• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Lima Cara Solusi Hoax

Selasa siang (6/3/2018) di Bogor (Jawa Barat), Presiden RI Joko Widodo merilis pernyataan kebijakan tentang penyebaran berita bohong atau hoax melalui media sosial yang berisiko terhadap persatuan-kesatuan Bangsa. “Saya kira polisi tahu ini (hoax, red) pelanggaran hukum atau tidak. Kalau pelanggaran hukum, sudah saya perintahkan, entah itu Saracen, entah itu MCA, kejar, selesaikan. ...Saya sudah perintahkan ke Kapolri, kalau ada pelanggaran hukum, tindak tegas jangan ragu-ragu,” papar Presiden RI Joko Widodo kepada wartawan (Setkab RI, 6/3/2018).

Pada Minggu siang (22/1/2017), kepada wartawan di Lapangan Wira Yudha, Pusat Pendidikan Zeni Kodiklat TNI, Bogor (Jawa Barat), Presiden RI Joko Widodo merilis siasat melawan hoax melalui media sosial. “Saya kira sudah lama kita bertarung dengan hoax, kabar bohong. Kita harus mulai membangun budaya baru, membangun nilai kesopanan, kesantunan dalam kita berucap, ujaran-ujaran di media sosial,” ujar Presiden RI Joko Widodo usai mengikuti Kejuaraan Panahan Bogor Terbuka 2017 di Bogor, Jawa Barat (Setkab RI, 22/1/2017).

Menurut Dr. Subhan Afifi, M.Si, dosen Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Yogyakarta, alumnus S2 Ilmu Komunikasi, Universitas Indonesia (UI), Jakarta, dan S3 Media Studies pada University of Malaya, Malaysia, bahwa hoax memicu sejumlah risiko terhadap kehidupan masyarakat, berBangsa dan berNegara akibat kultur masyarakat suka gosip, masih rapuh literasi dan penegakan hukum, dan dampak revolusi teknologi komunikasi.

“Ada sejumlah faktor pemicu hoax di era digital dewasa ini yakni 1) ekses revolusi teknologi komunikasi informasi khususnya media sosial dengan karakter penyebaran (sharing) informasi dari siapa saja, kapan pun, apa pun, di mana pun dan kepada siapa saja secara cepat dan instan; 2) kultur masyarakat kita guyub, senang berbincang, berbagi info, hingga bergosip, selaras dengan fitur berbagi di media sosial; 3) lemahnya literasi seleksi, saring, dan uji sumber dan kredibilitas informasi dan data media sosial; 4) produsen hoax memanfaatkan keunggulan media sosial dan lemahnya literasi pengguna media sosial untuk meraih keuntungan ekonomi atau pengaruh kekuasaan; 5) masih lemah penegakan hukum yang masih tebang pilih dan belum sepenuhnya adil,” ungkap Dr. Subhan Afifi, M.Si kepada Staging-Point.Com, Selasa (17/7/2018) melalui email.

Dr. Subhan Afifi menyebut contoh. “Contohnya adalah fenomena clickbait;  orang  mencari sebanyak mungkin pengklik untuk meraup uang dari penyebaran informasi berkualitas rendah. Ini contoh produsen hoax memburu keuntungan semu yang melahirkan fenomena hoax untuk meraih atau mempertahankan kekuasaan, pengaruh politik, atau keuntungan ekonomi. Produsen hoax yang bisa berasal dari berbagai kalangan, diuntungkan oleh keunggulan media sosial dan lemahnya literasi penggunanya. Siapa saja entah karena motif ekonomi, politik, atau lainnya sangat mudah menjalankan aksinya,” ungkap  Dr. Subhan Afifi.

Dr. Subhan Afifi melihat bahwa hoax memicu risiko terhadap kehidupan masyarakat, Bangsa dan Negara. “Ada tiga (potensi) risiko hoax terhadap kehidupan masyarakat, Bangsa dan Negara, yaitu 1) hoax membuat Bangsa kita tidak produktif dan tidak berdaya saing karena rendahnya kualitas informasi yang tersebar melalui media sosial; 2) hoax memicu sikap saling tidak percaya (distrust) dalam masyarakat, termasuk kepercayaan terhadap institusi; 3) hoax memicu polarisasi dan potensi konflik di kalangan masyarakat akibat informasi tidak akurat, berita bohong, dusta, dan manipulasi informasi. Tentu risiko-risiko ini merugikan Bangsa kita secara sosial, politik, budaya dan ekonomi,” papar Dr. Subhan Afifi.

Dr. Subhan Afifi menambahkan bahwa ada sejumlah cara solusi terhadap hoax. “Ada enam cara mengatasi hoax yang merugikan kehidupan ber-Bangsa dan berNegara yaitu 1) revisi UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) No. 11 Tahun 2008 guna mencegah dan memberantas hoax serta melindungi hak-hak dan kepentingan umum (masyarakat, Bangsa dan Negara); penegakan hukum secara tegas dan adil, tanpa tebang-pilih; 2) organ-organ Negara menjadi role-model penyebaran informasi yang akurat, tepat waktu, dan benar kepada masyarakat; 3) edukasi dan literasi publik tentang peraturan ITE yang merawat hak Rakyat menyatakan pikiran dengan lisan dan tulisan menurut UU dan melindungi kepentingan umum; 4) masyarakat menggunakan Internet dan media sosial untuk hal-hal yang bernilai sosial dan produktif (bermanfaat ekonomi); 5) pers berperan menyajikan informasi kreatif, inovatif, dan kredibel sebagai alat kontrol terhadap hoax,” ungkap Dr. Subhan Afifi. 

Oleh: Antonius Himdan Jeharu (Yogyakarta)

Penerbit


Dollar AS vs Xi-Diplomacy

Perang dollar AS vs Xi-Diplomacy belum memicu ke arah resesi global (lihat grafik). Bagi Rakyat dan Pemerintah Negara RI, pilihannya ialah kemitraan atau kerjasama melahirkan tata tertib dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, keadilan serta ramah lingkungan. Ini amanat Pembukaan UUD 1945. Ini pula peluang dan tantangan bagi Negara RI yang kini menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB hingga tahun 2021. ... Baca selanjutnya

img

Jurnal

Berita