• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Listrik Desa Berbahan Lokal- Ramah Lingkungan

Selasa (9/5/2017) di Jayapura (Papua), Presiden Joko Widodo meresmikan Listrik Desa Papua-Papua Barat, Maluku-Maluku Utara, PLTMH dan PLTS Tersebar, PLTU Maluku Utara 2 X 7 MW serta Groundbreaking PLTMG MPP Jayapura 50 MW di Proyek Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) MPP Jayapura 50 MW, Holtekamp, Distrik Muara Tami. (Setkab RI, 9/5/2017).

“Papua dan Papua Barat totalnya adalah 280MW. Sampai 2019 nanti, kita harapkan kita akan mendapatkan angka 730MW... Saya perintahkan ke Menteri ESDM untuk diberikan prioritas penggunaan gas untuk kelistrikan kita. Jangan semuanya batu bara. Harus ada beberapa pembangkit listrik baik memakai gas, baik memakai tenaga microhydro, memakai matahari, dan ada juga arus laut yang nanti juga akan kita mulai di NTT... Pemerintah akan terus mendorong percepatan berbagai pembangkit listrik di seluruh Tanah Air,” papar Presiden RI Joko Widodo. (Setkab RI, 9/5/2017).

Dr. Agus Dudung R, M.Pd, dekan dan dosen pada Fakultas Teknik Mesin, Universitas Negeri Jakarta (UNJ) berpandangan, bahwa listrik termasuk bahan kebutuhan pokok Rakyat di Negara RI; maka program listrik desa harus berbahan bakar lokal yang melayani kebutuhan listrik murah dan ramah lingkungan bagi Rakyat serta sesuai karakter desa-desa Negara RI.

“Pilihan program-program pasokan listrik di desa-desa berbahan bakar lokal yang ramah lingkungan dapat mengatasi masalah pokok listrik di Negara RI selama ini yakni listrik Negara RI umumnya berbahan bakar batu bara dan jarak antar desa-desa dengan pusat pembangkit listrik seringkali sangat jauh. Maka pilihannya ialah pasokan listrik berbahan bakar lokal yang murah dan ramah lingkungan di desa-desa Negara RI,” papar Dr. Agus Dudung R, M. Pd.

Dr. Agus Dudung R, M.Pd menambahkan bahwa sekurang-kurangnya terdapat 4 (empat) manfaat dari program listrik desa berbasis bahan-bahan bakar lokal di desa-desa Negara RI. “Sekurang-kurangnya, ada 4 (empat) manfaat dari program listrik desa berbasis bahan bakar lokal yang murah dan ramah lingkungan di desa-desa Negara RI yakni (1)  pembangkit listrik yang menggunakan bahan bakar sesuai dengan karakter lingkungan daerah-daerah seperti air,  gas,  dan angin yang dapat mengurangi kerusakan lingkungan; (2) pemanfaatan potensi-potensi per desa Negara RI; (3) jika harganya murah, maka mengurangi subsidi listrik melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN); dan (4) pemerataan pelayanan kebutuhan listrik dan partisipasi Rakyat per desa dalam pembangunan energi listrik di Negara RI,” papar Dr. Agus Dudung R, M. Pd, alumnus S3 jurusan Penelitian dan Evaluasi Pendidikan (PEP) UNJ kepada Staging-Point.Com, Rabu (8/8/2018) di Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

Pada 12 April 2018 di Jakarta, Presiden RI Joko Widodo menandatangani Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 35 Tahun 2018 tentang Percepatan Pembangunan Instalasi Pengolah Sampah Menjadi Energi Listrik Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan. 

Data Kementerian ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral) bulan Mei 2017 menyebutkan bahwa Tarif Tenaga Listrik (TTL) untuk golongan rumah tangga di Negara RI sebesar Rp 1.467 kWh (per kilowatt-hour), Filipina sebesar Rp 2.359 per kWh, Singapura Rp 2.185 per kWh dan Thailand sebesar Rp 1.571 per kWh. (Setkab RI, 9/8/2017). Pada pembahasan RAPBNP 2017 antara Kementerian ESDM dan DPR RI, terdapat 2,44 juta pelanggan 900VA yang layak subsidi. Sehingga total subsidi tahun 2017 mencapai Rp 51 triliun. Subsidi juga diberikan kepada UMKM, warteg, rumah ibadah, panti asuhan, listrik untuk KRL, dan kegiatan kependidikan masih diberikan subsidi. (Setkab 20/7/2017).

Pada 2 Juli 2018, Presiden RI Joko Widodo meresmikan pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) Sidrap dengan kapasitas 75 MW dan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Punagaya 2×100 MW dan PLTU Jeneponto Ekspansi 2×135 MW di Sulawesi Selatan. PLTB pertama di Negara RI ini memiliki 30 kincir angin dengan tinggi tower 80 meter dan panjang baling-baling 57 meter, yang menggerakkan 30 turbin berkapasitas 2,5 MW. (Setkab RI, 2/7/2018).

April 2018, Badan Litbang dan Inovasi (BLI) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Negara RI membangun pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH) yang murah dan ramah lingkungan serta berbasis partisipasi masyarakat di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. PLTMH ini menghasilkan 5.700 watt atau 57 KVA dan melayani  113 Kepala Keluarga (KK). Setiap KK hanya membayar Rp 10 ribu per bulan. (Setkab RI, 28/4/2018).

Oleh: Ainun Sri Mulyani (Jakarta)

Penerbit


Anticipatory Democracy & Pemilu Tahun 2019

Risiko bencana skala nasional dan global kini seakan tidak peduli dengan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) vs Tiongkok (Chris. Rugabuer/AP, 29/10/2018) dan pembunuhan Jamal Khashoggi, kolumnis Washington Post, saat penjualan senjata AS ke Arab Saudi senilai 110 miliar dollar AS yang mencipta 500.000 ribu lapangan kerja di AS (Reuters, 30/1/2018). Tragedi dan ancaman bencana alam seakan tidak peduli dengan pertumbuhan ekonomi RI kuartal ke-2 tahun 2018 mencapai 5,27% per tahun (Reuters, 6/8/2018) atau lonjakan ekspor minyak sawit dari Negara RI sebesar 4,25 juta ton pada September dari 4,01 juta ton pada Agustus 2018 (Bernadette Christina Munthe/Reuters 19/10.2018). Begitu pula inflasi Negara RI sekitar 2,88% pada Juni 2018 dan 3,23% pada Mei 2018 (Reuters, 29/6/2018) dan defisit perdagangan RI menurun karena ekspor bat ubara September 2018 (Reuters, 12/10/2018). ... Baca selanjutnya

img

Jurnal

Berita