• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Negara RI Butuh Pancasila Menjadi ‘Living Ideology’

Jumat pagi (1/6/2018) pada Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila di Halaman Gedung Pancasila Kementerian Luar Negeri (Jakarta), Presiden RI Joko Widodo menyampaikan nilai historis Pancasila. “Pancasila pertama kali diuraikan secara jelas oleh Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945, kemudian dituangkan dalam Piagam Jakarta pada tanggal 22 Juni 1945 dan dirumuskan secara final pada tanggal 18 Agustus 1945. Para pendiri Bangsa dari berbagai kelompok, golongan, dan latar belakang duduk bersama untuk menetapkan Pancasila sebagai pemersatu segala perbedaan,” papar Presiden RI Joko Widodo (Setkab RI, 1/6/2018).

Dr. Thomas Tokan Pureklolon, M. Ph., MM., M.Si, dosen Universitas Pelita Harapan (UPH) di Jakarta, melihat bahwa krisis-krisis dalam kehidupan berBangsa dan berNegara selama ini lazimnya terjadi akibat terkikisnya jati diri atau karakter, etika dan ideologi Bangsa Indonesia yang terkandung dalam nilai-nilai Pancasila sesuai amanat alinea ke-4 Pembukaan UUD 1945.

“Pancasila adalah dasar Negara RI dan ideologi Bangsa Indonesia yang lahir dan tumbuh dari bumi Negara RI, berkembang sepanjang sejarah, adat istiadat dan kebudayaan masyarakat-masyarakat di Nusantara sejak dulu. Namun, kehidupan Bangsa dan Negara RI memperlihatkan indikasi anomalous, abnormal atau ganjil, otak pandai berkelit, tetapi nurani tanpa kearifan, kepekaan, dan kejernihan,” papar papar Dr. Thomas Tokan Pureklolon, M. Ph., MM., M.Si, alumnus S2 dari Universitas Indonesia (UI) dan S3 dari Universitas Indonesia (UI) bidang ilmu sosial dan politik kepada Staging-Point.Com, Sabtu (10/11/2018) di   Lt. 15 Gedung Yustinus, Universitas Katolik Atma Jaya di Jakarta.

Menurut Dr. Thomas Tokan Pureklolon, kondisi anomali dalam kehidupan berBangsa dan ber-Negara lazimnya terjadi akibat pengkhiatan terhadap Pancasila. “Pancasila dimuliakan dalam kata dan tulisan, tetapi dikhianati dalam perilaku dan realitas. Pengkhianatan inilah sebenarnya pangkal segala borok yang telah menyeret Negeri ini pada ancaman disintegrasi, korupsi, kolusi, nepotisme, isu radikalisme, diskriminasi, narkoba, dan krisis-krisis lainnya. Seluruh  realitas  ini mengindikasikan bahwa nilai-nilai Pancasila tidak lagi menjadi pedoman dalam kehidupan bermasyarakat, sehingga terus  berdampak pada terkikisnya nilai-nilai budaya dan etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” ungkap Dr. Thomas Tokan Pureklolon.

Dr. Thomas Tokan Pureklolon merinci faktor pemicu anomali kehidupan berbangsa dan bernegara. “Menurut teori A.J.Toynbee, situasi disintegratif kehidupan masyarakat dapat menjurus pada disolusif, lenyap atau bubar, jika para elite dan rakyatnya tetap saja tidak memiliki kepekaan nurani dalam membaca kondisi yang ada. Yang lumpuh di negeri ini sebenarnya bukan otak yang pandai berkelit, melainkan hati nurani sebagai sumber kearifan dan kejernihan. Bung Hatta selalu mengingatkan bahwa demokrasi hanyalah mungkin tegak dengan tegap apabila diikuti oleh tanggung jawab yang besar dari para pemimpin dan masyarakat secara keseluruhan,” papar Dr. Thomas Tokan Pureklolon.

Dr. Thomas Tokan Pureklolon melihat juga bahwa solusi terhadap anomali kehidupan berBangsa dan berNegara akhir-akhir ini ialah Pancasila, Dasar Negara RI yang berkedaulatan Rakyat, omnipresent dalam kehidupan berBangsa dan berNegara. “Pancasila adalah pedoman membangun NKRI. Karakter Bangsa sesungguhnya, tergambar melalui nilai-nilai Pancasila yang telah dicita-citakan oleh para pendiri Bangsa kita dan secara jelas tertuang dalam ke-5 silanya yaitu nilai Ke-Tuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan dan Keadilan yang berisi prinsip cara berpikir dan bertindak masyarakat. Maka Pancasila harus omnipresent atau living ideology dalam kehidupan berbangsa dan bernegara RI yang berkedaulatan Rakyat,” ungkap Dr. Tokan Pureklolon.

Alinea ke-4 Pembukaan UUD 1945 menyatakan bahwa “...Susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan Rakyat dengan berdasar kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu Keadilan Sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia.” 

Jumat (19/5/2018) di Jakarta, Presiden RI Joko Widodo menetapkan Peraturan Presiden (Perpres) RI No. 54 Tahun 2017 tentang Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP). Pasal 3 Perpres RI ini mengatur tugas UKP-PIP membantu Presiden dalam merumuskan arah kebijakan umum pembinaan Ideologi Pancasila dan melaksanakan koordinasi, sinkronisasi, dan pengendalian pembinaan Ideologi Pancasila secara menyeluruh dan berkelanjutan.” Dasar yuridis Perpres RI No. 54/2017 ialah Pasal 4 ayat (1) UUD 1945. Tugas UKP-PIP antara lain melaksanakan kerjasama antar lembaga dalam pelaksanaan pembinaan Ideologi Pancasila dan membuat road-map pembinaan Ideologi Pancasila secara menyeluruh dan berkelanjutan (Psl 4 huruf b Perpres No. 54/2017). 

Oleh: Fens Alwino (Jakarta)

Penerbit


Ekonomi RI & Potensi Resesi AS

Akhir 2018, Pemerintah RI siap menanda tangan kesepakatan investasi dan perdagangan bebas dengan Swiss, Liechtenstein, Norwegia dan Iceland (negara EFTA). Total nilai perdagangan RI-EFTA tahun 217 mencapai 2,4 miliar dollar AS dengan surplus sekitar 212 juta dollar AS. (Bernadette Christina Munthe/Reuters, 24/11/2018). Berikutnya, awal November 2018, Pemerintah RI berupaya menyepakati ekspor senilai 1,5 miliar dollar AS CPO per tahun ke Pakistan (Reuters, 8/11/2018). Total produksi minyak sawit RI tahun 2018 mencapai 42 juta ton (Fransiska Nango, 2/11/2018). Di Jakarta, perusahan Korea Selatan, seperti Parkland, LS Cable & System Asia Ltd, Sae-A Trading, Taekwang Industrial Co Ltd, World Power Tech and InterVet, Hyundai Engineering & Construction Co Ltd, Doosan Heavy Industries & Construction Co Ltd, Midland Power Co Ltd, POSCO Engineering & Construction Co Ltd and Hyundai Engineering Co Ltd, membuat 15 MoU dan 6 komitmen investasi di Negara RI (Reuters, 11/9/2018). ... Baca selanjutnya

img

Jurnal

Berita