• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Empat Cara Hadapi Risiko Perubahan Iklim

Jumat (7/7/2017) pada acara Leaders’ Retreat Sesi II, Konferensi Tingkat Tinggi G20 di Hamburg (Jerman), Presiden RI Joko Widodo merilis pembangunan berkelanjutan dan perubahan klim. “Saya telah menandatangani Peraturan Presiden dan membentuk Tim Koordinasi Nasional bagi implementasi SDGs (Sustainable Development Goals, red). Indonesia juga melakukan pengurangan sampah dengan reduce-reuse-recycle sebesar 30% pada tahun 2025 dan menetapkan target mengurangi sampah plastik laut (marine plastic debris) sebesar 70% hingga tahun 2025,” papar Presiden RI Joko Widodo (PresidenRI.go.id, 8 Juli 2017).

Selasa (4/7/2017) di Jakarta, Presiden RI Joko Widodo menetapkan Peraturan Presiden Republik Indonesia (Perpres RI) No. 59 Tahun 2017 tentang Pelaksanaan Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Menurut Psl 2 ayat (2) Perpres No. 59/2017, sasaran Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) ialah menjaga peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat secara berkesinambungan, keberlanjutan kehidupan sosial masyarakat, kualitas lingkungan hidup serta pembangunan inklusif dan terlaksananya tata kelola menjaga peningkatan kualitas kehidupan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Menurut Dr. Diana Vivanti, MSi,  dosen Program Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dan Pengampu Mata Kuliah Ekologi dan Lingkungan Program Pascasarjana UNJ di Jakarta, bahwa perubahan iklim akhir-akhir ini memang sangat nyata yang memicu banyak risiko terhadap daya sangga ekosistem, gangguan kesehatan fisik dan psikis manusia, dan kehidupan sosial ekonomi Rakyat di berbagai negara, termasuk Negara RI.

“Perubahan iklim itu nyata. Misalnya, di Negara RI, musim hujan dan kemarau tidak pasti; di Filipina dan Amerika Serikat, ada hujan badai; Negara RI, saat musim hujan dilanda banjir, dan di musim kemarau, dilanda kekeringan. IPTEK seperti BMKG di Negara RI memprediksi kapan terjadinya,” papar Dr. Diana Vivanti, Msi, alumnus S2 ekologi di Universitas Gadjah Mada (UGM) tahun 1994 dan S3 Managemen Lingkungan di  UNJ tahun 2013, kepada Staging-Point.Com, Kamis (25/10/2018) di Lt. 5 Gedung FMIPA, Universitas Negeri Jakarta, Jakarta.

Dr. Diana Vivanti melihat 7 (tujuh) dampak dan risiko nyata dari perubahan iklim terhadap Rakyat dan lingkungannya di Negara RI akhir-akhir ini. “Ada 7 (tujuh) risiko akibat perubahan iklim di Negara RI saat ini yaitu (1) cuaca makin tidak menentu; (2) musim kemarau lebih lama (9 bulan) dari pada musim hujan (3 bulan); (3) manusia mengalami gangguan kesehatan fisik dan psikis akibat cuaca ekstrim dan pencemaran udara; (4) flora, fauna dan banyak spesies terancam, hijrah dan mati; (5) petani sulit menyesuaikan pola tanam; petani beralih ke pekerjaan lain; (6) ekosistem tidak seimbang dan banyak mata-rantai kehidupan terputus dan biota rusak; dan (7) ikatan-ikatan sosial makin longgar,” papar Dr. Diana Vivanti.

Lonjakan pelepasan karbondioksida (CO2) ke atmosfer, menurut Dr. Diana Vivanti, merupakan pemicu utama perubahan iklim. “Perubahan iklim terutama dipicu oleh lonjakan pelepasan karbondioksida (CO2) dari pembakaran fosil, BBM, batu-bara, industri, dan lain-lain ke atmosfer atau udara; akibatnya muncul panas. di sisi lain, sinar matahari masuk ke bumi yang diserap oleh tumbuhan melalui proses sintesis; jika tidak banyak diserap, dipantulkan lagi ke atmosfer yang memicu panas. Solusinya ialah (1) petani tanam tanaman holtikultura; siapkan bibit-bibit yang tahan panas; (2) pola pikir dan pola tindakan masyarakat harus berubah, yakni lebih ramah lingkungan dan merawat lingkungan atau ekosentrisme bahwa manusia adalah bagian dari ekosistem; (3) tanam banyak pohon; dan (4) sikap dan kebijakan tegas dari Pemerintah untuk mengurangi bahan bakar fosil dan meningkatkan sumber energi terbarukan dan ramah lingkungan,” ungkap Dr. Diana Vivanti.

Dr. Diana Vivanti menyebut contoh kota Jakarta. “Karbon dari pabrik dan kendaraan banyak menyumbang perubahan iklim dan kerusakan. Kota-kota besar dunia sudah banyak tercemar karbon. Di Jakarta, pencemaran udara meningkat; volume kendaraan tidak diimbangi oleh jumlah ruang terbuka hijau; akibatnya, polusi dan panas. Lonjakan penduduk juga belum terkendali. Solusinya ialah empat cara tersebut di atas,” ujar Dr. Diana Vivanti.

Saat ini di Negara RI, Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) menjadi pedoman bagi kementerian, lembaga, Pemda, Ormas, Filantropi, Pelaku Usaha, Akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya dalam menyusun rencana, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi TPB (Psl 3 Perpres RI No. 59/2017). Dasar yuridis Perpres RI No. 59/2017 antara lain  Pasal 4 ayat (1) UUD 1945;  UU No. 25/2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dan UU No. 23/2014 tentang Pemerintahan Daerah. 

Oleh: Fens Alwino (Jakarta)

Penerbit


Ekonomi RI & Potensi Resesi AS

Akhir 2018, Pemerintah RI siap menanda tangan kesepakatan investasi dan perdagangan bebas dengan Swiss, Liechtenstein, Norwegia dan Iceland (negara EFTA). Total nilai perdagangan RI-EFTA tahun 217 mencapai 2,4 miliar dollar AS dengan surplus sekitar 212 juta dollar AS. (Bernadette Christina Munthe/Reuters, 24/11/2018). Berikutnya, awal November 2018, Pemerintah RI berupaya menyepakati ekspor senilai 1,5 miliar dollar AS CPO per tahun ke Pakistan (Reuters, 8/11/2018). Total produksi minyak sawit RI tahun 2018 mencapai 42 juta ton (Fransiska Nango, 2/11/2018). Di Jakarta, perusahan Korea Selatan, seperti Parkland, LS Cable & System Asia Ltd, Sae-A Trading, Taekwang Industrial Co Ltd, World Power Tech and InterVet, Hyundai Engineering & Construction Co Ltd, Doosan Heavy Industries & Construction Co Ltd, Midland Power Co Ltd, POSCO Engineering & Construction Co Ltd and Hyundai Engineering Co Ltd, membuat 15 MoU dan 6 komitmen investasi di Negara RI (Reuters, 11/9/2018). ... Baca selanjutnya

img

Jurnal

Berita