• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Kesadaran Tentang Perbedaan Untuk Membangun Persatuan

Kamis (16/8/2018) pada HUT Ke-73 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) di Depan Sidang Bersama Dewan Perwakilan Rakyat RI dan Dewan Perwakilan Daerah RI di Ruang Rapat Paripurna Gedung Nusantara, Jakarta Pusat, Presiden RI Joko Widodo merilis Pidato Kenegaraan Presiden Republik Indonesia.

“Pancasila adalah bintang pengarah, penggerak, sumber inspirasi, dan sekaligus sebagai pemersatu bangsa Indonesia yang berBhinneka Tunggal Ika. Dengan berpegang teguh pada Pancasila, saya yakin kita akan menjadi bangsa yang berdaulat dan bermartabat dalam pergaulan bangsa-bangsa lain di dunia, duduk sama rendah, berdiri sama tinggi...Ekosistem demokrasi, ideologi Pancasila yang kokoh, Bhinneka Tunggal Ika, dan semangat gotong royong harus ditopang dengan tata kelola pemerintahan yang baik,” papar Presiden RI Joko Widodo (Humas Setkab RI, 16/8/2018).

Menurut Prof. Dr. Tonny Donald Pariela, MA, dekan dan dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Pattimura di Ambon (Provinsi Maluku), bahwa secara politik, Negara Kesatuan Republik Indonesia sudah selesai, tetapi secara sosiologis, proses menjadi Bangsa Indonesia, Identitas Ke-Indonesiaan, belum selesai dan akan terus berproses dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Selama ini, kita sering menghadapi masalah dalam proses menjadi Indonesia, soal identitas Ke-Indonesiaan. Secara politik, Negara Kesatuan Republik Indonesia memang sudah selesai. Namun, secara sosiologis, proses menjadi Bangsa Indonesia, Identitas Ke-Indonesiaan, belum selesai dan terus berproses dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” papar Prof. Dr. Tonny Donald Pariela, MA, alumnus S3 Studi Pembangunan dari Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga pada tahun 2008 kepada Staging-Point.Com, Kamis (18/10/2018) di Hotel Sultan, Jakarta Pusat.

Prof. Dr. Tonny Donald Pariela, MA, menambahkan bahwa identitas Indonesia perlu dibangun dari spirit dan kesadaran tentang perbedaan untuk membangun persatuan dalam Negara RI. “Identitas Indonesia adalah identitas yang kita usung dengan kedua tangan kita, kultur Indonesia yang sedemikian majemuknya; tetapi pada saat yang sama,  kedua kaki kita mengakar kuat pada kultur lokal kita, Jawa, Ambon, Papua, atau kultur lainnya. Itulah cross-cuting identity khas Identitas Indonesia yakni spirit membangun persatuan dengan kesadaran perbedaan. Nah, ini yang masih missing, yaitu kesadaran kemajemukan kita,” Prof. Dr. Tonny Donald Pariela, MA.

Minggu pagi (28/10/2018) pada peringatan Hari Sumpah Pemuda 2018 di Pendopo Kabupaten Sidoarjo (Jawa Timur), Presiden RI Joko Widodo merilis makna Sumpah Pemuda. “Saya perlu mengingatkan mengenai Sumpah Pemuda. Apa itu? Bertumpah darah satu, Tanah Air Indonesia, berbangsa satu, Bangsa Indonesia, berbahasa satu, Bahasa Indonesia. Itu yang selalu kita ingatkan,” papar Presiden RI Joko Widodo usai melepas Jalan Sehat Santri Sahabat Rakyat di Pendopo Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, Minggu (28/10). Acara itu dihadiri oleh Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia K.H. Ma’ruf Amin, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Menaker Hanif Dhakiri, Mentan Amran Sulaiman, dan Gubernur Jatim Soekarwo (Setkab RI, 28/10/2018).

Di era globalisasi, revolusi industri 4.0, dan lingkungan kemajemukan Bangsa Indonesia, menurut Prof. Dr. Tonny Donald Pariela, Pemerintah dan Rakyat RI perlu mengakselerasi proses menjadi Indonesia guna memperkuat jati diri Bangsa Indonesia. “Upaya kita memperkuat jati diri sebagai orang Indonesia, tanpa disorientasi dan alienasi atau keterasingan di tengah dinamika perubahan akibat revolusi industri 4.0 dan globalisasi, Rakyat dan Pemerintah Negara RI perlu merumuskan langkah akselerasi proses menjadi Indonesia,” papar Prof. Dr. Tonny Donald Pariela.

Prof. Dr. Tonny Donald Pariela menambahkan bahwa membangun persatuan dengan spirit kesadaran tentang perbedaan sangat urgen saat ini dan ke depan. “Bung Karno dan para pendiri Negara Bangsa RI sudah berbicara tentang dasar dan arah national and character building. Kini dan ke depan, proses pembentukan identitas ke-Indonesiaan, harus lebih konkrit. Kita berbeda dengan E Pluribus Unum Amerika Serikat; Bhinneka tunggal ika Indonesia tidak hanya berlatar perdedaan sosial ekonomi, tetapi juga SARA. Maka kita perlu memperkuat demokrasi dengan kesadaran tentang perbedaan membangun persatuan,” ungkap Prof. Dr. Tonny Donald Pariela.

Oleh: Severianus Intang (Jakarta)

Penerbit


Anticipatory Democracy & Pemilu Tahun 2019

Risiko bencana skala nasional dan global kini seakan tidak peduli dengan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) vs Tiongkok (Chris. Rugabuer/AP, 29/10/2018) dan pembunuhan Jamal Khashoggi, kolumnis Washington Post, saat penjualan senjata AS ke Arab Saudi senilai 110 miliar dollar AS yang mencipta 500.000 ribu lapangan kerja di AS (Reuters, 30/1/2018). Tragedi dan ancaman bencana alam seakan tidak peduli dengan pertumbuhan ekonomi RI kuartal ke-2 tahun 2018 mencapai 5,27% per tahun (Reuters, 6/8/2018) atau lonjakan ekspor minyak sawit dari Negara RI sebesar 4,25 juta ton pada September dari 4,01 juta ton pada Agustus 2018 (Bernadette Christina Munthe/Reuters 19/10.2018). Begitu pula inflasi Negara RI sekitar 2,88% pada Juni 2018 dan 3,23% pada Mei 2018 (Reuters, 29/6/2018) dan defisit perdagangan RI menurun karena ekspor bat ubara September 2018 (Reuters, 12/10/2018). ... Baca selanjutnya

img

Jurnal

Berita