemah atau terlambat; (d) akses modal terbatas; (e) tata niaga pertanian panjang berbelit-belit sehingga harga komoditi pertanian mahal dan petani tidak menikmati keuntungannya,” papar Dr. Maria Theresia Darini. 

Oleh: Antonius Himdan Jeharu (Yogyakarta)

Penerbit


Anticipatory Democracy & Pemilu Tahun 2019

Risiko bencana skala nasional dan global kini seakan tidak peduli dengan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) vs Tiongkok (Chris. Rugabuer/AP, 29/10/2018) dan pembunuhan Jamal Khashoggi, kolumnis Washington Post, saat penjualan senjata AS ke Arab Saudi senilai 110 miliar dollar AS yang mencipta 500.000 ribu lapangan kerja di AS (Reuters, 30/1/2018). Tragedi dan ancaman bencana alam seakan tidak peduli dengan pertumbuhan ekonomi RI kuartal ke-2 tahun 2018 mencapai 5,27% per tahun (Reuters, 6/8/2018) atau lonjakan ekspor minyak sawit dari Negara RI sebesar 4,25 juta ton pada September dari 4,01 juta ton pada Agustus 2018 (Bernadette Christina Munthe/Reuters 19/10.2018). Begitu pula inflasi Negara RI sekitar 2,88% pada Juni 2018 dan 3,23% pada Mei 2018 (Reuters, 29/6/2018) dan defisit perdagangan RI menurun karena ekspor bat ubara September 2018 (Reuters, 12/10/2018). ... Baca selanjutnya

img

Jurnal

Berita