• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Tahapan Industri 4.0: Knowledge, Doing & Thinking

Jumat (2/2/2018) di Jakarta, Presiden RI Joko Widodo menetapkan Peraturan Presiden (Perpres) No. 2 Tahun 2018 tentang Kebijakan Industri Nasional Tahun 2015-2019. Perpres ini diundangkan di Jakarta, (6/2/2018) pada Lembaran Negara RI No. 8 Tahun 2018. Perpres ini juga melaksanakan ketentuan Pasal 12 ayat (5) Undang-Undang (UU) Nomor 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian dan Pasal 3 ayat (4) Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 2015 tentang Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional Tahun 2015-2035.

Rabu pagi (4/4/2018) di Cendrawasih Hall, JCC Senayan (Jakarta), Presiden RI Joko Widodo merilis program Agenda Nasional Bangsa Indonesia Making Indonesia 4.0 pada peresmian Industrial Summit 2018. “Mulai hari ini, Making Indonesia 4.0  saya tetapkan sebagai salah satu Agenda Nasional Bangsa Indonesia dan Kementerian Perindustrian akan menjadi leading sector untuk  agenda ini. Dan saya minta pada kementerian dan lembaga lainnya, Pemerintah Daerah dan pelaku-pelaku usaha untuk mendukung penuh program ini sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing demi kesuksesan dan kemajuan Bangsa yang kita cintai ini,” papar Presiden RI Joko Widodo (Humas Setkab RI, 4/4/2018).

Dipl. Ingenieur Karl Tan Beng San, pencipta banyak robot dan dosen senior (Senior Lecturer) pada Singapore Polytechnic (SP), Nanyang Technological University (NTU) dan TH Mannheim (University of Mannheim) tahun 1983-2003 di Singapura dan International Consultant & MTI Training and Consulting sejak 2003-sekarang di Jerman, melihat bahwa kunci menghadapi Revolusi Industri 4.0 ialah persiapan sektor pendidikan dan keterampilan; namun, tantangannya bagi Negara RI ialah terlalu banyak teori atau omong dan kata-kata, kurang karya nyata; solusinya ialah kurikulum pendidikan direformasi.

“Jika dibanding dengan negara-negara lain seperti Singapura, saya mengamati persiapan pendidikan dan ketrampilan Negara RI menghadapi Revolusi Industri 4.0. Maka peran guru atau dosen masih sangat menentukan. Student itu adalah gelas kosong yang harus diisi air oleh dosennya. Kecenderungan dosen di Negara RI adalah mengisi air ke dalam gelas kosong itu sampai penuh. Ruang mahasiswa mengisi sendiri gelasnya, sangat kecil. Seharusnya porsi pendidik lebih kecil, sedangkan porsi lebih besarnya adalah peserta didik berpraktek untuk belajar sendiri memecahkan berbagai masalah,” papar  Dipl. Ingenieur Karl Tan Beng San kepada Staging-Point.Com, Rabu (7/11/2018) di Aula Gedung Pascasarjana Universitas Kristen Indonesia (UKI) - Jl. Pangeran Diponegoro 76-80 (Jakarta Pusat). Karl Tan Beng San  adalah alumnus (Dipl. Ing) bidang  Eletrotechnique dari University of Stuttgart (1975), alumnus M.Sc. bidang Adult Training and Business pada St. Gallen University (1985-1986).

Dipl. Ingenieur Karl Tan Beng San menambahkan bahwa kurikulum dan pola pendidikan atau persiapan Negara RI menghadapi Revolusi Industri 4.0 perlu direformasi. “Rumus-rumus 10-20 tahun yang lalu, banyak yang tidak lagi berlaku saat ini. Saya menciptakan banyak robot, misalnya robot pembuka botol. Bahan dasarnya sangat murah dan terlalu mudah didapatkan di Jakarta.  Di Negara RI banyak dosen sebagai tombak membuat penelitian dan inovasi yang harus menyiapkan data-data lengkap kemajuan Industri 4.0 dan mendesain  cybersecurity. Untuk itu, Pemerintah RI perlu menyiapkan tiga kurikulum pokok yakni learning, creativity, and communication yang lifelong learning dan multidiciplinary. Semuanya harus terhubung melalui networking atau eco-social enterpreneurship,” ungkap Dipl. Ingenieur Karl Tan Beng San.

Awal April 2018 di Jakarta, Presiden RI Joko Widodo merilis fokus Pemerintah di sektor Industri 4.0 “Langkah awal dalam menjalankan Making Indonesia 4.0, terdapat lima industri yang menjadi fokus implementasi Industri 4.0 di Indonesia, yaitu makanan dan minuman, tekstil, otomotif, elektronik dan kimia. Lima industri ini merupakan tulang punggung dan diharapkan membawa efek ungkit yang besar dalam hal daya saing dan kontribusinya terhadap ekonomi Indonesia menuju sepuluh besar ekonomi dunia di 2030,” papar Presiden RI Joko Widodo saat meresmikan  Agenda Nasional Bangsa Indonesia Making Indonesia 4.0 di JCC, Jakarta (Humas Setkab RI, 4/4/2018).

Dipl. Ingenieur Karl Tan Beng San merinci tahapan Industri 4.0. “Revolusi Industri bermula dari Knowledge, kemudian Doing, dan Thinking. Yang paling penting di antara ketiganya adalah Doing. Teori-teori kita pelajari di perpustakaan. Thinking kita bisa atur, kapan dan untuk apa berpikir. Sedangkan Doing adalah how to solve the problem. Doing itu adalah transfer knowledge dan skill. Ini pula tahapan Industri 4.0. Misalnya, untuk membuat robot, Anda perlu belajar alogaritma. Tapi yang lebih penting dari itu adalah Anda harus segera memulai bekerja. DO IT!, “ ungkap Dipl. Ingenieur Karl Tan Beng San. 

Oleh: Fens Alwino (Jakarta)