• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Tata Kota: Tanah, Air, Udara & Sinar Matahari

Jumat (19/10/2018) pada acara Temu Karya Nasional Gelar Teknologi Tepat Guna (TTG) XX & Pekan Inovasi Perkembangan Desa/Kelurahan (PINDesKel) Tahun 2018 di Garuda Wisnu Kencana (GWK) Cultural Park, Ungasan, Kuta Selatan, Badung (Provinsi Bali), Presiden RI Joko Widodo merilis rencana alokasi dana kelurahan untuk wilayah perkotaan Negara RI tahun 2019. “Dan mulai tahun depan, perlu saya sampaikan, terutama untuk kota, akan ada yang namanya anggaran kelurahan. Banyak keluhan, Pak ada dana desa, kok enggak ada dana untuk kota,” papar Presiden RI Joko Widodo (Humas Setkab RI, 19/10/2018).

Kamis (20/7/2017) di Savana Hotel & Convention, Kota Malang (Jawa Timur), Presiden RI Joko Widodo merilis sambutan pada Rapat Kerja Nasional XII Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia Tahun 2017. “Saya ingin berbicara masalah kota, masalah diferensiasi kota...setiap kota itu memang harus ada pembedanya. Bogor, misalnya, dengan Bali, dengan Denpasar, harus beda, dengan Kota Ambon harus beda lagi, dengan Balikpapan harus beda lagi.... Misalnya, Kota Ambon, Pak Walikota misalnya, saya enggak nyuruh ini ya. Urusan masalah ikan di situ, tapi menjadi terbaik terbesar dengan semua fasilitas ada di situ, orang mau seminar, orang yang mau bicara masalah ikan, hanya di Ambon.  Orang di seluruh dunia kalau ingin berbicara ikan harus ingat Ambon, misalnya. Tapi dirancang betul,” papar Presiden RI Joko Widodo (Humas Setkab RI, 20/7/2017).

Prof. Dr. Ing. Ir. Uras Siahaan, Lic. rer. reg, Kaprodi Magister Teknik Arsitektur PPs Universitas Kristen Indonesia (UKI),  Jakarta, berpendapat bahwa kota-kota di Negara RI umumnya merupakan kota tua yang berkembang dari kampung-kampung; keunikan ini perlu dirawat dan ditata agar lebih sehat, udaranya bersih, ada sinar matahari dan akses air bersih.  

“Di Negara RI banyak terdapat kota tua yang dipadati kampung-kampung. Perkampungan-perkampungan demikian tidak perlu dirombak atau dibangunkan apartemen sebagai pengganti perumahan. Biarkan saja tetap asli. Cuma harus dibikin supaya perkampungan-perkampungan itu lebih sehat, para penghuninya mendapatkan air bersih dan udara bersih, terdapat akses keluar dan masuk jalan besar, dan membuang sampah pada tempatnya. Perumahan di pinggir sungai harus dinormalisasi.  Jadi, air, udara bersih, sampah, dan tanah adalah unsur pokok tata kota,” ungkap Prof. Dr. Ing. Ir. Uras Siahaan, alumnus S2 Perencanaan Kota di Casura (Jerman) dan S3 di Berlin (Jerman) kepada Staging-Point.Com, Rabu (24/10/2018) di Kampus Pascasarjana Universitas Kristen Indonesia (UKI), Jln Diponegoro, No. 84-86, Jakarta Pusat.

Prof. Dr. Ing. Ir. Uras Siahaan menyebut contoh tata kota Jakarta. “Kota Jakarta itu termasuk kota tua dan dipenuhi kampung-kampung kumuh. Biarkan saja tetap aslinya sebagai kota tua dengan rumah kampung padat. Aliran udara ke sana harus diperbaiki; jika dirombak, tambah ke atas; perumahan di pinggir sungai harus dibenahi; para penghuni harus mendapat air bersih, udara bersih, dan membuang sampah pada tempatnya; yang segera dicari solusinya ialah masih rendah kesadaran masyarakat Jakarta untuk membuang sampah pada tempatnya dan setiap tahun tanah kota Jakarta turun, permukaan laut lebih tinggi dari darat,” ujar Prof. Dr. Ing. Ir. Uras Siahaan.

Hasil riset dan kajian Asian Development Bank (ADB) dan Potsdam Institute for Climate Impact Research (PIK) yang dirilis Juli 2017 menyebutkan bahwa banjir dan bencana alam lainnya memicu risiko ekonomi tahun 2005 sekitar 6 miliar dan sekitar 52 miliar dollar AS hingga tahun 2050. Sebanyak 13 dari 20 kota bakal sangat berisiko yakni yakni Guangzhou, Shenzhen, Tianjin, Zhanjiang, dan Xiamen (Tiongkok); Mumbai, Chennai-Madras, Surat, and Kolkata (India); Ho Chi Minh City (Viet Nam); Jakarta (Negara RI); Bangkok (Thailand); dan Nagoya (Japan). (Secience Daily, 14/7/2017).

Lebih rinci Prof. Dr. Ing. Ir. Uras Siahaan menguraikan tahapan tata kota sehat dan lestari. “Tata kota sehat dan lestari dimulai dari tata kelola tanah, air, udara, dan sinar matahari. Pertama, harus dilihat arah datang sinar matahari, arah angin, struktur dan lokasi tanahnya di bukit, dataran, lembah, atau bekas rawa-rawa. Sehingga penataannya lebih tepat; kedua, akses masyarakat keluar dan masuk jalan besar dan untuk mobil ambulans, kendaraan polisi, dan mobil pemadam kebakaran; ketiga, ketersediaan dan pasokan air bersih dan air tanah tidak boleh disedot lagi; keempat, sinar matahari ke rumah-rumah masyarakat, tidak terhambat oleh gedung-gedung tinggi; kelima, tata kelola sampah dan membuang sampah pada tempatnya. Jadi, tata kelola air, tanah, aliran udara bersih dan sinar mata-hari, dan tata kelola sampah merupakan unsur pokok tata kota sehat dan lestari,” ungkap Prof. Dr. Ing. Ir. Uras Siahaan.

Oleh: Fens Alwino (Jakarta)

Penerbit


Anticipatory Democracy & Pemilu Tahun 2019

Risiko bencana skala nasional dan global kini seakan tidak peduli dengan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) vs Tiongkok (Chris. Rugabuer/AP, 29/10/2018) dan pembunuhan Jamal Khashoggi, kolumnis Washington Post, saat penjualan senjata AS ke Arab Saudi senilai 110 miliar dollar AS yang mencipta 500.000 ribu lapangan kerja di AS (Reuters, 30/1/2018). Tragedi dan ancaman bencana alam seakan tidak peduli dengan pertumbuhan ekonomi RI kuartal ke-2 tahun 2018 mencapai 5,27% per tahun (Reuters, 6/8/2018) atau lonjakan ekspor minyak sawit dari Negara RI sebesar 4,25 juta ton pada September dari 4,01 juta ton pada Agustus 2018 (Bernadette Christina Munthe/Reuters 19/10.2018). Begitu pula inflasi Negara RI sekitar 2,88% pada Juni 2018 dan 3,23% pada Mei 2018 (Reuters, 29/6/2018) dan defisit perdagangan RI menurun karena ekspor bat ubara September 2018 (Reuters, 12/10/2018). ... Baca selanjutnya

img

Jurnal

Berita