• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Stabilitas Rupiah/Dollar: Genjot Ekspor dan Nasionalisme

Rabu pagi (5/9/2018) di Jakarta, Presiden RI Joko Widodo merilis arah kebijakan respons posisi rupiah/dollar AS mendekati 15.000/dollar AS. “Ini adalah faktor eksternal yang bertubi-tubi, baik yang berkaitan dengan kenaikan suku bunga di Amerika, yang berhubungan dengan perang dagang AS-China, maupun yang berkaitan dengan krisis di Turki dan Argentina... Kuncinya memang hanya ada dua, di investasi yang harus terus meningkat dan ekspor yang juga harus meningkat, sehingga bisa menyelesaikan defisit transaksi berjalan,” kata Presiden Jokowi menjawab pertanyaan wartawan usai menghadiri Pelepasan Ekspor Mobil Toyota, di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. (Humas Setkab RI, 5/9/2018).

Dr. Dedi Purwana, SE.,M.Bus, dosen dan Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jakarta (UNJ), melihat bahwa ada 3 (tiga) faktor pemicu melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS sejak awal September 2018 yakni perang dagang Amerika Serikat (AS) vs Tiongkok, impor Negara RI lebih tinggi dari ekspor, dan faktor politik jelang Pemilihan Presiden-Wakil Presiden tahun 2019.

“Ada tiga faktor pemicu melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS sejak awal September 2018 yaitu (1) perang dagang antara dua raksasa ekonomi, AS vs Tiongkok yang memengaruhi pasar uang dan investasi global; (2) neraca perdagangan belum seimbang, karena nilai impor lebih tinggi dari ekspor; dan (3) situasi politik jelang Pilpres 2019 yang memengaruhi psikologi pasar,” papar Dr. Dedi Purwana, SE.,M.Bus, alumnus S2  Manajemen Bisnis di La Trobe University,  Australia (2000) dan S3 Manajemen Pendidikan di Universitas Negeri Jakarta (2015) kepada Staging-Point.Com, Kamis (25/10/2018) di Fakultas Ekonomi UNJ, Jln Rawamangun Muka, Jakarta.

Pada 6 Juli 2018, Pemerintah AS menerapkan tarif 25% terhadap impor asal Tiongkok senilai 34 miliar dollar AS (Andrew Walker/BBC, 12/7/2018). Target AS ialah melindungi keamanan AS dan properti intelektual dari bisnis AS serta mengurangi defisit dagang AS-Tiongkok (White House, 7/4/2018; Jeremy Diamond/CNN, 22/3/2018) Pemerintah AS berencana meningkatkan tarif dari 19 mata-dagang hingga 10 ribu mata-dagang dengan Tiongkok. Perang dagang AS vs Tiongkok telah memicu risiko di pasar uang dan investasi global.

Pada 3 September 2018, nilai tukar yuan Tiongkok, rubel Rusia, rial Iran, dan rupiah dari Negara RI melemah terhadap dollar AS. Peso Argentina melemah 52,3%; lira Turki melemah 43%; rand Afrika Selatan melemah 20%; rubel Rusia melemah 15%; bolivar Venezuela melemah 100%; real Brazil melemah 20%; peso Cile melemah 11%; rupiah RI melemah 10%; yuan Tiongkok melemah 5% (AP, 3/9/2018).

Dr. Dedi Purwana, SE.,M.Bus melihat bahwa titik-titik keseimbangan dari siklus nilai tukar rupiah/ dollar masih sulit diramalkan dengan kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sekarang dan ketidakseimbangan neraca ekspor-impor Negara RI.

“Dengan posisi APBN saat ini dan ketidakseimbangan necara perdagangan kita, maka masih sulit diperkirakan, pencapaian titik keseimbangan dari siklus rupiah/dollar. Meskipun, pasti akan tercapai titik keseimbangan rupiah/dollar, namun kapan waktunya belum dapat diketahui persis. Karena bergantung pada ekspor kita. Maka Pemerintah harus punya kegiatan untuk mengatasi ketidakseimbangan neraca ekspor-impor kita. Posisi ekspor kita harus digenjot. Kalau bisa ekspor harus lebih besar dari pada impor, dengan demikian neraca perdagangan kita mengalami surplus,” ungkap Dr. Dedi Purwana, SE.,M.Bus.

Awal tahun 2018, Bank Sentral AS (Fed / Federal Reserve) meningkatkan level suku bunga (benchmark) yang memicu pelemahan nilai tukar sejumlah kawasan. Dampaknya mulai terasa, defisit transaksi berjalan (current account) RI mencapai 8 miliar dollar AS (sekitar 3% GDP) kuartal ke-3 tahun 2018 dari sekitar 2,2% GDP atau sebesar 5,7 miliar dollar AS pada kuartal ke-2 tahun 2018; ekspor mencapai 88,02 miliar dollar AS (khususnya hasil ekspor minyak sawit, batubara termal,  karet, kakao dan tembaga) hingga Juni 2018 (Xinhua, 13/8/2018).

Selain peningkatan ekspor, Dr. Dedi Purwana, SE.,M.Bus menambahkan bahwa masyarakat perlu perkuat nasionalisme. “Kesadaran masyarakat juga harus tinggi. Kalau bisa, gunakan uang Rupiah. Yang punya Dollar, tukarlah dengan Rupiah. Ngapain nyimpan Dollar?  Dengan begitu, rasa nasionalisme kita juga diuji,” ujar Dr. Dedi Purwana, SE.,M.Bus. 

Oleh: Fens Alwino (Jakarta)

Penerbit


Anticipatory Democracy & Pemilu Tahun 2019

Risiko bencana skala nasional dan global kini seakan tidak peduli dengan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) vs Tiongkok (Chris. Rugabuer/AP, 29/10/2018) dan pembunuhan Jamal Khashoggi, kolumnis Washington Post, saat penjualan senjata AS ke Arab Saudi senilai 110 miliar dollar AS yang mencipta 500.000 ribu lapangan kerja di AS (Reuters, 30/1/2018). Tragedi dan ancaman bencana alam seakan tidak peduli dengan pertumbuhan ekonomi RI kuartal ke-2 tahun 2018 mencapai 5,27% per tahun (Reuters, 6/8/2018) atau lonjakan ekspor minyak sawit dari Negara RI sebesar 4,25 juta ton pada September dari 4,01 juta ton pada Agustus 2018 (Bernadette Christina Munthe/Reuters 19/10.2018). Begitu pula inflasi Negara RI sekitar 2,88% pada Juni 2018 dan 3,23% pada Mei 2018 (Reuters, 29/6/2018) dan defisit perdagangan RI menurun karena ekspor bat ubara September 2018 (Reuters, 12/10/2018). ... Baca selanjutnya

img

Jurnal

Berita