• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Tantangan & Manfaat Pendidikan Anak-anak Di Perkebunan Sawit

Jelang akhir 2018, sektor perkebunan minyak sawit (Crude palm oil) di Negara RI mencatat lonjakan ekspor. Misalnya, kenaikan ekspor minyak sawit dari Negara RI sebesar 4,25 juta ton pada September dari total ekspor 4,01 juta ton pada bulan Agustus 2018 (Bernadette Christina Munthe/Reuters 19/10/2018).

Senin 18 Mei 2015 di Jakarta, Presiden RI Joko Widodo menetapkan Peraturan Presiden Republik Indonesia (Perpres RI) Nomor 61 Tahun 2015 tentang Penghimpunan dan Penggunaan Dana Perkebunan Kelapa Sawit. Dasar yuridis Perpres No. 61/2015 ialah Pasal 4 ayat (1) UUD 1945, Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2014 tentang Perkebunan dan Peraturan Pemerintah dan Nomor 24 Tahun 2015 tentang Penghimpunan Dana Perkebunan.

Pasal 12 ayat (1) Perpres No. 61/2015 menyatakan : “Penggunaan Dana untuk pengembangan sumber daya manusia Perkebunan Kelapa Sawit sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (1) huruf a, dilakukan untuk: a. meningkatkan pengetahuan, keterampilan, profesionalisme, kemandirian, dan berdaya saing; dan b. meningkatkan kemampuan teknis, manajerial, dan kewirausahaan.” Pasal 12 ayat (4) berbunyi : “Pengembangan sumber daya manusia melalui pendidikan sebagaimana dimaksud ayat (2) huruf b, dilakukan melalui peningkatan pengetahuan dan pemahaman manfaat pengembangan Kelapa Sawit yang berkelanjutan.”

Menurut Dr. Mesta Limbong, M.Psi, Kepala Prodi MPD PPs Universitas Kristen Indonesia (UKI), Jakarta, bahwa praktek pendidikan sumber daya manusia (SDM) perkebunan sawit saat ini tidak hanya pengembangan SDM perkebunan kelapa sawit tetapi juga pendidikan anak-anak karyawan dan masyarakat di sekitar perkebunan sawit berbagai daerah Negara RI.

“Secara umum, akses pendidikan bagi Warga Negara RI, belum merata. Wilayah perkotaan memiliki akses pendidikan, yang relatif lebih baik dari pada yang tinggal di daerah pedalaman. Karena itu, saya melayani pendidikan anak-anak di daerah pedalaman perkebunan sawit sejak tahun 2006-2012 dan 2014-sekarang di Aceh, Riau, Kalimantan, Sulawesi, termasuk Donggala. Di daerah-daerah ini, banyak masyarakat pedalaman di perkebunan sawit yang belum menikmati pendidikan dasar 9 tahun,” papar Dr. Mesta Limbong, M.Psi, alumnus S3 Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dengan disertasi Peran Corporate Social Responsibility (CSR) Terhadap Mutu Pendidikan Dasar 9 tahun di Perkebunan Kelapa Sawit, kepada Staging-Point.Com, Rabu (24/10/2018) di Kampus Pascasarjana UKI, Jln Diponegoro No. 84-86, Jakarta Pusat.

Lebih rinci, Dr. Mesta Limbong menguraikan pelayanan kebutuhan pendidikan Rakyat di daerah-daerah perkebunan sawit Negara RI. “Di perkebunan sawit, pendidikan banyak anak karyawan perusahan sawit, harus dibantu. Karena sekolahnya berada jauh dari tempat tinggal. Sehingga biaya dan transportasi sulit. Maka kami membuka sekolah di sekitar perkebunan sawit. Cukup dengan 20 kepala keluarga (KK), kami langsung membuka sekolah anak-anak karyawan perkebunan sawit dan masyarakat sekitarnya. Awalnya, sulit mendapat siswa dan guru. Namun lama-kelamaan, siswa semakin banyak dan perusahaan sawit membiayai dan memfasilitasi para guru lulusan sarjana. Sehingga anak-anak mendapat akses pendidikan sesuai standar nasional bidang materi, guru, monitoring dan evaluasi,” ungkap Dr. Mesta Limbong.

Di sisi lain, Dr. Mesta Limbong melihat tantangan program pendidikan anak-anak di perkebunan-perkebunan sawit Negara RI saat ini. “Ada jumlah tantangan pelayanan pendidikan anak-anak di perkebunan-perkebunan sawit di Negara RI saat ini, yaitu (1) transparansi anggaran pendidikan dari Pemerintah dan perusahan sawit, karena perusahan sawit juga membiayai dan memfasilitasi para guru; khususnya dana dikelola secara profesional agar program pendidikannya sustainabel atau berkelanjutan; (2) meski para guru umumnya lulusan sarjana, namun perlu ada pelatihan para guru bidang materi pendidikan, motivasi mengajar dan mendidik, monitoring dan evaluasi; (3) jarak tinggal para guru jauh dari lokasi sekolah, melewati hutan, sungai, bahkan melawan arus sungai,” papar Dr. Mesta Limbong.

Banyak manfaat dapat diraih dari program pendidikan anak-anak bukan hanya SDM di perkebunan-perkebunan sawit selama ini. “Manfaat pendidikan anak-anak SDM perusahan sawit, sangat banyak. Misalnya, anak-anak mendapat akses pendidikan sesuai standar nasional; orang tua tidak kesulitan mengurus pendidikan anak-anaknya; sekolah-sekolah tidak jauh dari lokasi tinggal anak-anak dan orangtuanya; biaya pendidikan murah dan penghasilan keluarga tidak terganggu untuk membiaya pendidikan; perusahan bertanggung jawab pada pendidikan SDM dan anak-anak atau masyarakat sekitar perusahan sawit,” ungkap Dr. Mesta Limbong.

Oleh: Fens Alwino (Jakarta)

Penerbit


Anticipatory Democracy & Pemilu Tahun 2019

Risiko bencana skala nasional dan global kini seakan tidak peduli dengan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) vs Tiongkok (Chris. Rugabuer/AP, 29/10/2018) dan pembunuhan Jamal Khashoggi, kolumnis Washington Post, saat penjualan senjata AS ke Arab Saudi senilai 110 miliar dollar AS yang mencipta 500.000 ribu lapangan kerja di AS (Reuters, 30/1/2018). Tragedi dan ancaman bencana alam seakan tidak peduli dengan pertumbuhan ekonomi RI kuartal ke-2 tahun 2018 mencapai 5,27% per tahun (Reuters, 6/8/2018) atau lonjakan ekspor minyak sawit dari Negara RI sebesar 4,25 juta ton pada September dari 4,01 juta ton pada Agustus 2018 (Bernadette Christina Munthe/Reuters 19/10.2018). Begitu pula inflasi Negara RI sekitar 2,88% pada Juni 2018 dan 3,23% pada Mei 2018 (Reuters, 29/6/2018) dan defisit perdagangan RI menurun karena ekspor bat ubara September 2018 (Reuters, 12/10/2018). ... Baca selanjutnya

img

Jurnal

Berita