• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Fosil Bunga Tanaman Berusia 174 Juta Tahun

Hasil analisa mikroskop terhadap 264 spesimen fosil dari 198 bunga Nanjinganthus dendrostyla pada 34 lempengan batu karang di wilayah Nanjing (Tiongkok) dari era awal Jurassic, diduga berusia 174 juta tahun. Begitu hasil riset Research Professor, Xin Wang, dan Dr. Qiang Fu, Associate Research Professor pada Nanjing Institute of Geology and Paleontology (Tiongkok) dan koleganya yang dirilis oleh eLife edisi Desember 2018 (Qiang Fu, Jose Bienvenido Diez, Mike Pole, Manuel García Ávila, Zhong-Jian Liu, Hang Chu, Yemao Hou, Pengfei Yin, Guo-Qiang Zhang, Kaihe Du, Xin Wang. “An unexpected noncarpellate epigynous flower from the Jurassic of China.” eLife, 2018).

“Researchers were not certain where and how flowers came into existence, because it seems that many flowers just popped up in the Cretaceous from nowhere. Studying fossil flowers, especially those from earlier geologic periods, is the only reliable way to get an answer to these questions,” ungkap ketua tim riset, Qiang Fu, Associate Research Professor di Nanjing Institute of Geology and Paleontology dalam rilis pers di Nanjing Institute, Provinsi Jiangsu, timur Tiongkok (Brooks Hays/UPI, 19/12/2018).

Teori lama memperkirakan bahwa usia tanaman berbunga angiosperm dari era Cretaceous, berkisar 130 juta tahun. Sedangkan studi berdasarkan model komputer memperkirakan bahwa bunga tanaman telah berevolusi sekitar 140 juta tahun (Laura Geggel/Live Science, 19/12/2018). Fitur utama spesimen fosil tanaman-bunga Nanjinganthus dendrostyla antara lain ovula sepenuhnya tertutup – calon benih yang muncul pra-polinasi-dan atap ovarium menutup ovula dan biji. Struktur fitur ini menunjukkan Nanjinganthus dendrostyla termasuk angiosperm (Science Daily, 19/12/2018).

“The origin of angiosperms has long been an academic headache for many botanists. Our discovery has moved the botany field forward and will allow a better understanding of angiosperms, which in turn will enhance our ability to efficiently use and look after our planet's plant-based resources,” ungkap Xin Wang, Research Professor di Nanjing Institute of Geology and Paleontology (Tiongkok). (Chinese Academy of Sciences, 18/12/2018). 

Oleh: Servas Pandur

Penerbit


ECO-DEMOKRASI

Demokrasi yang terpimpin oleh hikmat kebijaksanaan dapat mengelola alam-alam ciptaan Tuhan Yang Maha Esa secara arif untuk kesejahteraan Rakyat dan sehat lestarinya ekosistem Negara, kecerdasan Bangsa, perlindungan segenap Bangsa dan seluruh tumpah darah dan ketertiban dunia berdasarkan keadilan, kemerdekaan, dan perdamaian. Rakyat tidak hanya berpartisipasi dalam Pemilu, tetapi juga berpartisipasi dalam antisipasi krisis dan tantangan masa datang. Dalam hal ini, upaya-upaya membangun Negara adalah setiap keputusan dan program kerja yang berkaitan dengan sesuatu yang benyawa yakni Rakyat, bumi, air, dan kekayaan alam. Maka sehat atau tidaknya suatu praktek demokrasi dapat diukur dari jejak-ekologisnya (ecological footprint) pada ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. ... Baca selanjutnya

img

Jurnal IPTEK

Berita