• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


7 Peluang Usaha Wirausaha Pemula

Kamis (5/4/2018) di Istana Merdeka (Jakarta), Presiden RI Joko Widodo menerima  Pengurus Pusat dan Daerah Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI).  Hadir pada acara itu antara lain Menko Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, dan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto.

“Negara kita ini membutuhkan entrepreneur yang harusnya tiap tahun meningkat. Hampir di semua negara maju memang standarnya memiliki entrepreneur di atas 14 persen. Kita sekarang ini angkanya masih 3,01 persen,” papar Presiden RI Joko Widodo usai menerima Pengurus Pusat dan Daerah Himpunan Pengusaha Muda Indonesia. (Setkab RI, 5/4/2018).

Dari hasil riset Lembaga Penelitian Sosial, Ekonomi, dan Humaniora (LPPM), Universitas Negeri Jakarta (UNJ) tentang peluang jenis usaha era digital saat ini di Negara RI, menurut Dr. Saparuddin Mukhtar, M.Si, Kepala Pusat Lembaga Penelitian Sosial, Ekonomi, dan Humaniora (LPPM) UNJ, terdapat 7 (tujuh) peluang jenis usaha bagi wirasaha pemula.

“Berdasar hasil riset kami, beberapa jenis usaha bisnis dapat memberi peluang bagi wirausaha pemula saat ini, yaitu (a) Bisnis Online; tingkat pertumbuhan bisnis online masih signifikan;  (b) Usaha Waralaba atau Franchise; (c) Industri Hiburan atau Entertainment; (d) Industri Kreatif yang membutuhkan keahlian dan daya kreasi yang tinggi untuk menghasilkan produk bernilai jual; (e) Usaha Jasa, seperti cuci motor, jasa laundry, bimbingan belajar, percetakan; (f) Fintech yang makin menjamur di Negara RI, dan (g) jenis usaha cryptocurrency,” ungkap Dr Saparuddin Mukhtar, M.Si, alumnus S2 dan S3 bidang ilmu ekonomi di Universitas Padjadjaran,  Bandung (Jawa Barat), kepada Staging-Point.Com, Jumat (2/11/2018) di Lt. 7 Gedung LPPM, Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

Dr. Saparuddin Mukhtar juga melihat sejumlah faktor yang mendukung peluang ke-7 sektor usaha tersebut di atas bagi wirausaha pemula. “Bagi pemula, bisnis waralaba paling cocok karena akan dibantu oleh pemilik waralaba (pemegang merek), seperti training hingga tahap proses produksi; sedangkan peluang usaha sektor hiburan atau entertainment, sebab sektor ini selain mensyaratkan daya kreasi tumbuh pesat juga seiring dengan pertumbuhan sosial ekonomi lainnya, seperti karaoke dan rumah produksi,” ungkap Dr. Saparuddin Mukhtar.

Bank Dunia (2008) merilis laporan bahwa, jumlah wirausaha Negara RI hanya berkisar 1,56% dari total penduduk. Singapura mencapai 7,2% dari total penduduk. Thailand berkisar 4,1% dari total penduduk. Badan Pusat Statistik (BPS) merilis hasil survei Februari 2014 bahwa terdapat 20,32 juta orang Indonesia bekerja sendiri; 19,74 juta pengusaha dibantu buruh tidak tetap dan hanya 4,14 juta pengusaha dibantu oleh buruh tetap. Akibatnya, wirausaha (entrepreneur) belum banyak menciptakan nilai-nilai sosial ekonomi seperti penciptaan lapangan kerja, karir, suplai modal, alokasi sumber, inovasi usaha dan produk di Negara RI. 

Menurut Dr. Saparuddin Mukhtar, lansekap ekonomi Negara RI saat ini memang telah mengalami perubahan antara lain akibat kemajuan industry 4.0. “Landscape ekonomi nasional kini bisa kita identikkan dengan kondisi struktural ekonomi Indonesia. Ukuran perubahan struktur perekonomian umumnya berdasarkan besaran konstribusi sektor terhadap Produk Domestik Bruto. Kini perubahan struktur ekonomi Negara RI bergeser dari sektor industri komoditas ke arah industri digital, seiring dengan dinamika industri 4.0. yang membuka peluang usaha millenial pada sektor industri digital seperti Fintech, cryptocurrency, dan sektor makanan dan minuman, karena segmen pasarnya adalah anak muda yang suka diskusi dan berkumpul sambil makan dan minum,” ujar Dr. Saparuddin Mukhtar.

Dr. Saparuddin Mukhtar menyebut contoh e-commerce dan handycraft. “Revolusi e-commerce memicu menurunnya omset penjualan pengusaha konvensional. Pengusaha konvensional pun akhirnya masuk ke e-commerce. Untuk sektor UMKM, e-commerce penting untuk kemajuan dan kemudahan berbisnis. E-commerce memberi harapan untuk bagi para pelaku usaha kecil dan menengah yang ingin menjangkau konsumen yang lebih luas lagi. Iklim  e-commerce di Negara RI saat ini, sangat bagus,” ungkap Dr. Saparuddin Mukhtar.

Sedangkan sektor handycraft, menurut Dr. Saparuddin Mukhtar, memiliki pangsa pasarnya dan dapat didukung oleh e-commerce. “Kerajinan tangan atau hand made asal Indonesia sudah memiliki pasar sendiri di dalam dan luar negeri. Produknya unik dan harga bersaing. Ini pula peluang bagi wirausaha pemula dan UKM,” ujar Dr. Saparuddin Mukhtar. 

Oleh: Fens Alwino (Jakarta)

Penerbit


Ekonomi RI & Potensi Resesi AS

Akhir 2018, Pemerintah RI siap menanda tangan kesepakatan investasi dan perdagangan bebas dengan Swiss, Liechtenstein, Norwegia dan Iceland (negara EFTA). Total nilai perdagangan RI-EFTA tahun 217 mencapai 2,4 miliar dollar AS dengan surplus sekitar 212 juta dollar AS. (Bernadette Christina Munthe/Reuters, 24/11/2018). Berikutnya, awal November 2018, Pemerintah RI berupaya menyepakati ekspor senilai 1,5 miliar dollar AS CPO per tahun ke Pakistan (Reuters, 8/11/2018). Total produksi minyak sawit RI tahun 2018 mencapai 42 juta ton (Fransiska Nango, 2/11/2018). Di Jakarta, perusahan Korea Selatan, seperti Parkland, LS Cable & System Asia Ltd, Sae-A Trading, Taekwang Industrial Co Ltd, World Power Tech and InterVet, Hyundai Engineering & Construction Co Ltd, Doosan Heavy Industries & Construction Co Ltd, Midland Power Co Ltd, POSCO Engineering & Construction Co Ltd and Hyundai Engineering Co Ltd, membuat 15 MoU dan 6 komitmen investasi di Negara RI (Reuters, 11/9/2018). ... Baca selanjutnya

img

Jurnal

Berita