• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Sila I Pancasila: Jamin Semua Perbedaan

Senin siang (15/1/2018), Presiden RI Joko Widodo membuka Muktamar XII Jam’iyah Ahlith Thoriqoh Mu’tabaroh An Nahdliyyah (JATMAN) dan Halaqoh II Ulama Thoriqoh Luar Negeri Pendopo Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah. Awal abad 21, Negara RI memiliki 714 suku, 1.100 bahasa daerah, 17.000 pulau, dan 287 juta penduduk dari Sabang - Merauke, dari Pulau Miangas - Pulau Rote.  “Kuncinya, Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, dan Undang-Undang Dasar 1945 untuk menjadi pegangan,” papar Presiden RI Joko Widodo (Setkab RI, 15/1/2018).

Jumat pagi (1/6/2018) pada Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila di Halaman Gedung Pancasila Kementerian Luar Negeri (Jakarta), Presiden RI Joko Widodo menyampaikan nilai historis dan kekuatan Pancasila. “Pancasila berperan sebagai Falsafah dan Dasar Negara yang kokoh, yang menjadi pondasi dibangunnya Indonesia yang bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Pancasila pertama kali diuraikan secara jelas oleh Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945, kemudian dituangkan dalam Piagam Jakarta pada tanggal 22 Juni 1945 dan dirumuskan secara final pada tanggal 18 Agustus 1945. Para pendiri Bangsa dari berbagai kelompok, golongan, dan latar belakang duduk bersama untuk menetapkan Pancasila sebagai pemersatu segala perbedaan,” papar Presiden RI Joko Widodo (Setkab RI, 1/6/2018).

Menurut Dr. Abdul Aziz Abbaci, Direktur Sadra International Institute (2018) di Jakarta, bahwa Sila I Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa, menunjukkan Bangsa Indonesia memiliki keyakinan sangat kuat bahwaTuhan atau Allah adalah nama yang mencakup semua nama yang ada di bawahNya; Ia Esa, artinya satu yang tidak ada duanya dan menjamin semua perbedaan.

“Setiap manusia, apa pun agamanya, pasti mencari Yang Mutlak. Sebetulnya, ini adalah titik yang bisa menyatukan semua, yakni manusia, siapapun dia, pasti mencari Yang Mutlak.  Tuhan atau Allah adalah nama yang mencakup semua nama yang ada di bawahNya. Ia Esa, artinya satu yang tidak ada duanya. Ia tidak bisa dibagi, namun Ia hadir di manapun. Semua makhluk, manusia, hewan, dan tumbuhan, serta benda-benda bergantung pada-Nya. Ia memenuhi kebutuhan semua mahluk. Tidak ada mahluk yang mandiri. Tuhan itu maha kaya; sedangkan mahluk itu fakir atau kurang. Itu sebabnya semua mahluk bergantung pada Tuhan. Tuhan tidak bisa melepaskan sesuatu, dan mahluk tidak bisa terlepas.  Di Indonesia, keyakinan seperti ini sangat kuat. Sekalipun berbeda-beda keyakinannya, tapi tetap mengakui Tuhan. Tuhan menjamin semua perbedaan,” papar Dr. Abdul Aziz Abbaci, alumnus S2 Filsafat dan S3 Filsalaft pada Universitas Al-Azhar (Kairo, Mesir) kepada Staging-Point.Com, Sabtu (15/12/2018) di Aula Pesantren Khatamun Nabiyyin, Jln Munggang No. 25, Jakarta Timur.

Dalam konteks kehidupan masyarakat, berbangsa dan ber-Negara RI yang berkedaulatan Rakyat, berdasar Pancasila, menurut Dr. Abdul Aziz Abbaci, tidak mudah mewujudkan Sila I Pancasila. “Banyak orang mengaku dekat dengan Tuhan, tapi dengan cara yang sangat ekslusif. Ia memonopoli kebenaran dan tidak mengakui kebenaran pada agama lain. Pemahaman seperti itu menjauhkan diri dari Tuhan. Semakin jauh dari titik Tuhan, kita akan semakin terpisah. Tapi, kalau semakin ke atas, kita akan semakin satu dengan Tuhan. Kita perlu naik ke titik itu, supaya kita menjadi satu dengan Tuhan. Setiap manusia, apa pun agamanya, pasti mencari Yang Mutlak. Sebetulnya, ini adalah titik yang bisa menyatukan semua, yakni manusia, siapapun dia, pasti mencari Yang Mutlak,” ungkap Dr. Abdul Aziz Abbaci.

Alinea ke-4 Pembukaan UUD 1945 berbunyi : “...Susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan Rakyat dengan berdasar kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu Keadilan Sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia.” Jumat (19/5/2018) di Jakarta, Presiden RI Joko Widodo menetapkan Peraturan Presiden (Perpres) RI No. 54 Tahun 2017 tentang Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP).

Dr. Abdul Aziz Abbaci menambahkan bahwa Tuhan adalah yang menjamin perbedaan. “ Perbedaan itu adalah hukum alam. Alam mehadirkan kita secara berbeda-beda. Kita menganalogikan Tuhan dengan setiap ciptaanNya seperti matahari. Tuhan itu adalah matahari. Sedangkan mahluk-mahluk itu adalah sinar-sinarNya. Ada banyak sinar, tapi mataharinya tetap satu. Sinar banyak itu menggambarkan wadah berbeda-beda. Manusia tidak bisa mengubah wadah itu. Jangan memaksa wadah merah untuk menjadi hijau. Biarkan yang merah tetap merah, dan yang hijau tetap hijau. Allah tidak pernah menuntut supaya umatnya satu saja atau homogen. Allah menghendaki semua wadah. Tuhan adalah yang menjamin semua perbedaan,” papar Dr. Abdul Aziz Abbaci. 

Oleh: Fens Alwino (Jakarta)

Penerbit


ECO-DEMOKRASI

Demokrasi yang terpimpin oleh hikmat kebijaksanaan dapat mengelola alam-alam ciptaan Tuhan Yang Maha Esa secara arif untuk kesejahteraan Rakyat dan sehat lestarinya ekosistem Negara, kecerdasan Bangsa, perlindungan segenap Bangsa dan seluruh tumpah darah dan ketertiban dunia berdasarkan keadilan, kemerdekaan, dan perdamaian. Rakyat tidak hanya berpartisipasi dalam Pemilu, tetapi juga berpartisipasi dalam antisipasi krisis dan tantangan masa datang. Dalam hal ini, upaya-upaya membangun Negara adalah setiap keputusan dan program kerja yang berkaitan dengan sesuatu yang benyawa yakni Rakyat, bumi, air, dan kekayaan alam. Maka sehat atau tidaknya suatu praktek demokrasi dapat diukur dari jejak-ekologisnya (ecological footprint) pada ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. ... Baca selanjutnya

img

Jurnal IPTEK

Berita