• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Antisipasi Gempa: Tingkatkan Investasi Riset

Selasa pagi (2/10/2018) di Kantor Presiden (Jakarta), Presiden RI Joko Widodo yang didampingi oleh Wakil Presiden RI Jusuf Kalla, memimpin Rapat Terbatas (Ratas) tentang Penanganan Gempa dan Tsunami di Palu, Donggala, Sigi, dan Parigi Moutong di Sulawesi Tengah (Setkab RI, 2/10/2018).

“Setelah melihat kondisi yang ada di lapangan, ada 4 prioritas utama yang segera harus kita tangani. Yang pertama, yang berkaitan dengan evakuasi korban, pencarian dan penyelamatan korban yang belum ditemukan. Yang kedua yang berkaitan dengan pertolongan medis, saya melihat kemarin di lapangan terutama tenda-tenda yang dipakai untuk penanganan para korban masih sangat kurang sekali. Yang ketiga, yang berkaitan dengan penanganan pengungsi. Titik-titik pengungsian pastikan semuanya ada bahan makanan, kebutuhan untuk wanita, bayi, dan anak. Yang keempat, yang berkaitan dengan perbaikan infrastruktur, terutama airport, jalan-jalan yang terkena longsor agar segera diselesaikan,” papar Presiden RI Joko Widodo pada Pengantar Ratas (Setkab RI, 2/10/2018).

Menurut Dr. Irwan Meilano, ST.,M.Sc, dosen pada Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian, Institut Teknologi Bandung (ITB), bahwa bumi Negara RI terbentuk dari proses tektonik yang cukup rumit dari 4 (empat) lempeng utama, sehingga di masa datang masih ada potensi gempa yang perlu diantisipasi di wilayah Negara RI.

“Negara dan Bangsa kita banyak memiliki lembah sangat dalam, gunung sangat tinggi dan keindahan-keindahan alam, banyak kekayaan alam, keragaman hayati, dan kondisi alam yang sangat bervariasi. Tetapi, semua keindahaan alamiah tersebut terbentuk dari proses tektonik yang cukup kompleks,” ungkap Dr. Irwan Meilano, ST.,M.Sc, alumnus S2 (Master of Science) tahun 2003 dan S3 (Doctor of Science) bidang Earth Science tahun 2008 dari Nagoya University (Jepang) kepada Staging-Point.Com, Selasa (2/10/2018) di Ruang LPPM Gedung CRCS lantai 6, ITB, Bandung.

Dr. Irwan Meilano, yang terlibat dalam observasi deformasi krustal dan instalasi GPS pasca Gempa Aceh di Aceh sejak 2005, merinci lempeng utama tektonik yang membentuk wajah bumi Negara RI. “Paling tidak ada 4 (empat) lempeng utama yang memengaruhi wajah Negara RI yakni 1) di bagian selatan, ada lempeng Indo Australia; 2) kita juga hidup di lempeng Eurasia; sebagian masyarakat kita, paling tidak wilayah bagian Barat; (3) di wilayah Indonesia timur dipengaruhi oleh Lempeng Pasifik; (3) juga cukup signifikan misalnya sekitar Halmahera dan utaranya dipengaruhi oleh Lempeng Laut Filipina,” ungkap Dr. Irwan Meilano.

Pasca Gempa Palu 2018, menurut Dr. Irwan Meilano masih ada potensi gempa masa depan di Negara RI yang harus diantisipasi. “Pasca Gempa Palu, masih ada potensi gempa masa depan di Negara RI. Misalnya, potensi gempa di Sulawesi. Beberapa waktu lalu, saya merilis potensi gempa di Sulawesi, sebelum gempa 28 September 2018 di Palu,” papar Dr. Irwan Meilano.

Jumat (28/9/2018), Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) di Jakarta, merilis informasi tentang gempa bumi tektonik di Kabupaten Donggala Jumat (28/9) pukul 17.02.44 WIB dengan magnitudo 7,4, kedalaman 11 kilometer (km) dan di Palu dengan magnitudo 5,9 km kedalaman 10 km terjadi pukul 17.25.07 WIB. Beberapa gempa terjadi di Donggala sejak pukul 14.00 WIB dengan variasi magnitudo 5,9; 5.0; 5,3; dan lain-lain (Setkab RI, 3/10/2018).

Rabu pukul 07.00 WIB (30/10/2018), dengan Boeing 737-400 TNI AU, untuk kedua kalinya, Presiden RI Joko Widodo dan rombongan terbang dari Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma (Jakarta) ke Palu, Sulawesi Tengah, untuk meninjau langsung penanganan dampak bencana gempa bumi dan tsunami di Palu dan sekitarnya. (Setkab RI, 3/10/2018).

Dr. Irwan Meilano melihat bahwa antisipasi dan mitigasi gempa harus berbasis masyarakat dan Pemerintah harus menyediakan investasi awal di bidang riset dasar sumber gempa. “Antisipasi atau mitigasi gempa memang harus berbasis masyarakat. Pemerintah harus bersedia melakukan investasi awal untuk merespons ancaman dan risikonya. Pilihannya ialah investasi riset dasar dan lebih detil tentang sumber gempa, bahaya, ancaman, dan risiko gempa. Tahap pertama ialah pemahaman risiko dan ancamannya. Berikutnya, tata kelola governance-nya dari Pusat sampai Daerah di Negara RI guna mewujudkan amanat Pembukaan UUD 1945 bahwa Pemerintah RI melindungi segenap Bangsa dan seluruh tumpah darah,” ungkap Dr. Irwan Meilano. 

Oleh: Herbert M. Sinaga (Bandung)

Penerbit


Anticipatory Democracy & Pemilu Tahun 2019

Risiko bencana skala nasional dan global kini seakan tidak peduli dengan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) vs Tiongkok (Chris. Rugabuer/AP, 29/10/2018) dan pembunuhan Jamal Khashoggi, kolumnis Washington Post, saat penjualan senjata AS ke Arab Saudi senilai 110 miliar dollar AS yang mencipta 500.000 ribu lapangan kerja di AS (Reuters, 30/1/2018). Tragedi dan ancaman bencana alam seakan tidak peduli dengan pertumbuhan ekonomi RI kuartal ke-2 tahun 2018 mencapai 5,27% per tahun (Reuters, 6/8/2018) atau lonjakan ekspor minyak sawit dari Negara RI sebesar 4,25 juta ton pada September dari 4,01 juta ton pada Agustus 2018 (Bernadette Christina Munthe/Reuters 19/10.2018). Begitu pula inflasi Negara RI sekitar 2,88% pada Juni 2018 dan 3,23% pada Mei 2018 (Reuters, 29/6/2018) dan defisit perdagangan RI menurun karena ekspor bat ubara September 2018 (Reuters, 12/10/2018). ... Baca selanjutnya

img

Jurnal

Berita