• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Riset Bioplastik & Perubahan Iklim

Tahun 2050, sekitar 15% emisi CO2 di seluruh dunia, berasal dari plastik yang terbuat dari minyak bumi (petroleum). Risikonya ialah penipisan bahan bakar fosil dan perubahan iklim. Karena sekitar 400 juta metrik ton CO2 per tahun dari bahan bakar fosil yang masuk ke atmosfer di seluruh dunia, memicu pemanasan global (University of Bonn, 7/12/2018).

Sedangkan bahan bioplastik diyakini lebih ramah lingkungan karena terbuat dari bahan-bahan mentah yang mudah daur ulang (renewable raw materials) seperti jagung, gandum, atau tebu. Tanaman ini mendapatkan CO2 (karbondioksida) dari udara melalui daun-daunnya. Karena itu, ada dugaan bahwa produksi bio plastik lebih ramah lingkungan (Science Daily, 7/12/2018).

Namun, hasil riset Dr. Neus Escobar, ahli Environmental Engineering pada Institute of Food and Resource Economics, Salwa Haddad, ahli Agricultural, Food and Environmental Policy Analysis (AFEPA), Prof. Dr. Jan Börner dan Dr. Wolfgang Britz dari University of Bonn, menemukan bahwa peralihan dari plastik berbahan fosil (minyak) ke bio plastik, belum memiliki manfaat dan dampak positif sebagaimana diharapkan dan diperkirakan oleh banyak orang selama ini. Sebaliknya, lonjakan konsumsi bioplastik skala global berisiko memacu emisi gas rumah kaca (greenhouse gas emissions) akibat perluasan lahan-lahan pertanian (tebu, gandum, jagung, dan lain-lain) yang mengurangi lahan hutan-hutan (Science Daily, 7/12/2018).

Hasil riset tim ahli itu telah dirilis oleh Environmental Research Letters edisi Desember 2018 (Neus Escobar, Salwa Haddad, Jan Börner and Wolfgang Britz: “Land use mediated GHG emissions and spillovers from increased consumption of bioplastics”,  Environmental Research Letters, 2018).  

Menurut Dr. Neus Escobar, kesimpulan dan rekomendasi timnya yaitu “Consuming bioplastics from food crops in greater amounts does not seem to be an effective strategy to protect the climate. But this would probably look different if other biomass resources were used for production, such as crop residues.  We recommend concentrating research efforts on these advanced bioplastics and bring them to market,” (University of Bonn, 2018). 

Oleh: Servas Pandur

Penerbit


ECO-DEMOKRASI

Demokrasi yang terpimpin oleh hikmat kebijaksanaan dapat mengelola alam-alam ciptaan Tuhan Yang Maha Esa secara arif untuk kesejahteraan Rakyat dan sehat lestarinya ekosistem Negara, kecerdasan Bangsa, perlindungan segenap Bangsa dan seluruh tumpah darah dan ketertiban dunia berdasarkan keadilan, kemerdekaan, dan perdamaian. Rakyat tidak hanya berpartisipasi dalam Pemilu, tetapi juga berpartisipasi dalam antisipasi krisis dan tantangan masa datang. Dalam hal ini, upaya-upaya membangun Negara adalah setiap keputusan dan program kerja yang berkaitan dengan sesuatu yang benyawa yakni Rakyat, bumi, air, dan kekayaan alam. Maka sehat atau tidaknya suatu praktek demokrasi dapat diukur dari jejak-ekologisnya (ecological footprint) pada ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. ... Baca selanjutnya

img

Jurnal IPTEK

Berita