• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Edukasi Gizi Atasi Stunting

Kamis (5/4/2018) di Kantor Presiden (Jakarta), Presiden RI Joko Widodo yang didampingi oleh Wakil Presiden RI Jusuf Kalla, memimpin Rapat Terbatas (Ratas) tentang Penurunan Stunting. “Stunting atau gagal tumbuh merupakan ancaman utama terhadap kualitas manusia Indonesia, ancaman terhadap kemampuan daya saing Bangsa,” papar Presiden RI Joko Widodo (Humas Setkab RI, 5/4/2018).

Rabu (4/7/2018) di Bogor (Jawa Barat), Presiden RI Joko Widodo yang didampingi oleh Presiden Bank Dunia (World Bank), Jim Kim, meninjau program penanganan stunting di desa Tangkil, Caringin, Bogor (Jawa Barat). “Pagi hari ini saya dengan Presiden Bank Dunia, Presiden World Bank, Bapak Jim Kim, bersama-sama datang ke Kabupaten Bogor ini. Saya ingin menunjukkan program pengurangan kekerdilan atau stunting yang telah kita lakukan dengan pemberian makanan tambahan, dengan kampanye-kampanye lewat posyandu, yang kita harapkan nanti ini bisa betul-betul mengurangi stunting di Negara kita, tidak hanya di Kabupaten Bogor tapi juga kabupaten dan provinsi yang lain,” papar Presiden RI Joko Widodo (Humas Setkab RI, 4/7/2018).

Prof. Dr. Danes Jayanegara, SE, M,Si, dosen manajemen dan Guru Besar pada Universitas Palangka Raya (UPR) di Provinsi Kalimantan Tengah, berpandangan bahwa stunting menjadi masalah Bangsa, karena Negara RI berada pada peringkat ke-5 masalah stunting di dunia, yang berdampak terhadap produktivitas, kemampuan kognisi, dan daya-saing Bangsa Indonesia.

“Di Asia Tenggara, selain Negara RI, 3 negara lain menghadapi masalah stunting yaitu Laos, Kamboja, dan Timor Leste. Negara RI berada pada peringkat ke-5 masalah stunting di dunia. Maka stunting menjadi masalah nasional yang mempengaruhi daya-saing dan produktivitas Bangsa kita. Meskipun kita mendapat bonus demografi hingga tahun 2030, namun menjadi tantangan jika produktivitas, kemampuan kognitif, dan daya-saingnya rendah; solusinya ialah pendidikan dan program atau kampanye gizi berbasis masyarakat melalui Posyandu di daerah-daerah,” ungkap Prof. Dr. Danes Jayanegara, alumnus S2 dan S3 dari Universitas Gajah Mada (UGM) kepada Staging-Point.Com, Rabu (14/11/2018) di UPR, Kalimantan Tengah.

Prof. Dr. Danes Jayanegara menyebut contoh masalah stunting di Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng). “Stunting umumnya berkaitan dengan tingkat pendidikan dan ekonomi keluarga. Orangtua tidak tahu tentang gizi, kebutuhan kalori, dan protein seorang ibu hamil. Maka perlu ada program edukasi tentang gizi, kalori, dan protein untuk ibu hamil sehat berbasis masyarakat melalui Posyandu di daerah-daerah. Di Kalteng, sekitar 39% anak stunting karena ternyata para ibu hamil enggan datang ke Posyandu. Akibatnya, kesehatan ibu hamil tidak diperiksa rutin dan berat badan ibu hamil tak terpantau, normal atau tidak; tidak tahu gizi, kalori, dan protein yang penting bagi pertumbuhan otak dan fisik jabang bayi. Kondisi ini berbeda dengan keadaan di Jepang, misalnya, fisik calon-calon atlit pesumo sudah terpantau sejak Sekolah Dasar (SD). Jepang memang sangat memperhatikan faktor gizi khususnya menu-menu sea-food untuk kesehatan fisik-otak sejak usia dini,” ujar Prof. Dr. Danes Jayanegara.

Menurut Data Riset Kesehatan Dasar dari Badan Litbang Kementerian Kesehatan (2013), sekitar 37,2% anak di Negara RI mengalami stunting atau gangguan pertumbuhan. Selasa sore (23/10/2018) di Aula Gedung III Kementerian Sekretariat Negara RI (Jakarta), Menteri Kesehatan RI Nila F. Moeloek, yang didampingi oleh Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko, merilis data bahwa hingga tahun 2018, angka stunting anak di Negara RI turun ke 30,8% dan Kementerian Kesehatan RI melibatkan tim penggerak PKK (Pembinaan Kesejahteraan Keluarga) untuk mencegah stunting di daerah-daerah melalui Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) (Humas Setkab RI, 23/10/2018).

Tahun 2013, World Health Organization (WHO) dan Bappenas RI merilis data stunting di Negara RI yakni sekitar 35,6% anak usia di bawah 6 tahun dan 35,5% anak usia 6-12 tahun, mengalami stunting. Prosentase tertinggi stunting terdapat di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) (51,7%), Sulawesi Barat (48%), dan Nusa Tenggara Barat (NTB) (45,3%). Laporan Penangan Stunting Terpadu Tahun 2018 dari Kementerian Keuangan menyebutkan bahwa sekitar 9 juta anak usia di bawah 5 (lima) tahun menderita stunting di seluruh Negara RI. Provinsi NTT menempati jumlah stunting paling besar sebanyak 319.100 anak di bawah usia 5 (lima) tahun. 

Oleh Saef (Palangka Raya) / Eko Budi Raharta (Jakarta)

Penerbit


ECO-DEMOKRASI

Demokrasi yang terpimpin oleh hikmat kebijaksanaan dapat mengelola alam-alam ciptaan Tuhan Yang Maha Esa secara arif untuk kesejahteraan Rakyat dan sehat lestarinya ekosistem Negara, kecerdasan Bangsa, perlindungan segenap Bangsa dan seluruh tumpah darah dan ketertiban dunia berdasarkan keadilan, kemerdekaan, dan perdamaian. Rakyat tidak hanya berpartisipasi dalam Pemilu, tetapi juga berpartisipasi dalam antisipasi krisis dan tantangan masa datang. Dalam hal ini, upaya-upaya membangun Negara adalah setiap keputusan dan program kerja yang berkaitan dengan sesuatu yang benyawa yakni Rakyat, bumi, air, dan kekayaan alam. Maka sehat atau tidaknya suatu praktek demokrasi dapat diukur dari jejak-ekologisnya (ecological footprint) pada ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. ... Baca selanjutnya

img

Jurnal IPTEK

Berita