• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Bangun ‘Kebaikan Bersama’ Atasi Risiko Demokrasi Gagal

Kamis (16/8/2018) pada HUT Ke-73 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia di Depan Sidang Bersama Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Daerah di Ruang Rapat Paripurna Gedung Nusantara (Jakarta Pusat), Presiden RI Joko Widodo merilis Pidato Kenegaraan antara lain tentang Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, demokrasi, dan Pilkada tahun 2017 dan tahun 2018 di Negara RI.

 “Seratus satu pemilihan Kepala Daerah serentak di tahun 2017 dan 171 pemilihan Kepala Daerah serentak di tahun 2018, telah berhasil kita laksanakan dengan aman dan damai... Ekosistem demokrasi, ideologi Pancasila yang kokoh, Bhinneka Tunggal Ika, dan semangat gotong royong harus ditopang dengan tata kelola pemerintahan yang baik. Upaya untuk membebaskan Indonesia dari jeratan korupsi, yang mengkhianati kepercayaan Rakyat, yang menggerogoti anggaran negara, dan merusak sendi-sendi perekonomian Bangsa harus terus dilakukan,” papar Presiden RI Joko Widodo (Setkab RI, 16/8/2018).

Menurut Prof. Dr. Bahtiar Effendy, dosen Pascasarjana pada Universitas Islam Negeri Jakarta (1995-sekarang) dan dosen Pascasarjana pada Universitas Indonesia  (1995-sekarang), bahwa saat ini Bangsa Indonesia tengah mengalami krisis antara lain akibat praktek demokrasi kehilangan fungsi utamanya merawat dan membangun “kebaikan bersama” (the common good).

“Saat ini Bangsa Indonesia tengah mengalami krisis antara lain karena demokrasi kita telah kehilangan fungsi utamanya untuk merawat dan membangun “kebaikan bersama” (the common good).  Saya melihat, saat ini kita mengalami krisis kewargaan yang luar biasa, yaitu tergerusnya nilai-nilai kebaikan bersama (the common good),” ungkap Prof. Dr. Bahtiar Effendy kepada Staging-Point.Com, Rabu (29/8/2018) di Aula Universitas Paramadina,  Jl. Gatot Subroto No.Kav. 97, RT.4/RW.4, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.

Prof. Dr. Bahtiar Effendy  menambahkan, “Demokrasi yang dianggap sebagai instrumen terbaik untuk mendudukkan orang dalam jabatan-jabatan publik kehilangan fungsi utamanya. Alih-alih menghasilakan pemegang kekuasaan yang dipercaya (shiddiq), bertanggung jawab (amanah), terbuka (tabligh), dan mampu (fathonah), yang muncul justru mereka yang memimpin dengan hitung-hitungan transaksional. Masyarakat bisa menjadi korban.”

Prof. Dr. Bahtiar Effendy adalah alumnus S2 (Master) Program Studi Asia Tenggara dari Ohio University, Athens (1988), S2 (Master) Ilmu Politik dari Ohio State University, Colombus, OH (1991), dan  S3 Ilmu Politik dari Ohio State University, Colombus, OH (1994).

 

Prof. Dr. Bahtiar Effendy  menyebut contoh nilai “kebaikan bersama” Bangsa Indonesia yang sedang tergerus akhir-akhir ini. “Saya mengutip pemikiran Robert B. Reich ( The Common Good, 2018) mengenai konsep “kebaikan bersama”. Yang termasuk dalam kategori “kebaikan bersama” yang sama-sama kita inginkan adalah (a) menghormati hukum, (b) menjaga lembaga-lembaga demokrasi, (c) menyebarkan kebenaran, (d) terbuka dan toleran, (e) persamaan, (f) partisipasi,  dan (g) kesediaan untuk berkorban. Dan yang paling utama dari unsur-unsur di atas adalah komitmen untuk bertindak, berkata, dan bersikap benar. Prinsip “kebaikan bersama” itu tertumpu pada kebenaran (the truth),” papar Prof. Dr. Bahtiar Effendy.

Sejumlah faktor lain pada skala global akhir-akhir ini, menurut Prof. Dr. Bahtiar Effendy, telah menggerus nilai-nilai “kebaikan bersama”. ”Kebaikan bersama” juga tengah tergerus pada skala global karena faktor globalisasi, revolusi teknologi-informasi, demokrasi disfungsi, dan liberalisasi. Inividualisme, misalnya, menggerus sendi-sendi kekeluargaan dan dapat mendorong orang mengingkari kebenaran. Individualisme berlebihan (excessive individualism) mendorong orang menomorsatukan kepentingan dirinya dari pada berbuat baik untuk kepentingan bersama, berlaku curang, korup, mengejar keuntungan diri, dan eksploitatif. Akibatnya lingkaran kebajikan dan kebaikan bersama, tergerus oleh lingkaran keburukan (vicious cycles). Solusinya ialah kepemimpinan yang amanah, penegakkan kebenaran, penghargaan dan hukum (honor and shame), dan pendidikan kewarganegaraan untuk setiap warga negara agar sadar hak dan kewajiban atau tanggung jawabnya,” ungkap Prof. Dr. Bahtiar Effendy. 

Oleh: Fens Alwino (Jakarta)

Penerbit


Anticipatory Democracy & Pemilu Tahun 2019

Risiko bencana skala nasional dan global kini seakan tidak peduli dengan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) vs Tiongkok (Chris. Rugabuer/AP, 29/10/2018) dan pembunuhan Jamal Khashoggi, kolumnis Washington Post, saat penjualan senjata AS ke Arab Saudi senilai 110 miliar dollar AS yang mencipta 500.000 ribu lapangan kerja di AS (Reuters, 30/1/2018). Tragedi dan ancaman bencana alam seakan tidak peduli dengan pertumbuhan ekonomi RI kuartal ke-2 tahun 2018 mencapai 5,27% per tahun (Reuters, 6/8/2018) atau lonjakan ekspor minyak sawit dari Negara RI sebesar 4,25 juta ton pada September dari 4,01 juta ton pada Agustus 2018 (Bernadette Christina Munthe/Reuters 19/10.2018). Begitu pula inflasi Negara RI sekitar 2,88% pada Juni 2018 dan 3,23% pada Mei 2018 (Reuters, 29/6/2018) dan defisit perdagangan RI menurun karena ekspor bat ubara September 2018 (Reuters, 12/10/2018). ... Baca selanjutnya

img

Jurnal

Berita