• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Meningkat Polusi Ozon Di Tiongkok

Sejak rilis kebijakan anti-polusi udara awal 2013 di Tiongkok, kota-kota membatasi jumlah mobil di jalan-jalan, emisi karbon dari pabrik berbahan bakar batubara berkurang atau pabrik menggunakan gas alam. Hasilnya, hanya dalam waktu 5 (lima) tahun, konsentrasi polutan PM 2.5 merosot sekitar 40% di timur Tiongkok. Namun, di sisi lain, polusi ozon meningkat (Harvard John A. Paulson School of Engineering and Applied Sciences, 19/12/2018).

Namun, meskipun polusi PM 2.5 turun, polusi ozon (troposferik) yang berisiko terhadap kesehatan dan lingkungan, masih meningkat khususnya di kota-kota besar Tiongkok. Begitu hasil riset ahli dari John A. Paulson School of Engineering and Applied Sciences (SEAS) dan Nanjing University of Information Science & Technology (NUIST) yang dirilis oleh jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (Ke Li, Daniel J. Jacob, Hong Liao, Lu Shen, Qiang Zhang, Kelvin H. Bates. “Anthropogenic drivers of 2013–2017 trends in summer surface ozone in China.” Proceedings of the National Academy of Sciences, 2018).

Reduksi drastis level polutan PM 2.5 mengubah kimia atmosfer yang masih menyisakan lebih banyak radikal kimia penghasil ozon troposferik. Ini yang terjadi di Tiongkok. “As PM 2.5 levels continue to fall, ozone is going to keep getting worse," papar Ke Li, postdoctoral fellow pada SEAS dan peneliti utama studi ilmiah ini (Science Daily, 2/1/2018).

Ozon adalah unsur utama dalam asap kabut (smog). Ozon  troposferik kira-kira 10-18 km di atas permukaan bumi, terbentuk melalui serangkaian reaksi kimia yang diawali oleh VOC (Volatile Organic Compounds/VOC). Reaksi ini membentuk radikal kimia, yang mendorong reaksi antara oksida nitrogen (NOx) dan VOC menghasilkan ozon, jika ada sinar matahari.

NOx dan VOC dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil dan VOC juga dapat berasal dari industri. Maka solusinya ialah reduksi emisi NOx dan VOC. “Results from this study suggest that extra efforts are needed to reduce NOx and VOC emissions in order to stem the tide of ozone pollution,” ungkap Profesor Dr. Hong Liao dari NUIST yang menjadi co-corresponding author karya ilmiah ini (Science Daily, 2/1/2018). 

Oleh: Servas Pandur