• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Strategi Ketahanan Pangan Hingga 2050

Total penduduk dunia tahun 2050 berkisar 10 miliar jiwa. Pasokan pangan untuk penduduk 10 miliar jiwa berisiko kemiskinan, akselerasi deforestasi dan peningkatan emisi gas rumah kaca (Green-House-Gas / GHG). Begitu hasil kajian tim ahli WRI, yang bekerja sama dengan Bank Dunia, UN Environment, UN Development Programme (UNDP), CIRAD dan INRA yang dirilis oleh seri World Resource Report edisi 5 Desember 2018 (CIRAD, “Transforming our food system to ensure a sustainable future.", Science Daily, 6/12/2018).

Menurut WRI, produksi pangan (agrikultur) selalu berkaitan dengan isu lingkungan misalnya deforestasi, manultrisi, kepunahan keragaman hayati, kelangkaan air, perubahan iklim, polusi air, dan lain-lain. Agrikultur, termasuk akibat perubahan tata guna lahan, memicu sekitar 25% emisi CO2 global (sekitar 12 Gt CO2 per tahun). Angka ini bakal mencapai 15 Gt CO2 per tahun pada 2050. Sedangkan lebih dari 70% ‘carbon budget’ global menurut Paris Agreement, membatasi pemanasan global hinga kurang dari 2°C. (CIRAD, 6/12/2018) Bagaimana agrikultur mengurangi emisi GHG hingga 2/3 atau sekitar 4 Gt CO2 tahun 2050?

Solusi risiko risiko tersebut, menurut laporan WRI, antara lain ketahanan pangan, dan kurangi penggunaan lahan agrikultur dan emisi GHG skala global hingga 2050 : (1) kurangi sampah pangan, kurangi makan daging (beef) dan domba, gunakan tanaman untuk pangan dan pakan ketimbang biofuels, kurangi lonjakan penduduk; (2) tingkatkan produktivitas pertanian (crop) dan peternakan (livestock) di lahan yang sama selama ini; (3) hentikan deforestasi, pulihkan lahan gambut dan lahan kritis, dan rawat lansekap alam; (4) tingkatkan aquakultur dan sektor perikanan; dan (5) penerapan teknologi ramah-lingkungan (CIRAD, 6/2/2018).

“Healthy" scenario established by the CIRAD-INRA Agrimonde-Terra foresight exercise in many important ways. However, the two differ in terms of their initial objectives. WRI set out to increase food production while reducing GHG emissions and limiting the spread of agriculture. For Agrimonde-Terra, on the other hand, the task was to explore several future land use scenarios” , ungkap Dr. Patrice Dumas, ahli asal Perancis pada CIRAD dan kontributor laporan ke WRI dan Agrimonde-Terra (CIRAD/Science Daily, 6/2/2018).

Oleh: Servas Pandur

Penerbit


ECO-DEMOKRASI

Demokrasi yang terpimpin oleh hikmat kebijaksanaan dapat mengelola alam-alam ciptaan Tuhan Yang Maha Esa secara arif untuk kesejahteraan Rakyat dan sehat lestarinya ekosistem Negara, kecerdasan Bangsa, perlindungan segenap Bangsa dan seluruh tumpah darah dan ketertiban dunia berdasarkan keadilan, kemerdekaan, dan perdamaian. Rakyat tidak hanya berpartisipasi dalam Pemilu, tetapi juga berpartisipasi dalam antisipasi krisis dan tantangan masa datang. Dalam hal ini, upaya-upaya membangun Negara adalah setiap keputusan dan program kerja yang berkaitan dengan sesuatu yang benyawa yakni Rakyat, bumi, air, dan kekayaan alam. Maka sehat atau tidaknya suatu praktek demokrasi dapat diukur dari jejak-ekologisnya (ecological footprint) pada ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. ... Baca selanjutnya

img

Jurnal IPTEK

Berita