• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Pembayaran Luar Negeri Dengan Valas Non Dollar AS

Selasa siang (14/8/2018) di Kantor Presiden (Jakarta), Presiden RI Joko Widodo yang didampingi oleh Wakil Presiden RI Jusuf Kalla, memimpin Rapat Terbatas tentang Lanjutan Strategi Kebijakan Memperkuat Cadangan Devisa. “Kita juga harus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah pada nilai yang wajar (terhadap dollar AS, red), inflasi yang rendah, defisit transaksi berjalan yang aman,” papar Presiden RI Joko Widodo (Setkab RI, 14/8/2018).

Presiden RI Joko Widodo merilis juga sejumlah arah kebijakan guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS), antara lain memperkuat cadangan devisa Negara RI guna menjaga ketahanan ekonomi Negara RI di tengah ketidakpastian ekonomi global saat ini; pilihannya ialah percepatan pelaksanaan mandatori biodiesel B20 dan peningkatan Penggunaan Kandungan Dalam Negeri (TKDN) khususnya BUMN-BUMN yang sebelumnya banyak menggunakan komponen-komponen impor; mengelola hati-hati Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), khususnya defisit APBN; memperbesar belanja modal; Bank Indonesia hati-hati mengelola moneter; dan menjaga posisi 22% CAR (capital adequacy ratio) perbankan di Negara RI (Setkab RI, 14/8/2018).

Prof. Dr. Manahan Tampubolon, MM, dosen Pascasarjana Universitas Kristen Indonesia (Jakarta), Universitas Negeri Jambi, dan Universitas Medan (Sumatera Utara), berpandangan bahwa melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) saat ini akibat perang dagang AS vs Tiongkok dan ketidakseimbangan ekspor dan impor Negara RI.

“Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap Amerika Serikat (AS) akhir-akhir ini disebakan oleh dua faktor yakni pertama, perang dagang AS vs Tiongkok; faktor ini kurang begitu sigfikan. kedua, ketidak-seimbangan antara ekspor dan impor Negara RI yaitu nilai impor lebih besar daripada nilai ekspor yang terjadi pada saat kita sangat bergantung pada dollar AS, bukan pada pembayaran melalui nilai tukar Yen (Jepang), Yuang (Tiongkok), atau mata uang lainnya. Akibatnya, jika dollar AS semakin menguat terhadap rupiah, maka ekspor kita yang bergantung pada bahan-bahan impor, akan semakin mahal juga,” papar Prof. Dr. Manahan Tampubolon, MM alumnus S3 bidang Organization Behaviour pada Universitas Negeri (Jakarta) kepada Staging-Point.Com, Senin (8/10/2018) di  Kampus Pascasarjana Universitas Kristen Indonesia (UKI), Jln Diponegoro No. 84-86. Jakarta Pusat.

Rabu pagi (5/9/2018) pada acara Pelepasan Ekspor Mobil Toyota di Pelabuhan Tanjung Priok (Jakarta), merilis langkah kebijakan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang telah menyentuh level Rp 15.000 per 1 (satu) dollar AS, misalnya, mandatory Biodiesel 20 (B20) sejak 1 September 2018 diharapkan mengurangi impor minyak hampir 5 miliar dollar AS (Setkab RI, 5/9/2018).

“Ini adalah faktor eksternal yang bertubi-tubi, baik yang berkaitan dengan kenaikan suku bunga di Amerika, yang berhubungan dengan perang dagang AS-China, maupun yang berkaitan dengan krisis di Turki dan Argentina ...Kuncinya memang hanya ada dua, di investasi yang harus terus meningkat dan ekspor yang juga harus meningkat, sehingga bisa menyelesaikan defisit transaksi berjalan,” papar Presiden RI Joko Widodo (Setkab RI, 5/9/2018).

Prof. Dr. Manahan Tampubolon melihat bahwa ada dua pilihan kebijakan guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dollar AS saat ini dan masa datang. “Pemerintah perlu mengambil langkah terobosan guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dollar AS yakni (1) Pemerintah melakukan terobosan pembayaran dengan pihak luar negeri dalam bentuk valuta asing lainnya, tidak harus dalam bentuk valuta asing (valas) Amerika Serikat; misalnya kita memilih valas Yuan (Tiongkok) atau Yen (Jepang); (2) Pemerinah atau pelaku usaha juga dapat memutus mata rantai ketergantungan pada bahan-bahan luar negeri dalam sektor industri; misalnya, sekitar 95% produksi otomotif tertentu dapat dipasok dari bahan lokal; namun, sisanya 5% seringkali sangat berpengaruh; maka kita harus berani memutus mata rantai ketergantungan ini melalui penguatan sektor industri berbasis teknologi maju atau teknologi tinggi,” ungkap Prof. Dr. Manahan Tampubolon.

Prof. Dr. Manahan Tampubolon menambahkan bahwa pelaku usaha dapat melakukan win-win solution dengan mitra asing. “Kita dapat melakukan win-win solution dengan mitra dagang luar negeri dalam rangka pembayaran dalam bentuk valas lain, selain valas Amerika Serikat. Meskipun ada hambatan dan tantangannya,” ungkap Prof. Dr. Manahan Tampubolon. 

Oleh: Fens Alwino (Jakarta)

Penerbit


Anticipatory Democracy & Pemilu Tahun 2019

Risiko bencana skala nasional dan global kini seakan tidak peduli dengan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) vs Tiongkok (Chris. Rugabuer/AP, 29/10/2018) dan pembunuhan Jamal Khashoggi, kolumnis Washington Post, saat penjualan senjata AS ke Arab Saudi senilai 110 miliar dollar AS yang mencipta 500.000 ribu lapangan kerja di AS (Reuters, 30/1/2018). Tragedi dan ancaman bencana alam seakan tidak peduli dengan pertumbuhan ekonomi RI kuartal ke-2 tahun 2018 mencapai 5,27% per tahun (Reuters, 6/8/2018) atau lonjakan ekspor minyak sawit dari Negara RI sebesar 4,25 juta ton pada September dari 4,01 juta ton pada Agustus 2018 (Bernadette Christina Munthe/Reuters 19/10.2018). Begitu pula inflasi Negara RI sekitar 2,88% pada Juni 2018 dan 3,23% pada Mei 2018 (Reuters, 29/6/2018) dan defisit perdagangan RI menurun karena ekspor bat ubara September 2018 (Reuters, 12/10/2018). ... Baca selanjutnya

img

Jurnal

Berita