• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Percepat Kebijakan Peralihan Energi Fosil ke Terbarukan

Kamis 12 April 2018 di Jakarta, Presiden RI Joko Widodo menandatangani Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 35 Tahun 2018 tentang Percepatan Pembangunan Instalasi Pengolah Sampah Menjadi Energi Listrik Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan. 

Senin 2 Juli 2018, Presiden RI Joko Widodo meresmikan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) Sidrap dengan kapasitas 75 MW dan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Punagaya 2×100 MW dan PLTU Jeneponto Ekspansi 2×135 MW di Sulawesi Selatan. PLTB pertama di Negara RI ini memiliki 30 kincir angin dengan tinggi tower 80 meter dan panjang baling-baling 57 meter, yang menggerakkan 30 turbin berkapasitas 2,5 MW. (Setkab RI, 2/7/2018).

Menurut  Prof. Dr. Atmonobudi Soebagyo, dosen Program Pascasarjana Teknik Elektro Universitas Kristen Indonesia (UKI), Jakarta, bahwa saat ini, Rakyat dan Pemerintah Negara RI masih sangat bergantung pada energi fosil (batubara, minyak bumi, dan gas) untuk bidang transportasi dan listrik, yang berisiko terhadap lingkungan dan generasi akan datang.

“Untuk bidang transportasi dan listrik, Rakyat dan Pemerintah RI masih sangat bergantung pada energi fosil yaitu batubara, minyak bumi, dan gas. Pembentukan fosil butuh waktu 500 juta tahun. Jika dihabiskan begitu saja oleh 2-3 generasi sekarang, bagaimana anak cucu kita? Pemerintah harus serius beralih dari energi fosil ke energi terbarukan. Karena Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) masih berorientasi ke penggunaan energi fosil, antara lain upaya eksploitasi pada temuan baru satu lokasi kandungan 600 ribu barel minyak di Negara RI,” Prof. Dr. Atmonobudi Soebagyo, alumnus S2 (M.S.E.E) dan S3 (Ph.D) pada University of Wisconsin, Milwaukee, Amerika Serikat, kepada Staging-Point.Com, Rabu (24/10/2018) di Kampus Pascasarjana Universitas Kristen Indonesia (UKI), Jln Diponegoro  No. 84-86, Jakarta Pusat.

Prof. Dr. Atmonobudi Soebagyo melihat bahwa kini saatnya sangat urgen kebijakan Negara atau Pemerintah beralih dari penggunaan energi fosil ke energi terbarukan. “Peralihan dari energi fosil ke energi terbarukan sangat bergantung pada kebijakan Pemerintah. Kita dapat belajar dari beberapa negara seperti Skandinavia yang memiliki banyak sumber energi fosil, tetapi tidak menggunakannya; Skandinavia menggunakan energi air terjun, gelombang laut, dan angin yang termasuk energi-energi terbarukan yang ada selama bumi dan matahari masih ada,” papar Prof. Dr. Atmonobudi Soebagyo.

Prof. Dr. Atmonobudi Soebagyo menyebut contoh. “Pemerintah perlu percepat dan perkuat kebijakan peralihan dari penggunaan energi fosil ke energi terbarukan. Misalnya, energi solar cell yang menggunakan photovoltaic, mengubah energi cahaya matahari menjadi energi listrik, yang tidak mahal, perawatan murah, ramah lingkungan dan bertahan 20-30 tahun. Begitu pula energi air terjun dari gravitasi bumi dan energi angin, derivatif energi matahari. Tantangannya, kesiapan Pemerintah beralih ke energi terbarukan,” ungkap Prof. Dr. Atmonobudi Soebagyo.

Selasa (9/5/2017) di Jayapura (Papua), Presiden Joko Widodo meresmikan Listrik Desa Papua-Papua Barat, Maluku-Maluku Utara, PLTMH dan PLTS Tersebar, PLTU Maluku Utara 2 X 7 MW serta Groundbreaking PLTMG MPP Jayapura 50 MW di Proyek Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) MPP Jayapura 50 MW, Holtekamp, Distrik Muara Tami. (Setkab RI, 9/5/2017).

April 2018, Badan Litbang dan Inovasi (BLI) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Negara RI membangun pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH) yang murah dan ramah lingkungan serta berbasis partisipasi masyarakat di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. PLTMH ini menghasilkan 5.700 watt atau 57 KVA dan melayani  113 Kepala Keluarga (KK). Setiap KK hanya membayar Rp 10 ribu per bulan. (Setkab RI, 28/4/2018).

Lebih rinci Prof. Dr. Atmonobudi Soebagyo menjelaskan manfaat penggunaan energi terbarukan untuk Rakyat, Bangsa dan Negara RI kini dan ke depan. “Penggunaan energi terbarukan memberi banyak manfaat. Secara ekonomis, energi terbarukan murah, selalu tersedia selama masih ada bumi dan matahari, dan industri-industri kreatif akan masuk seiring masuknya energi listrik. Itu berarti, ada peningkatan pendapatan. Secara sosial, masyarakat mewariskan nilai atau tradisi merawat alam dan lingkungannya, tata-masyarakat tetap stabil, dan kebutuhan dasar Rakyat terpenuhi. Dari sisi lingkungan, energi terbarukan tidak menimbulkan polusi dan perubahan iklim,” ungkap Prof. Dr. Atmonobudi Soebagyo. 

Oleh: Fens Alwino (Jakarta)

Penerbit


Anticipatory Democracy & Pemilu Tahun 2019

Risiko bencana skala nasional dan global kini seakan tidak peduli dengan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) vs Tiongkok (Chris. Rugabuer/AP, 29/10/2018) dan pembunuhan Jamal Khashoggi, kolumnis Washington Post, saat penjualan senjata AS ke Arab Saudi senilai 110 miliar dollar AS yang mencipta 500.000 ribu lapangan kerja di AS (Reuters, 30/1/2018). Tragedi dan ancaman bencana alam seakan tidak peduli dengan pertumbuhan ekonomi RI kuartal ke-2 tahun 2018 mencapai 5,27% per tahun (Reuters, 6/8/2018) atau lonjakan ekspor minyak sawit dari Negara RI sebesar 4,25 juta ton pada September dari 4,01 juta ton pada Agustus 2018 (Bernadette Christina Munthe/Reuters 19/10.2018). Begitu pula inflasi Negara RI sekitar 2,88% pada Juni 2018 dan 3,23% pada Mei 2018 (Reuters, 29/6/2018) dan defisit perdagangan RI menurun karena ekspor bat ubara September 2018 (Reuters, 12/10/2018). ... Baca selanjutnya

img

Jurnal

Berita