• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Tiga Tantangan Guru Di Negara RI & Solusinya

Satu dari pertimbangan pokok Presiden RI dan DPR RI tahun 2005 memutuskan menetapkan UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen ialah “pembangunan nasional dalam bidang pendidikan adalah upaya mencerdaskan kehidupan Bangsa dan meningkatkan kualitas manusia Indonesia yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia serta menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni dalam mewujudkan masyarakat yang maju, adil, makmur, dan beradab berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.”

Akhir 2017, Presiden RI Joko Widodo merilis arah kebijakan tentang peran guru melalui pendidikan dalam mencerdaskan kehidupan Bangsa Indonesia. “Saya ingin menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada seluruh guru di tanah air, guru-guru yang berada di desa-desa, guru-guru yang berada di pulau-pulau terpencil, pulau terluar dan di daerah-daerah perbatasan... Guru sangat penting dalam menentukan masa depan Bangsa. Karena pendidikan adalah jalan panjang dari sebuah Bangsa menjawab tantangan dalam membangun martabatnya. Melalui pendidikan, kita menguatkan identitas, menguatkan karakter Kebangsaan Indonesia. Itulah utamanya peran guru,” papar Presiden RI Joko Widodo pada Peringatan Hari Guru Nasional dan HUT ke-72 PGRI di Stadion Patriot Candrabhaga Bekasi, Sabtu (2/12/2017).

Prof. Dr. Nurdin Ibrahim, MPd, dosen Pascasarjana Teknologi Pendidikan di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) di Jakarta, berpandangan bahwa ada tiga tantangan pelaksanaan peran profetik guru di Negara RI akhir-akhir ini yakni kendala disiplin dan akademik, guru-guru tidak netral dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), dan rapuhnya kerjasama antara guru, orang tua dan siswa.

“Problem utama pendidikan di Negara RI ialah sumber daya tenaga pendidikan entah guru maupun dosen yaitu (1) rendah disiplin dan akademik guru; misalnya, guru atau dosen sering terlambat datang mengajar, tetapi pulang lebih cepat; (2) guru-guru tidak netral dalam Pilkada untuk mendapat posisi baru  misalnya kepala sekolah atas pertimbangan balas jasa, bukan kompetensi; dan (3) rapuhnya kerjasama antara guru, siswa dan orang tua; dulu guru dihormati, sekarang guru kurang dihormati,” ungkap Prof. Dr. Nurdin Ibrahim, MPd, alumnus S2 dan S3 Teknologi Pendidikan di UNJ kepada Staging-Point.Com, Jumat (2/11/2018) di  Lt. 7 Gedung Mohammad Syafei Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Jakarta.

Presiden RI Joko Widodo merilis visi tugas dan peran profetik para guru yang tidak dapat digantikan oleh robot-robot cerdas di Negara RI. “Tersedia robot-robot super pintar yang dapat menjawab kebutuhan dan pengetahuan apa saja. Robot yang mempunyai kecerdasan buatan, artifisial inteligen. Ada sebagian berpendapat, bahwa peran guru akan dapat digantikan oleh robot-robot pintar tersebut. Saya sampaikan tidak. Guru tidak akan tergantikan karena guru mengemban tugas profetik. Menjalankan misi kemanusiaan, dan keberadaban dengan menggali, menyadarkan, mengajak dan menggerakkan jiwa anak didik pada kebenaran, pada kebaikan. Inilah sejatinya pendidikan karakter,” ujar Presiden RI Joko Widodo dalam Sambutan Peringatan Hari Guru Nasional dan HUT ke-72 PGRI di Stadion Patriot Candrabhaga Bekasi, Sabtu (2/12/2017).

Prof. Dr. Nurdin Ibrahim, MPd menyebut lima solusi agar guru dapat melaksanakan peran profetiknya untuk Bangsa dan Negara. “Ada sejumlah solusi agar guru melaksanakan peran dan tugasnya menyiapkan generasi Bangsa yaitu (1) perkuat pendidikan guru bidang pedagogi, sosial, dan akademik; karena guru lulusan era pasca reformasi itu pintar-pintar namun kurang mampu dari sisi sosial dan pedagogi; (2) kepala-kepala sekolah diangkat atas pertimbangan kompetensi, kapasitas, dan integritas; Pemerintah Pusat harus membuat uji kepatutan dan kelayakan para kepala sekolah di seluruh Negara RI; (3) penguatan pendidikan ekskul agar anak didik peka dan belajar mengatasi masalah sosial, ekonomi dan lingkungan sekitarnya; (4) penguatan edukasi link and match; (5) nasib guru-guru honorer, seperti guru-guru honorer di Provinsi NTB, harus diperhatikan oleh Pemerintah,” ujar Prof. Dr. Nurdin Ibrahim, MPd.

“Saya percaya peningkatan mutu guru perlu dibarengi dengan kebaikan kesejahteraan yang tentu harus disesuaikan dengan kemampuan negara. Karena itu, saya mohon agar persoalan sertifikasi dapat dilaksanakan dengan baik dan tunjangan profesi bagi guru yang telah disertifikasi dibayarkan tepat waktu dan tepat jumlah,” papar Presiden RI Joko Widodo pada Peringatan Hari Guru Nasional dan HUT ke-72 PGRI di Stadion Patriot Candrabhaga Bekasi, Jawa Barat, Sabtu (2/12/2017). 

Oleh: Fens Alwino (Jakarta)